Bertambah Lagi Maskapai Penerbangan yang PHK Akibat Didera Kerugian

26 Oktober 2020 10:40 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi maskapai peerbangan ANA All Nippon Airways milik Jepang Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi maskapai peerbangan ANA All Nippon Airways milik Jepang Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Dampak buruk pandemi COVID-19 ke industri maskapai penerbangan tak mengenal ampun. Satu per satu maskapai penerbangan kelas dunia melaporkan kerugian besar, hingga buntutnya harus melakukan PHK pekerja.
ADVERTISEMENT
Kali ini maskapai terkemuka asal Jepang, ANA yang melaporkan akan memangkas hingga 3.500 pekerjaan, setelah perusahaan pengelola maskapai itu, ANA Holdings Inc, membukukan kerugian miliaran dolar AS. Mengutip media Jepang, Yomiuri Shimbun, Reuters menyebutkan pemangkasan jumlah pekerjaan sebanyak itu dilakukan bertahap selama tiga tahun ke depan atau hingga 2023.
Langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi besar perusahaan, dalam menyiasati dampak pandemi COVID-19. Sebagian pekerja perusahaan, akan dialihkan ke perusahaan lain seperti Toyota Motor Corp dan industri otomotif lainnya.
Seorang juru bicara ANA mengkonfirmasi bahwa karyawan akan dialihkan, namun tak ada rincian lebih lanjut soal program tersebut.
Ilustrasi pesawat Foto: shutter stock
Maskapai penerbangan tersebut dilaporkan memiliki 43.500 bidang pekerjaan. Rencana restrukturisasi sebenarnya sudah dicanangkan sejak tahun lalu, termasuk untuk pemangkasan jumlah pekerja melalui PHK. Pada saat yang sama, ANA Holdings Inc juga menghentikan program rekrutmen.
ADVERTISEMENT
Sementara untuk menyehatkan struktur keuangannya, maskapai penerbangan itu juga tengah menawarkan 30 pesawat berbadan lebar, untuk dijual. Salah satu pertimbangannya karena mahalnya biaya operasi pesawat jenis itu.
Sepanjang 2020 ini, ANA diperkirakan membukukan kerugian 500 miliar yen atau sekitar Rp 70 triliun. Untuk menambal kerugian itu, ANA sudah mendapat pinjaman dana dari pihak ketiga. Selain itu, maskapai penerbangan ini juga ikut serta dalam kampanye pemerintah Jepang untuk mendongkrak pariwisata.
Secara terpisah, harian bisnis Jepang Nikkei melaporkan bahwa saingan lokal ANA, Japan Airlines, diperkirakan akan melaporkan kerugian operasional sekitar 85 miliar yen atau sekitar Rp 11,9 triliun untuk kuartal III 2020. Maskapai penerbangan JAL terperosok di zona merah karena lalu lintas penumpang pada penerbangan internasional anjlok 97 persen pada kuartal tersebut.
ADVERTISEMENT