Kumparan Logo

BPS: Impor Avtur Berkurang di 2018, Tapi Nilainya Naik

kumparanBISNISverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Pertamina di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuding harga avtur yang dijual Pertamina sebagai penyebab mahalnya tiket pesawat untuk penerbangan domestik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor avtur dengan kode HS27101981 terus meningkat. Sepanjang Januari-Desember 2018, impor avtur sebesar 1,22 juta ton atau senilai USD 861,2 juta.

Secara volume memang menunjukkan penurunan 20,7 persen dibandingkan periode yang sama 2017 sebesar 1,54 juta ton. Namun secara nilai menunjukkan kenaikan 4,3 persen, dari periode yang sama 2017 sebesar USD 825,3 juta.

Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono mengatakan, impor avtur secara nilai memang menunjukkan kenaikan, meskipun secara volume turun. Menurutnya, kenaikan nilai impor avtur ini juga berdampak ke penumpang.

"Nilai naik. Ketika posisi avtur naik, ke penumpang. Tren secara volume turun, harganya yang naik," ujar Anggoro di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (15/2).

embed from external kumparan

Namun demikian, Anggoro menegaskan kenaikan nilai impor avtur ini tak berkolerasi dengan pariwisata ataupun jumlah wisatawan yang datanya dirilis BPS setiap awal bulan.

"Tidak berkolerasi dengan pariwisata," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengakui beban bahan bakar avtur terhadap biaya operasional perusahaan cukup tinggi. Komponen tersebut menyumbang 38-48 persen terhadap seluruh beban biaya operasional Garuda Group.

Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, mengatakan komposisi beban avur antara maskapai full service Garuda Indonesia dengan maskapai Low Cost Carrier (LCC) Citilink, Sriwijaya, dan Nam Air berbeda.

"Yang pasti komposisi cost avtur untuk Citilink sebesar 40 persen, Sriwijaya dan NAM 48 persen dan Garuda Indonesia 38 persen," kata pria yang akrab disapa Ari Askhara, kepada kumparan.