Kumparan Logo

Direktur Pertamina Cerita Sulitnya Salurkan BBM ke Papua: 7 Kali Ganti Moda

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengisi BBM ke mobil tangki untuk didistribusikan ke sejumlah daerah pedalaman di Terminal BBM Nabire di Papua, Selasa (27/11/2018). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengisi BBM ke mobil tangki untuk didistribusikan ke sejumlah daerah pedalaman di Terminal BBM Nabire di Papua, Selasa (27/11/2018). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PT Pertamina (Persero) bertugas mendistribusikan BBM ke seluruh wilayah Indonesia. Namun demikian, butuh perjuangan untuk bisa menghadirkan BBM sebagai penunjang aktivitas di wilayah tertentu, seperti Papua.

Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina, Mulyono, menceritakan panjangnya rantai penyaluran BBM satu harga ke sejumlah wilayah, salah satunya Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua. Bahkan BBM yang hendak dipakai masyarakat harus pindah tujuh kali moda.

"Kalau di Oksibil itu 7 kali pak gantinya. Jadi BBM pertama diambil dari kilang Balikpapan. Itu diangkut dengan kapal besar ukuran 30 ton, dibongkar di transit terminal Wayame di Ambon," ujar Mulyono saat peresmian 17 penyalur BBM satu harga, Kamis (16/9).

kumparan post embed

"Terus dari Ambon diangkut lagi dengan kapal ukuran 3.500, dibawa lagi ke terminal BBM Merauke. Setelah dari Merauke itu diangkut mobil tangki dibawa sejauh 55 km ke Boven Digoel, pake mobil tangki," lanjutnya.

Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur (LSCI) PT Pertamina (Persero), Mulyono. Foto: Dok. Pertamina

Setelah mobil tangki diisikan ke drum, maka BBM akan lanjut dibawa oleh kapal sejauh 345 nautical mil ke Bandara Boven Digoel. Kemudian dari kapal dipindah lagi naik pesawat dari Bandara Boven Digoel ke Bandara Oksibil sejauh 91 nautical mil.

"Dari bandara oksibil itu dibawa truk sejauh 2 km baru sampai ke SPBU 8699514. Jadi 7 kali sampai ke sana," kata dia.

Harga distribusi BBM satu harga, kata da, juga jauh lebih mahal. Per liternya mencapai Rp 2.500.

"Tadi saya tanya biayanya berapa? Jadi normalnya biaya distribusi 300. Untuk BBM satu harga itu 2.500-an pak rata-rata. Jadi kira-kira 8 kalinya," tutupnya.

kumparan post embed