Ekonomi Lesu Karena Virus Corona, Utang Luar Negeri Bertambah Lagi

Di tengah kelesuan ekonomi sepanjang triwulan I 2020 akibat dampak virus corona, utang pemerintah bertambah lagi. Kelesuan ekonomi ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi sepanjang Januari-Maret 2020 yang hanya sebesar 2,97 persen.
Angka itu jauh di bawah perkiraan awal Bank Indonesia (BI) yang mencapai 4,4 persen. Bahkan jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2019, yang mencapai 5,07 persen.
Di tengah kondisi ekonomi yang melambat, utang luar negeri Indonesia masih tumbuh meski tipis, yaksi sebesar 0,53 persen. BI melaporkan Utang Luar Negeri Indonesia (ULN) selama kuartal I 2020 mencapai USD 389,2 miliar atau sekitar Rp 5.792 triliun (kurs Rp 14.880 per dolar AS).
Secara rinci, ULN tersebut terdiri dari ULN pemerintah dan bank sentral, serta ULN swasta. ULN pemerintah hingga akhir Maret 2020 mencapai USD 189,95 miliar, turun 3,58 persen. Sementara ULN bank sentral hanya USD 2,80 miliar, naik tipis 0,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu USD 2,78 miliar.
Sementara utang luar negeri swasta, termasuk BUMN, mencapai USD 205,49 miliar pada kuartal I 2020. Angka ini meningkat 4,46 persen dibandingkan kuartal I 2019 yang sebesar USD 196,77 miliar.
“Penurunan posisi ULN pemerintah tersebut antara lain dipengaruhi oleh arus modal keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pembayaran SBN yang telah jatuh tempo,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi, Jumat (15/5).
Utang untuk Penanganan Virus Corona
Sementara itu, untuk mendanai penanganan pandemi virus corona, pemerintah menambah utang dari Bank Dunia atau World Bank. Utang yang disetujui tersebut senilai USD 700 juta atau sekitar Rp 10,5 triliun (kurs Rp 15.000). Yakni untuk dana bantuan sosial atau Bansos dan sektor keuangan.
“Untuk Indonesia, kami mendukung pemerintah agar terus fokus pada perlindungan penduduk yang paling rentan dan berisiko tinggi, serta meningkatkan kesiapsiagaan darurat untuk sektor-sektor prioritas,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen dalam keterangannya, Sabtu (16/5).
Sebelumnya, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menyetujui untuk memberikan utang ke Indonesia senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 23,4 triliun (kurs Rp 15.600). Utang jumbo itu diberikan untuk penanganan virus corona di Indonesia.
Utang dari ADB tersebut merupakan skema khusus yang digunakan untuk countercyclical. Sehingga bentuknya bukan berupa pinjaman proyek seperti yang selama ini dilakukan.
"Pinjaman project dengan physical distancing enggak untuk dieksekusi, makanya program nonbudget support. Kami sampaikan, misalnya dengan ADB, skema khusus countercyclical facility. Kami bisa dapatkan USD 1.5 billion. Kapan dicairkan? Mudah-mudahan bulan Mei dan Juni," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman dalam video conference, Jumat (8/5).
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona
*****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
