Ekspor Lesu, Serapan Dalam Negeri Jadi Harapan Industri Sawit

Ekspor minyak kelapa sawit ke negara-negara utama tujuan ekspor Indonesi melesu. Hal ini akibat regulasi di negara tersebut, yang menghambat masuknya minyak kelapa sawit serta produk turunannya asal Indonesia.
Untuk mengatasi kelesuan tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berharap program B30 dapat meningkatkan serapan produk mereka, di pasar dalam negeri.
“Melihat dinamika pasar global yang terus bergejolak terutama sentimen regulasi dari negara tujuan ekspor, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengakselerasi implementasi B30 segera setelah uji coba kendaraan selesai dilakukan di Oktober nanti,” kata Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono, melalui pernyataan tertulis, Senin (15/7).
Demikian juga PLN, diharapkan dapat segera merealisasikan penggunaan minyak sawit untuk pembangkit listrik. Jika program penyerapan dalam negeri dapat berjalan maksimal (B30 sekitar 9 juta ton dan PLN sekitar 3 juta ton), diharapkan dapat mengurangi dampak tingginya stock.
Menurut Mukti, program B30 pada saat yang sama juga dapat mengurangi impor minyak bumi, sehingga menghemat devisa negara.
Percepatan program B30, menurutnya sangat diperlukan, terlebih saat ini stok minyak sawit Malaysia juga cukup tingginya. Sehingga industri sawit sangat mengharapkan peningkatan serapan dalam negeri, untuk mengimbangi kelesuan pasar ekspor.
Gapki mengungkapkan, penyerapan Biodiesel dalam negeri sepanjang April hanya mencapai 516 ribu ton atau tergerus 2 persen dibandingkan Maret lalu. Pada Mei ini, serapan menunjukkan pertumbuhan positif, yaitu mencapai 557 ribu ton atau terkerek 8 persen dibandingkan April.
Sementara itu harga sawit CPO CIF Rotterdam sepanjang Mei bergerak di kisaran USD 492,5 – USD 535 per metrik ton, dengan harga rata-rata USD 511,9 per metrik ton. Produksi minyak sawit pada April dan Mei menunjukkan tren kenaikan. Produksi April mencapai 4,64 juta ton dan Mei 4,73 juta ton.
Faktor cuaca yang masih baik telah mendorong kenaikan produksi. Sementara stock minyak kelapa sawit Indonesia mulai menumpuk. Sampai pada Mei, stock bertengger di 3,53 juta ton atau naik 11 persen dibandingkan dengan stock April sebesar 3,18 juta ton.
