Holding Ultra Mikro Dinilai Bisa Selamatkan UMKM yang Terpukul Pandemi

Pemerintah berencana membentuk holding ultra mikro untuk memperkuat sektor UMKM. Holding tersebut akan mengintegrasikan tiga perusahaan pelat merah, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani atau (PNM).
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, Misbakhun, mengatakan pihaknya mendukung rencana tersebut. Menurutnya, holding ultra mikro dinilai ampuh selamatkan UMKM dari tekanan akibat pandemi COVID-19 dan meningkatkan akses pembiayaan atau permodalan dari perbankan ke UMKM.
“Ekosistem holding ultra mikro bakal mendorong potensi pembiayaan lebih murah untuk 24 juta UMKM pada 2024,” ujar Misbakhun dalam webinar Akurat “Memulihkan Ekonomi dengan Menyelamatkan UMKM dari Krisis, Efektif?,” Jumat (19/3).
Dia melanjutkan, ekosistem dalam holding ultra mikro tersebut juga akan berdampak pada nasabah UMKM. Seperti penurunan suku bunga pinjaman hingga profiling nasabah yang lebih cepat.
Selain itu, pembentukan holding ultra mikro juga akan membantu penetrasi penyaluran modal, dengan potensi sistem IT yang lebih besar. Serta diharapkan dapat mendukung permodalan yang lebih besar bagi nasabah di masing-masing BUMN tersebut.
"Upaya pemerintah ini sangat luar biasa, keberpihakan Ultra Mikro ini untuk mendukung masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia (BI) Yunita Resmi Sari menjelaskan, alokasi kredit UMKM di perbankan saat ini hampir 20 persen, dengan kualitas kredit bermasalah yang tetap terjaga di bawah 5 persen, yakni 3,95 persen per Desember 2020.
Jika dilihat jumlah rekening, sebagian besar memang masih didominasi oleh kredit mikro sebesar 72,5 persen. Disusul kredit menengah 14,4 persen dan kecil 13,2 persen.
"Maka dengan itu, ini menjadi suatu harapan juga bahwa kelompok usaha mikro ini sudah semakin banyak masuk ke dalam mainstreamnya finansial institution atau perbankan," jelas Yunita.
Dari enam sektor utama pertumbuhan kredit UMKM, yang masih tumbuh positif adalah pertanian serta industri pengolahan. Masing-masing tumbuh 16,7 persen (yoy) dan 1,5 persen (yoy).
Sebelumnya, Direktur Operasional dan Jaringan PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo, Kadar Wisnuwarman, mengatakan bahwa penjaminan tersebut telah disalurkan ke 754.155 UMKM. Adapun realisasi imbal jasa penjaminan yang dialokasikan ke perusahaan penjaminan sebesar Rp 1,57 triliun.
“Sebagai gambaran, untuk distribusi kredit modal kerja PEN didominasi Pulau Jawa sebesar Rp 6,7 triliun dan Simatera Rp 2,24 triliun,” ujar Kadar.
Berdasarkan sektor usahanya, kredit modal kerja tersebut masih didominasi sektor perdagangan dan eceran sebesar Rp 1,85 triliun. Disusul industri pengolahan, serta pertanian dan kehutanan yang sekitar Rp 500 miliar.
