Indonesia, Malaysia, dan Thailand Sepakat Kurangi Ekspor Karet

Indonesia bersama Malaysia dan Thailand atau International Tripartite Rubber Council (ITRC), sepakat mengurangi ekspor karet sebanyak 200.000 hingga 300.000 Metrik Ton (MT) per tahun. Kebijakan ini diharapkan bisa meningkatkan harga komoditas karet.
Sepanjang tahun lalu hingga awal 2019, harga karet terus merosot. Bahkan harganya sempat menyentuh Rp 6.000 per kg. Padahal pada 2017 harga karet bisa mencapai Rp 30.000 per kg.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pengurangan ekspor karet hingga 300.000 MT tersebut akan dibagi pada ketiga negara. Namun perhitungan pastinya masih akan dibahas lebih lanjut.
"Ketiga negara sepakat mengurangi ekspor antara 200.000 hingga 300.000 MT setahun. Selanjutnya keputusannya senior office para pejabat akan membuat perhitungannya secara rinci," ujar Darmin di kantornya, Jakarta, Senin (25/2).
Darmin memperkirakan Indonesia akan mengurangi 38 persen ekspor karet. Sementara Thailand diprediksi akan mengurangi sebanyak 25 persen dan Malaysia 10 persen.
"Itu pembagiannya proporsional dengan produksinya masing-masing. Itu akan berlaku untuk tiga bulan," jelasnya.
Jika pengurangan ekspor tak ampuh mengerek harga karet, Darmin mengatakan ITRC sepakat menjalankan kebijakan jangka menengah, dengan memaksimalkan penggunaan karet dalam negeri melalui demand promotion scheme (DPD).
Mekanisme DPS dilakukan untuk meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan di masing-masing negara. Di Indonesia, utilisasi karet alam terdapat pada proyek-proyek infrastruktur.
Misalnya di beberapa proyek infrastruktur seperti jalan provinsi dan kabupaten yang tersebar di seluruh negeri, damper jalur rel, pemisah jalan, bantalan jembatan, dan vulkanisir ban.
"Kita baru mulai menggunakan karet alam sebagai aspal. Baru akan menggunakannya sebanyak mungkin. Menteri PU sebagai menteri sektor sedang menyelesaikan standar aspal yang dicampur karet, baik untuk di pusat, provinsi, maupun kabupaten," kata dia.
Selanjutnya kebijakan jangka panjang adalah peremajaan karet alam melalui Supply Management Scheme (SMS). Apalagi karet belum pernah dilakukan peremajaan ssitematik sejak dia ditanam 100 tahun lalu.
Dengan mengimplementasikan ketiga kebijakan tersebut secara konsisten, Darmin mengrapkan harga karet dapat kembali naik di pasaran.
"Peremajaan, pengurangan ekspor, ditambah promosi dan penggunaan karet alam dalam lingkup Kementerian PU maupun Kemenhub maupun dalam lingkup Kemenkes, kita berharap harganya naik lagi," tambahnya.
