JK Cerita Perjalanan 70 Tahun Bisnis Kalla Group, dari Bandara hingga Energi
·waktu baca 3 menit

Kalla Group yang didirikan sejak 1952 oleh Hadji Kalla di Sulawesi hingga kini masih bertahan dan eksis. Bisnis keluarga ini terus meluas, masuk ke berbagai sektor infrastruktur bandara di seluruh dunia hingga energi.
Dalam acara Gala Dinner 70 Tahun Kalla Group, mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla menceritkan perjalanan panjang bisnis keluar gini, khususnya kontribusi ke ekonomi wilayah timur. Kontribusi Kalla menjangkau berbagai sektor, mulai dari bidang perdagangan, transportasi, infrastruktur, properti, manufaktur, energi, hingga pendidikan.
Sejak 2018, roda kepemimpinan beralih ke generasi ketiga, yang kinn dipimpin oleh Solihin Jusuf Kalla sebagai Dirut. Dirunut sejarahnya, Kalla didirikan dipimpin oleh Hadji Kalla (1952-1967). Pada 1967 kepemimpinan perusahaan beralih ke Jusuf Kalla hingga 1999. Kemudian pada 1999 perusahaan dipimpin oleh Fatimah Kalla hingga 2018.
Memasuki usia 70 tahun, Kalla Group mengembangkan lini bisnis pada pencapaian target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. Pengembangan lini bisnis tersebut melalui dua anak usahanya, yaitu PT Poso Energy dan PT Malea Energy.
Dengan diversifikasi bisnis Kalla Group, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berharap masyarakat tidak perlu khawatir dengan ekonomi. Ia menilai perjalanan bisnis selama 70 tahun bukan pekerjaan yang mudah.
“Sebelum pemerintah bicara tentang Energi Baru dan Terbarukan, Hadji Kalla sudah bekerja 12 tahun yang lalu bagaimana melaksanakan EBT. Sebelum pemerintah bilang, kita sudah memikirkan ke depan seperti ini,” ujar JK saat ditemui di Hotel Kempinski Jakarta, Jumat (28/10).
Kalla Group sedang mengembangkan beberapa PLTA di Sulawesi dan Sumatera dengan total kapasitas 1.230 MW. Proyek-proyek tersebut antara lain PLTA Poso 3 dan Poso 4, PLTA Tumbuan Mamuju Atas, PLTA Tumbuan Mamuju Bawah, serta PLTA Kerinci Merangin.
PLTA Poso telah menyumbang sekitar 10,69 persen dari total bauran energi baru dan terbarukan ke sistem kelistrikan Sulawesi Selatan. PLTA Malea telah beroperasi sejak tahun 2021 dengan kapasitas 90 MW. Sehingga, pengoperasian PLTA Poso dan PLTA Malea telah meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan di Pulau Sulawesi hingga 38,8 persen.
JK Cerita Garbarata Kuasai Sederet Bandara di Dunia
JK juga menceritakan salah satu anak usaha Kalla Group, yatu PT Bukaka Teknik Utama yang berusia 44 tahun ini mengalami kemajuan. Salah satu produknya adalah garbarata atau aviobridge.
“Kebanggaan kami adalah, ke manapun bapak-bapak pergi di Indonesia ini selalu melewati jembatan Bukaka. Di Singapura 50 persen itu garbarata buatan Bukaka, di Bangkok, dan Jepang justru penjualan banyak,” katanya dalam acara Gala Dinner.
JK melanjutkan, Bukaka juga mengembangkan ekspansi bisnis garbarata di India. Hampir semua garbarata bandara baru di India terbuat di Indonesia. Tak hanya India, Bukaka juga melebarkan bisnisnya di Myanmar, Laos, dan Timor Leste.
Persoalan yang pernah dihadapi Jusuf Kalla adalah mencari tahu cara memasang garbarata di Asia. Alhasil, pihaknya mengirim orang ke Bangkok untuk mengetahui bagaimana garbarata menguasai pasar mancanegara.
"Di negara Asia ini, yang kami takut gagal ada di Timur Tengah. Walaupun kita sempat 'assalamualaikum kita sesama negara Islam', tetap tak ngaruh. (Mereka) lebih suka buatan Eropa," tandasnya.
