Kumparan Logo

Kementerian BUMN: Holding Ultra Mikro Lindungi UMKM dari Jerat Rentenir

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah satu UMKM nasabah KUR BRI. KUR BRI telah disalurkan hingga hampir 80 persen dari target tahun 2019 ini Foto: Dok. BRI
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu UMKM nasabah KUR BRI. KUR BRI telah disalurkan hingga hampir 80 persen dari target tahun 2019 ini Foto: Dok. BRI

Pemerintah telah resmi membentuk holding BUMN Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai induk, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

Adapun holding ini nantinya akan berperan untuk memberikan akses pendanaan bagi UMKM khususnya yang selama ini tidak bisa terjangkau oleh lembaga keuangan formal. Tak hanya itu, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN Loto Srinaita Ginting mengatakan, pembentukan holding ini juga ditujukan untuk menyelamatkan 5 juta UMKM dari jerat rentenir.

“Kita juga bisa melihat bahwa UMi ini bisa menjangkau dari UMKM yang belum terlayani lembaga keuangan formal yang jumlahnya sekitar 18 juta. Selain itu juga bagi UMKM yang selama ini mengakses dari rentenir dan kerabat itu juga terbuka peluangnya terhadap akses Holding Ultra Mikro ini,” ujar Loto dalam Webinar Holding Ultra Mikro Upaya Pacu Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (20/8).

kumparan post embed
Loto Srinaita Ginting di Kementerian BUMN, Jakarta. Foto: Moh Fajri/kumparan

Loto merinci, berdasarkan data Kementerian BUMN, ada sekitar 57 juta usaha UMi yang tersebar di Indonesia. Dari jumlah tersebut hanya 12 juta usaha UMi yang sudah mendapatkan pendanaan yang cukup. Sedangkan 45 juta pelaku usaha UMi lainnya masih membutuhkan dana tambahan.

Dari sebanyak 45 juta pelaku usaha UMi tersebut sebanyak 15 juta di antaranya sudah terlayani oleh beberapa lembaga keuangan seperti bank, gadai, grup lending, BPR dan fintech. Sedangkan 30 juta pelaku usaha lainnya bisa dikategorikan belum terlayani oleh lembaga pembiayaan apa pun.

Dari 30 juta tersebut, sebanyak 7 juta pelaku usaha mendapatkan tambahan pendanaan dari hasil meminjam uang pada kerabat, sedangkan 5 juta di antaranya pinjam dari rentenir. Sementara 18 juta pelaku usaha UMi sisanya benar-benar tidak mendapatkan akses modal dari lembaga mana pun.

Menurut Loto, 18 juta pelaku usaha UMi inilah yang sedianya menjadi fokus utama Holding Ultra Mikro. Namun ke depannya tidak menutup kemungkinan bahwa 12 juta pelaku usaha yang selama ini meminjam dana ke kerabat dan rentenir juga bisa masuk dalam target Holding UMi.

“Di antaranya ada sekitar 12 juta yang ditolong oleh kerabat dan mendapat akses dari rentenir. Bagi yang mengakses dari rentenir dan kerabat itu juga terbuka peluangnya terhadap akses holding ultra mikro ini,” ujarnya.

Menurut Loto, saat ini banyak lembaga keuangan non formal termasuk rentenir yang tidak jarang menggunakan cara-cara yang tidak manusiawi dalam memberikan pembiayaan bagi UMKM. Sehingga Loto berharap, dengan adanya Holding UMi ini, para UMKM bisa mengakses pembiayaan secara lebih aman dan terlindungi.

“Lembaga non formal itu mereka lebih enggak memanusiakan gitu ya. Sehingga kita harapkan melalui mengakses lembaga keuangan formal ini, UMKM lebih terlindungi,” tandasnya.

kumparan post embed