Melorot di Juni-Juli, Indeks Manufaktur RI Naik Lagi di Agustus
·waktu baca 2 menit

Indeks belanja manufaktur Indonesia yang diindikasikan dalam Purchasing Managers' Index (PMI) di bulan Agustus 2021, naik lagi ke posisi 43,7. Sebelumnya pada dua bulan terakhir di Juni dan Juli, PMI turun ditengarai sebagai dampak pengetatan aktivitas masyarakat, yakni PPKM Darurat.
"Dengan gelombang kedua COVID-19 yang telah mencapai puncak, penurunan produksi dan permintaan produk manufaktur perlahan mereda. Yang terendah pada Juli dan kini mulai mengalami titik balik," demikian dinyatakan IHS Markit di laman resmi mereka, Rabu (1/9).
IHS Markit merupakan perusahaan terkemuka penyedia data dan analitik ekonomi bisnis yang terdaftar di bursa saham New York, Amerika Serikat (AS), dengan kode INFO. Data-data IHS Markit digunakan pelaku bisnis, industri keuangan, serta pemerintah dalam mengambil keputusan strategis di bidang ekonomi bisnis.
Purchasing Managers' Index atau PMI merupakan indikator ekonomi yang dibuat melalui survei terhadap sejumlah purchasing manager, di berbagai sektor bisnis. Indeks yang paling diperhatikan investor dan analis adalah untuk sektor manufaktur, yang disebut sebagai PMI Manufacturing.
Setelah mencatatkan rekor PMI manufaktur tertinggi di Mei 2021 sebesar 55,3, indikator tersebut menurun di Juni 2021 jadi 53,5. Bulan berikutnya yakni pada Juli 2021, bahkan anjlok ke angka 40,1.
Dengan kenaikan di Agustus 2021, perusahaan manufaktur disebut tetap waspada dengan pembelian mesin produksi dan bahan baku, serta belanja tenaga kerja. Pasalnya di Agustus lalu masih terdapat hambatan produksi yang membuat penumpukan pekerjaan tertahan.
Menanggapi hasil survei terbaru itu, Direktur Asosiasi Ekonomi di IHS Markit, Jingyi Pan mengatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia di Agustus 2021 itu masih mencerminkan dampak gelombang kedua COVID-19.
"Namun kabar baiknya, kondisi itu sudah membaik dari bulan Juli sejalan dengan menurunnya kasus COVID-19 di Indonesia. Hal ini terlihat dari berkurangnya tingkat penurunan permintaan dan output dibandingkan Juli," kata Jingyi.
