Kumparan Logo

Menguak Fakta di Balik Penghentian Sementara Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

kumparanBISNISverified-green

comment
16
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan PT KCIC. Foto: Dok. PT KCIC
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dilakukan PT KCIC. Foto: Dok. PT KCIC

Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara proyek kereta cepat Jakarta-Bandung selama dua minggu, terhitung mulai Senin (2/3).

Salah satu alasan disetopnya proyek tersebut karena bersinggungan dengan pembangunan proyek lain sehingga menyebabkan banjir.

Untuk lebih lengkapnya, berikut kumparan rangkum fakta-fakta mengenai penghentian sementara kereta cepat Jakarta-Bandung, seperti dikutip Minggu (1/3):

Biang Kerok Banjir Jakarta-Cikampek

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku telah mendengar keputusan tersebut. Menurutnya, salah satu alasan proyek dihentikan karena bersinggungan dengan pembangunan proyek lain sehingga menyebabkan banjir.

Kendaraan melintasi genangan air sementara ruas lainnya tidak dapat dilintasi akibat banjir menggenangi ruas tol Jakarta-Cikampek di Jatibening, Bekasi. Foto: ANTARA FOTO/Saptono

"Saya pikir itu hak Kementerian PUPR untuk berikan sanksi karena kita memang targetkan proyek yang baik tapi disiplin. Jadi saling hormati satu kegiatan dengan kegiatan lain itu penting," kata dia di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Sabtu (29/2)

Budi juga bakal memanggil pengelola proyek ini, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) pada pekan depan. Dia bakal meminta penjelasan dari konsorsium proyek ini, yaitu beberapa BUMN dan China Railways sekaligus mengevaluasinya. Budi mengaku belum tahu apakah penghentian sementara ini bakal bikin proyek molor.

"Saya belum evaluasi lagi. Saya akan evaluasi setelah itu. Tapi saya memahami apa yang dilakukan Pak Basuki (Menteri PUPR). Saya akan panggil 1-2 hari KCIC buat bahas itu semua," ujar Budi Karya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono tidak menampik proyek proyek kereta cepat memang menjadi penyebab banjir, hususnya di pinggir-pinggir tol.

Basuki mengaku, pihaknya langsung menelepon Direktur Utama PT KCIC Chandra Dwiputra terkait banjir yang terjadi khususnya di tol Japek.

“Kalau itu yang di tol saja (banjir) tadi yang karena KCIC. Saya sudah telepon direkturnya, saya mau telepon orang China-nya, saya mau bongkar semua itu (drainase),” kata Basuki di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

6 Kesalahan KCIC

Dalam surat yang diperoleh kumparan, disebutkan enam kesalahan yang dibuat KCIC dalam mengerjakan proyek ini. Surat tersebut ditandatangani oleh Plt Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR sekaligus Ketua Komite Keselamatan Konstruksi, Danis H Sumadilaga.

Pertama, pembangunan proyek dianggap kurang memperhatikan kelancaran akses keluar-masuk jalan tol. Kedua, pembangunan proyek tersebut kurang memperhatikan manajemen proyek. Terjadi pembiaran penumpukan material pada bahu jalan sehingga menggangu fungsi drainase, kebersihan jalan, dan keselamatan pengguna jalan.

Surat Penghentian Proyek Kereta Cepat. Foto: Dok. Istimewa

"Ketiga, pembangunan proyek tersebut menimbulkan genangan air pada Tol Jakarta-Cikampek yang menyebabkan kemacetan luar biasa pada ruas jalan tol dan menggangu kelancaran logistik," demikian dikutip kumparan.

Empat, pengelolaan sistem drainase yang buruk dan keterlambatannya pembangunan saluran drainase sesuai kapasitas yang telah terputus oleh kegiatan proyek menyebabkan banjir di jalan tol.

Kelima, adanya pembangunan pilar Light Rapid Transit (LRT) yang dikerjakan oleh PT KCIC di kilometer 3 + 800 tanpa izin sehingga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Keenam, pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) keselamatan lingkungan, dan keselamatan publik belum memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Anggaran Rp 80 T

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mencatat, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ‎menelan anggaran Rp 40 triliun hingga akhir 2019. Adapun pengerjaan proyek kereta cepat itu dimulai sejak tahun 2018 lalu.

Direktur Utama Wijaya Karya, Tumiyana, menyampaikan bahwa proyek kereta cepat itu menelan total anggaran Rp 80 triliun.

"Kalau bisa sampai selesai 50 persen, berarti spending-nya sampai dengan akhir 2019 besarannya Rp 40 triliun," bebernya dalam sebuah diskusi di Kementerian BUMN, Jakarta.

Terimbas Virus Corona

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chandra Dwiputra mengakui wabah virus corona berdampak terhadap pembangunan kontruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Sebab banyak pekerja asal China yang pulang kampung saat libur Imlek namun bertepatan dengan mewabahnya virus corona. Akibatnya mereka pun tak bisa kembali ke Indonesia.

“Ini pengaruh corona (karena) banyak tenaga kerja yang pulang (ke China). Ternyata (pekerja yang pulang ke China) level enggak hanya bawah, tapi juga di atasnya, manajemennya,” ungkap Chandra di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta.

Jokowi meninjau proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/12/2019). Foto: Kevin S. Kurnianto

Ada sekitar 300 pekerja asal China yang terlibat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tertahan di negaranya. Semua pekerja itu berada di level manajer hingga konsultan.

Padahal posisi-posisi tersebut sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Akibatnya beberapa pekerjaan jadi tersendat karena para manager tidak ada di tempat.

kumparan post embed

Para pekerja tersebut tak bisa datang ke Indonesia lantaran penerbangan dari dan ke China dilarang oleh pemerintah Indonesia pada saat ini. Hal ini tak lepas dari upaya untuk menekan penyebaran virus corona yang berasal dari Wuhan, China.

"Kami mesti tunggu keputusan pemerintah, kan penerbangan China juga ditutup. Bagaimana, kami mau datangkan (pekerja asal China) kalau ditutup (penerbangannya)," ujarnya

Ditargetkan Beroperasi 2021

Perkembangan keta cepat yang akan memiliki rute sepanjang 142,3 kilometer (km) itu ditargetkan beroperasi di tahun depan.

Saat ini, Budi Karya bilang, progres pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sudah mencapai 44 persen, sedangkan untuk pembebasan lahan sendiri sudah mencapai 99,96 persen. Budi Karya menyebut masih ada sebidang tanah di daerah Bandung yang sedang dalam tahap konsinyasi.

Jokowi meninjau proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan LRT Jabodebek di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/12/2019). Foto: Kevin S. Kurnianto

“Kita tetap fokus menyelesaikan ini, 2021 akhir sudah beroperasi. Jadi saya tadi bicara dengan tim PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tidak masalah, kita bisa optimalkan," kata Budi Karya.

PT KCIC tengah mengerjakan sebanyak 13 tunnel atau terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Nantinya Kereta Cepat Jakarta Bandung akan memiliki panjang mencapai 142,3 km dengan empat stasiun pemberhentian, yakni Stasiun Halim, Karawang, Walini, hingga Tegalluar, Bandung.

Dari jalur tersebut sebanyak 80 km dibangun layang atau elevated. Sedangkan sisa jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung digarap di atas tanah yang di antaranya melalui tunnel atau terowongan yang menembus bukit.

Dengan keberadaan kereta cepat ini, waktu tempuh Jakarta–Bandung akan lebih cepat yaitu sekitar 46 menit dengan kecepatan sekitar 350 km/jam.

facebook video embed
Sejumlah petugas mengamati replika Kereta Cepat di Casting Yard 1 KM 26 Tol Jakarta-Cikampek, Cikarang Utama, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (30/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah