Kumparan Logo

Niat Baik Pengusaha Garmen Bikin APD, Terganjal Spekulan Kain yang Mainkan Harga

kumparanBISNISverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja menyelesaikan baju hazmat atau alat perlindungan diri (APD) tenaga medis di Pusat Industri Kecil, Penggilingan, Jakarta, Kamis (26/3/2020). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja menyelesaikan baju hazmat atau alat perlindungan diri (APD) tenaga medis di Pusat Industri Kecil, Penggilingan, Jakarta, Kamis (26/3/2020). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Meningkatkan kasus virus corona COVID-19 membutuhkan penanganan serius. Hal ini membuat alat pengaman diri atau APD untuk para tenaga medis, seperti baju hazmat (hazardous materials) dan masker, menjadi barang langka.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah usaha garmen juga sedang kelimpungan, karena toko dan departement store yang selama ini menjual produk mereka banyak yang tutup. Usaha garmen pun terpaksa menghentikan produksi.

Untuk menghindari PHK terhadap pekerjanya, usaha garmen di Bandung mengalihkan usaha dengan memproduksi APD yang sedang banyak dibutuhkan. Sayangnya, niat baik untuk mencegah PHK dan mengatasi kelangkaan APD ini, terganjal oleh spekulan yang membuat kain bahan baku baju hazmat, harganya melonjak.

"Iya sekarang enggak menentu. Kadang-kadang naiknya enggak masuk akal. Kita kan pabrik pegang PO (Purchasing Order) yang harganya sudah dipatok. Kalau tiba-tiba harga kain melonjak, kita kan enggak bisa naikin harga ke pemesan seenaknya," kata Nur Hasanah, seorang pemilik usaha garmen di kawasan Bandung Timur, kepada kumparan, Jumat (10/4).

Baju hazmat produksi perusahaan garmen asal Bandung. Foto: Dok. Istimewa

Usaha garmen milik Nur selama ini memproduksi berbagai jenis kaus dan tshirt. Tapi sejak virus corona melanda, pesanan seret. Produk yang sudah di tangan penjual pun, banyak yang belum terbayar. Demi mencegah PHK pekerjanya, ibu dua anak ini pun mengalihkan usaha jadi produksi baju hazmat.

Produk baju hazmat-nya antara lain dipasok ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Selama ini para pengusaha garmen menggunakan kain jenis spunbond sebagai bahan pembuatan APD berupa baju hazmat. Jenis kain itu menurut Nur, cukup memenuhi standar. Antara lain tidak tembus air, tetapi juga tak terlalu membuat gerah pemakainya.

Harga kain spunbond sebelumnya Rp 6.000 per meter. Tapi sejak beberapa hari terakhir harganya melonjak jadi Rp 16.000 per meter.

Bukti lonjakan harga kain spunbond yang menjadi bahan pembuat APD baju hazmat. Foto: Dok. Istimewa

"Jadi kita dimainin sama spekulan. Pesan spunbond yang ketebalan 75 gsm, ternyata yang dikirim yang 60 gsm. Lebih tipis. Daripada rugi, akhirnya kita buat topi untuk petugas medis," keluhnya.

Keluhan yang sama soal permainan harga kain bahan baku hazmat, dibenarkan Adrian Malli. Pengusaha garmen asal Bandung yang biasanya memproduksi pakaian batik ini, bahkan mencium ada permainan antara pabrik yang memproduksi spunbond dengan para calo.

"Harga dari pabrik masih normal Rp 5.000-Rp 6.000 per meter. Tapi mereka baru bisa penuhi pesanan kita Juni. Ya enggak mungkin. Tapi sama orang pabrik kita ditawari mengontak pihak lain yang punya barang. Cuma harganya mahal banget," tutur Adrian pada kumparan.

kumparan post embed

Dengan situasi seperti ini, Adrian pun terpaksa menghentikan produksi APD. Kecuali jika pemesan menyiapkan bahan sendiri. "Jadi kita cuma dibayar ongkos jahit saja," lanjutnya.

Dia berharap pemerintah turun tangan mengatasi masalah ini. Apalagi sebagian pesanan APD yang dikerjakan Adrian, merupakan barang untuk donasi bukan dijual komersial.

"Supaya tak ada yang mengambil keuntungan secara tidak wajar. Jadi harus ada tindakan pemerintah ini. Padahal kondisi semua usaha sedang kesulitan," kata Adrian.

*****

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!