Kumparan Logo

Nilai Ekspor Mei 2021 USD 16,6 Miliar, Turun 10,25 Persen Secara Bulanan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total nilai ekspor Indonesia USD 16,60 miliar atau turun 10,25 persen dibandingkan April 2021 (month to month/mtm) USD 18,48 miliar.

Meski begitu, jika dibandingkan terhadap Mei 2021 (year on year/yoy), nilai ekspor Mei 2021 naik 58,76 persen dengan rincian ekspor migas 66,9 persen dan non migas 58,30 persen.

"Perkembangan ekspor dari bulan ke bulan, pada Mei 2021 USD 16,6 miliar, turun 10,52 persen dibandingkan April 2021. Tapi nilai nominal ekspor dan impor selalu mengalami penurunan sesudah Ramadhan dan Idul Fitri, jadi hal yang biasa," kata dia dalam konferensi pers BPS secara virtual, Selasa (15/6).

Menurutnya, yang menyebabkan ekspor Indonesia turun dalam sebulan lalu, berasal dari penurunan di sektor pertanian dan industri pengolahan. Ekspor pertanian turun 30,06 persen, paling besar penurunan pada obat-obatan, aromatic, dan rempah-rempah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Ekspor kopi, sarang burung, cengkeh, buah-buahan juga turun. Namun, jika dibandingkan ekspor secara yoy, untuk tanaman obat, aromatic, hingga biji kakao mengalami kenaikan.

Industri pengolahan juga turun 14,02 persen secara mtm. Ada beberapa produk yang ekspornya turun seperti besi baja, sepatu olahraga, rubber, hingga peralatan listrik. Sementara secara yoy, ekspornya naik tinggi, 54,2 persen karena adanya kenaikan dari minyak kelapa sawit dan besi baja.

Sedangkan dari sektor pertambangan justru mengalami kenaikan signifikan baik secara mtm dan yoy. Suhariyanto menyebut, ekspor pertambangan secara mtm naik 14,29 persen, ditopang dari batu bara, bijih tembaga, bijih besi, hingga batu kerikil.

Pun dengan ekspor pertambangan secara yoy, naik 95,37 persen. Kenaikan ekspor pertambangan ini luar biasa karena ada kenaikan permintaan dan kenaikan harga batu bara secara yoy 103,92 persen.

"Untuk ekspor nonmigas tidak berubah, menyumbang 94,36 persen. Sedangkan dari tahun ke tahun sumbangan dari ekspor migas terus turun dan sekarang tinggal 5,6 persen," katanya.

Sementara berdasarkan golongannya, menurut dia, produk ekspor yang sangat signifikan naiknya adalah bahan bakar mineral bertambah USD 281,9 juta, utamanya ke China, India, dan Filipina.

kumparan post embed

Sedangkan penurunan ekspor Indonesia, terjadi untuk kendaraan dan lainnya minus USD 272,0 juta. Golongan lainnya adalah karet dan barang dari karet.

Berdasarkan negara tujuannya, ekspor nonmigas per Mei 2021, naik tinggi ke Spanyol USD 89,1 juta, Australia USD 80,7 juta, Pakistan USD 71,6 juta, Italia USD 67,5 juta, dan Turki USD 48 juta.

Sebaliknya, ekspor Indonesia turun tajam seperti ke China turun USD 460,1 juta, Amerika Serikat turun USD 329 juta, India USD 290 juta, Jepang USD 227 juta, dan Korea Selatan USD 176 juta.

"Kita tahu India mengalami masalah pandemi COVID-19 dan PMI India juga cukup tajam. Kalau per April 2021 PMI (Purchasing Managers Index) India masih 55,5, bulan ini drop menjadi 50,8. Tentunya perkembangan PMI India ini akan mempengaruhi ekspor Indonesia ke sana," katanya.