Orang RI Kian Malas Menikah? Faktor Ekonomi hingga Fokus ke Karier Jadi Sebab
·waktu baca 4 menit

Perencana keuangan membeberkan penyebab menurunnya angka pernikahan di Indonesia, berkaitan dengan faktor ekonomi, sosial budaya, hingga pendidikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan per tahunnya sempat mencapai rekor tertinggi sebanyak 2,21 juta pasangan, pada 2013 lalu.
Tapi di tahun-tahun selanjutnya kemudian bergerak fluktuatif, lantas konsisten turun lima tahun berturut-turut sejak 2019, hingga di bawah angka 1,6 juta pasangan pada 2023.
“Jadi berdasarkan data ini dapat disimpulkan bahwa yang menunda pernikahan semakin banyak,” kata Perencana keuangan Mike Rini menuturkan kepada kumparan, Jumat (8/3).
Berikut faktor penyebab menurunnya angka pernikahan di Indonesia berdasarkan analisis perencana keuangan:
Faktor Ekonomi
Mike Rini menilai faktor ekonomi bisa menjadi penyebab mengapa generasi muda untuk menunda pernikahan sehingga menyebabkan angka pernikahan menurun. Salah satunya, berkaitan dengan tingginya biaya pernikahan.
“Jika kita amati pembicaraan di media termasuk media sosial seringkali diangkat mengenai topik tingginya biaya pernikahan baik dalam hal pesta pernikahan maupun kebutuhan pasca-pernikahan, ini memperlihatkan keresahan masyarakat yang dapat menjadi hambatan bagi pasangan yang ingin menikah,” tutur Rini.
Senada dengan Rini, perencana keuangan yang lain, Andy Nugroho juga menyebut faktor ekonomi berkontribusi dalam penurunan angka pernikahan. Menurut Andy, kaum muda kini lebih melek finansial, sehingga berpikir lebih panjang untuk memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan.
“Semakin baiknya literasi finansial masyarakat khususnya di kalangan gen Z dan milenial, mereka sadar bahwa dana yang dibutuhkan untuk menikah itu tidak sekadar hanya untuk biaya pernikahan saja, namun juga untuk berumah tangga sampai membiayai sekolah anaknya kelak,” tutur Andy kepada kumparan pada Jumat (8/3).
Faktor mental
Selain faktor ekonomi, Andy melihat, kaum muda kini lebih memperhatikan kesehatan mental sebelum menikah. Sehingga akan mempersiapkan mental terlebih dahulu.
“Mental yang belum siap, karena untuk membangun rumah tangga tentu diperlukan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai macam situasi dan kondisinya,” tambah Andy.
Faktor prioritas hidup
Andy dan Mike Rini melihat, prioritas hidup mempengaruhi penurunan angka pernikahan di Tanah Air. “Memilih untuk melanjutkan sekolah dahulu atau meniti karier lebih dahulu, karena mungkin mereka beranggapan akan lebih gampang untuk mengejar cita-citanya lebih dahulu ketika mereka masih single,” kata Andy.
“Kemandirian wanita, dan prioritas hidup dapat mempengaruhi minat individu untuk menikah. Selain itu, peningkatan akses pendidikan dan peluang karier bagi perempuan dan laki-laki juga dapat menjadi faktor penentu. Jadi mereka lebih fokus ke membangun karier daripada cepat menikah,” kata Rini.
Faktor pola pikir yang berubah
Baik Andy maupun Mike Rini sepakat, memandang saat ini telah terjadi perubahan pola pikir di masyarakat yang berkaitan dengan pernikahan sebagai komitmen jangka panjang. Rini melihat perubahan pola pikir ini meliputi praktik peran gender dalam rumah tangga juga turut mempengaruhi keputusan seseorang untuk menikah.
“Hal ini termasuk harapan terhadap keterlibatan dalam pekerjaan rumah tangga, pembagian tugas, dan tanggung jawab finansial. Orang lebih selektif memilih pasangan hidupnya, dan ini tidak mudah perlu waktu untuk mencari kecocokan,” imbuh Rini.
Sementara, Andy melihat perubahan pola pikir ini membuat adanya pemahaman yang lebih terbuka baik anak maupun orang tua terhadap kebutuhan individu untuk menikah.
“Anak muda dan orang tua sekarang cenderung berpikir lebih terbuka sehingga merasa pernikahan bukanlah sesuatu hal yang harus dan wajib segera dilakukan, bahkan merasa tidak masalah apabila mereka tidak melakukannya,” jelas Andy.
Faktor sosial
Andy dan Mike Rini juga kompak memandang semakin banyak kasus perceraian di lingkungan sekitar ataupun di media massa, dapat mempengaruhi pandangan anak muda terhadap pernikahan. Ketakutan atau trauma terhadap pengalaman negatif dari lingkungan sekitar dapat membuat seseorang lebih berhati-hati dalam memutuskan untuk menikah.
“Faktor trauma ini meliputi KDRT, perselingkuhan, perceraian yang dialami oleh orang lain, yang membuat orang enggan untuk menikah cepat – cepat karena takut mengalaminya juga,” pungkas Andy.
Apakah fenomena menurunnya angka pernikahan di RI sama dengan di China?
Andy dan Mike Rini menyebut meskipun sama-sama terjadi penurunan angka pernikahan, namun kasus di Tanah Air dengan di China memiliki penyebab yang tidak persis sama.
Andy melihat penurunan angka pernikahan di China disebabkan oleh kurangnya penduduk yang berusia siap menikah, imbas dari kebijakan satu keluarga satu anak pada 1979 lalu.
Meskipun telah direvisi menjadi maksimal dua anak satu keluarga, pada tahun 2015, namun Mike memandang, dampak kebijakan pembatasan anak ini terjadi perubahan struktur keluarga dan sikap terhadap pernikahan. “Kebijakan ini telah menciptakan ketidakseimbangan gender yang menyebabkan sulitnya menemukan pasangan hidup, terutama di daerah pedesaan. pasangan cenderung lebih memilih anak lelaki daripada perempuan,” jelas Mike Rini.
Sementara di Indonesia, Mike melihat meskipun tidak ada kebijakan satu anak, namun masih terdapat tekanan sosial untuk menikah dan memiliki keturunan.
Selain itu, menurut Mike, faktor urbanisasi, modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat di China juga berpengaruh, banyak anak muda yang memilih fokus pada karier dan pendidikan daripada menikah di usia muda. Hal ini juga terjadi di Indonesia.
Namun, nilai-nilai tradisional tentang pernikahan masih cukup kuat di masyarakat. “Mungkin ini karena di Indonesia, norma budaya dan agama masih memegang peranan penting dalam keputusan untuk menikah,” pungkas Mike.
