Kumparan Logo

Pemerintah Masih Cari Skema Terbaik Bereskan Utang Whoosh

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mensesneg Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mensesneg Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan

Pemerintah belum memutuskan skema apa yang akan digunakan untuk penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Ketika ditanya apakah utang Whoosh akan menjadi beban negara, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan saat ini pemerintah masih menghitungnya. Utang Whoosh juga sudah dibahas dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Negara.

“Sebagaimana yang pernah saya sampaikan juga kemarin di dalam ratas itu bagian dari salah satu yang dibicarakan (utang Whoosh). Pemerintah sedang mencari skema yang terbaik, termasuk perhitungan-perhitungan angkanya, termasuk kemungkinan-kemungkinan untuk kita bisa meminta kelonggaran dari sisi waktu pembayaran,” kata Prasetyo di ANTARA Heritage, Jakarta Pusat, Kamis (30/10)

Nantinya, pembahasan mengenai penyelesaian utang tersebut juga akan dilakukan secara bersama-sama baik oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi hingga CEO Danantara Rosan Roeslani.

Kereta cepat Whoosh melintas di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (31/7/2025). Foto: Abdan Syakura/ANTARA FOTO

“Sebagaimana tadi yang saya sampaikan, menghitung lagi detailnya, kemudian opsi-opsi untuk meminta misalnya perpanjangan masa pinjaman, itu bagian nanti dari skenario-skenario skema yang terbaik,” tegas Prasetyo.

Di tengah persoalan utang tersebut, Prasetyo memastikan pemerintah akan terus berupaya memperbaiki semua layanan transportasi publik.

Total biaya proyek Whoosh mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120 triliun (kurs Rp 16.570 per dolar AS), termasuk untuk membayar pembengkakan biaya proyek (cost overrun) USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 19,8 triliun. Danantara akan mengirimkan tim khusus ke China untuk negosiasi utang tersebut.