Profil PT DNR, Perusahaan yang Terseret Kasus Penimbunan Bansos bersama JNE
ยทwaktu baca 3 menit

Warga Depok digegerkan dengan penimbunan ratusan karung beras paket bantuan sosial (bansos) dari Presiden Jokowi, di sebuah lahan parkir. Paket itu dikubur oleh perusahaan ekspedisi JNE.
JNE mengubur beras paket Banpres itu pada 5 November 2021. Total, ada 3.675 kilogram beras yang dikubur atau setara 289 karung yang semula diperuntukan bagi 139 keluarga penerima manfaat.
Kasus ini tengah diselidiki kepolisian. Tak hanya JNE, nama perusahaan lain muncul yaitu Perum Bulog dan PT DNR. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan menerangkan, JNE menjalin kerja sama dengan PT DNR untuk menyalurkan paket bantuan sosial.
"JNE kerja sama dengan vendor PT DNR. DNR ini selaku pemegang distribusi beras bansos dari pemerintah kepada masyarakat yang berhak menerimanya untuk wilayah Depok pada 2020," ujar Zulpan kepada wartawan, Senin (1/8).
Zulpan menjelaskan, PT DNR kemudian menjalin kerja sama dengan JNE untuk menyalurkan bansos di wilayah Depok. Total dari hasil kesepakatan, JNE menyalurkan paket bansos sebanyak ratusan ribu ton.
Profil PT DNR
PT DNR merupakan singkatan dari PT Dos Ni Roha yang didirikan pada 1963, sebagai perusahaan farmasi kecil. Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (3/8), 99 persen saham DNR dimiliki oleh PT Dosni Roha Indonesia Tbk dengan kode emiten ZBRA. Kode tersebut diambil dari nama awal perusahaan yaitu PT Zebra yang didirikan pada 1987.
Pada 11 Oktober 1996, perseroan berubah status menjadi perusahaan terbuka (Tbk) sehingga namanya menjadi PT Zebra Nusantara Tbk. Sekitar lima bulan lalu atau pada 4 Maret 2022, perusahaan kembali mengubah nama menjadi PT Dosni Roha Indonesia Tbk atau DNR Corporation.
Berdasarkan laporan keuangan ZBRA, pada 31 Desember 2020 perusahaan tercatat masih rugi Rp 1,62 miliar. Namun pada 31 Desember 2021, kinerja moncer sehingga berhasil meraup laba bersih Rp 26,14 miliar.
Melonjaknya laba bersih ZBRA secara konsolidasi ini ditopang dari pendapatan usaha yang juga melesat tajam dari Rp 14,69 miliar pada Desember 2020 menjadi Rp 3,49 triliun pada Desember 2021.
Sejak Mei 2021, perseroan telah memperluas kegiatan usahanya menjadi pengangkutan dan pergudangan; reparasi dan perawatan mobil; aktivitas keuangan; perdagangan besar; aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis; dan aktivitas kesehatan manusia. Adapun sejauh ini, kegiatan usaha perseroan dijalankan melalui entitas anak.
Dirut Keluarga Tanoesoedibjo, Komut Mantan Dirjen Pajak
Berdasarkan struktur pengurusan, ZBRA dipimpin oleh Direktur Utama Rudijanto Tanoesoedibjo dan dua direktur bernama Paulus dan Gary Judianto Tanoesoedibjo.
Di posisi komisaris, ada Robert Pakpahan sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen ZBRA. Robert merupakan mantan Dirjen Pajak Kementerian Keuangan. Lalu ada Julianti Hadi dan Dwi Priyatno sebagai komisaris.
PT Trinity Healthcare merupakan pemegang saham mayoritas ZBRA dengan kepemilikan 63,21 persen. Rudijanto Tanoesoedibjo tercatat memiliki 5,47 persen saham ZBRA, PT Maybank Sekuritas Indonesia mengempit 14,07 persen, dan publik memiliki 17,25 persen.
DNR Dapat Penghargaan Salurkan Bansos
Pada 2020, DNR Corporation pernah mendapatkan tiga rekor MURI dalam kategori Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup. Anugerah ini diberikan setelah DNR Corporation dinilai sukses menyalurkan bantuan sosial dari Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Perum Bulog di 15 provinsi.
DNR Corporation bersama Kementerian Sosial dan Bulog menggelar acara syukuran atas keberhasilan penyaluran bantuan beras program KPM PKH periode September-Oktober 2020. Bantuan ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang terdampak akibat wabah pandemi COVID-19.
Acara syukuran yang digelar di Hotel Grand Hyatt Jakarta saat itu dihadiri beberapa pihak seperti Menteri Sosial yang kala itu masih dijabat Juliari Batubara, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, dan Dirut DNR Corporation Rudy Tanoesoedibjo.
