Kumparan Logo

Rapat dengan Danantara, Purbaya Minta Pembayaran Utang Whoosh Tak Bebani Negara

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pendapat akhir mewakili Presiden pada Rapat Paripurna DPR RI ke-5 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pendapat akhir mewakili Presiden pada Rapat Paripurna DPR RI ke-5 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan agar pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh tidak membebani APBN.

Dia mengaku telah mengutarakan hal ini dalam rapat dengan Danantara Indonesia yang juga dihadiri Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), dan Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Purbaya menekankan pembiayaan seharusnya bisa ditanggung oleh Danantara sebagai lembaga investasi yang menaungi sejumlah BUMN strategis, tanpa perlu suntikan dari pemerintah.

“Posisi saya sudah jelas. Lebih baik disuntik Danantara saja, tanpa APBN,” ujar Purbaya usai rapat dengan Danantara dan sejumlah menteri, Selasa (15/10).

Dia menilai kemampuan keuangan Danantara cukup kuat untuk menanggung kewajiban pembayaran utang Whoosh, sebab saat ini Danantara menerima dividen BUMN. Dari total dividen BUMN yang mencapai Rp 80– Rp 90 triliun per tahun, Danantara hanya perlu menanggung pembayaran sekitar Rp 2 triliun per tahun untuk proyek Whoosh.

“Kalau dapat dividen Rp 90 triliun setahun, bayar Rp 2 triliun itu manageable. Malah sebagian dana mereka katanya ditaruh di obligasi pemerintah,” imbuh Purbaya.

Pernyataan tersebut kemudian direspons oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang mengaku akan melakukan studi terkait kewajiban pembayaran utang ini. Purbaya mengaku akan menunggu hasil studi tersebut.

Ilustrasi Whoosh. Foto: KCIC

Dia kemudian bertanya pada Rosan soal apakah ada kesepakatan secara spesifik yang menyatakan utang tersebut harus dibayar oleh pemerintah kepada China Development Bank (CDB) atau tidak.

“Tapi yang jelas saya tanya ke beliau tadi, apakah di klausul ada yang bayar harus pemerintah? Kan yang penting kalau saya tahu CDB, saya pernah diskusi sama CDB juga dulu, mereka yang penting struktur pembayarannya clear. Jadi harusnya tidak ada masalah kalau Danantara bayar juga,” jelasnya.

Purbaya juga sempat mengkritik kebijakan Danantara yang menempatkan sebagian besar dananya di instrumen obligasi. Menurut dia langkah itu tidak menunjukkan kemampuan investasi yang optimal.

“Kalau Anda taruh dana sebanyak itu di obligasi, keahlian Anda apa? Tapi mereka bilang ini hanya sementara, karena belum sempat buat proyek. Mereka akan perbaiki,” jelasnya.

Selain membahas soal pembayaran utang Whoosh ke China, Purbaya mengatakan rapat itu juga membahas sejumlah agenda lain di antaranya Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2025 Danantara, restrukturisasi Garuda Indonesia, serta rencana perbaikan kinerja Krakatau Steel.

"(Ada pembahasan) RKAT Rencana Kerja Anggaran Tahunan mereka (Danantara) 2025, ada Garuda,ada ini, ada itu semuanya, ada Krakatau Steel dibahas, gimana mereka akan merestrukturisasi," tambahnya.

Dia juga memastikan tidak ada pembahasan mengenai pergantian posisi Ketua Dewan Pengawas Danantara dalam rapat itu. Dengan demikian Menpora Erick Thohir masih duduk di kursi tersebut.

"Masih pak erick, nggak ada (penggantian Dewas)," tutupnya.

instagram embed