Kumparan Logo

RI Sudah Keluar dari Resesi, INDEF Sebut Pertumbuhan Ekonomi Semu

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi resesi ekonomi. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi resesi ekonomi. Foto: Pixabay

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif di kuartal kedua sebagai kondisi pemulihan yang semu.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia di kuartal II tumbuh sebesar 7,07 persen secara year on year. Angka ini membuat Indonesia keluar dari jurang resesi ekonomi yang membelit nyaris setahun imbas pandemi COVID-19.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho, menyebut ekonomi Indonesia belum mengarah pada pemulihan.

"Jadi kalau dikatakan apakah ini akhir dari resesi atau pertumbuhan semu atau ilusi, tentu saya katakan ini pertumbuhan semu," ujar Andry dalam webinar INDEF menanggapi kinerja triwulan II 2021, Jumat (6/8).

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menurut Andry, masih terlalu dini dan tidak fair mengeklaim bahwa perekonomian sudah kembali ke level yang mengarah normal. Soalnya, memang perbandingan year on year antara 2021 dan 2020 menguntungkan lantaran kuartal kedua tahun 2020 ekonomi mengalami kontraksi paling dalam.

Atas dasar itu, ia mencoba membuat perbandingan lain dengan melihat kondisi ekonomi sebelum pandemi, yakni pertumbuhan di tahun 2018 dan 2019.

"Bahkan perhitungan kami kalau dibandingkan dengan rata-rata 2018-2019, itu masih terkontraksi 10 atau 11 persen untuk transportasi dan pergudangan. Lalu akomodasi makanan dan minuman terkontraksi 2,58 persen," tuturnya.

Selain itu, pergerakan ekonomi yang membaik di kuartal kedua juga sangat dipengaruhi masifnya pelonggaran kebijakan PSBB kala itu. Ini akan berbeda dengan kondisi di kuartal ketiga nanti.

kumparan post embed

Pasalnya, meningkatnya kasus COVID-19 varian delta di pertengahan tahun membuat pemerintah memberlakukan kebijakan PPKM Darurat. Sehingga akan berdampak akan kembali jatuhnya ekonomi di kuartal III.

"Kalau kita bandingkan nanti di kuartal ketiga itu fase di mana PPKM Darurat sudah dicanangkan. Kalau kondisi pandemi masih belum cukup mereda, maka kalau dibandingkan kuartal III 2020 hasilnya pasti akan berbeda dengan yang ada sekarang, bisa jadi pertumbuhannya menurun dibanding kuartal kedua 2021 ini," ujar Andry.