Riset INDEF: E-Commerce Didominasi Toko UMKM, Tapi Banyak yang Jual Barang Impor
·waktu baca 2 menit

Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mencatat 98,05 persen gerai di e-commerce dipenuhi oleh UMKM atau setara dengan 12.784 toko UMKM. Meski UMKM telah mendominasi marketplace atau lokapasar.
Sayangnya, jumlah produk lokal yang dijual di UMKM hanya sekitar 3,8 persen. Dengan kata lain, kata Direktur Continuum INDEF, Omar Abdillah, penjual UMKM tetap memilih untuk menjual produk-produk ternama atau barang impor.
“Tapi penetrasi produk UMKM lokal di e-commerce hanya 3,8 persen. Jadi yang perlu diingat itu walau toko-toko e-commerce didominasi UMKM, tapi barang yang dijual UMKM didominasi produk besar atau barang-barang impor, jadi enggak ada proses added value mengembangkan bahan dasar ke yang lebih bernilai lagi,” katanya di Gambir Trade Talk di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (21/3).
Selain itu, gerai UMKM di e-commerce masih berpusat pada pulau Jawa, karena diperlukannya akses internet dan teknologi yang memadai. Fasilitas ini, ungkap Omar, belum sepenuhnya tersedia di daerah-daerah lain di Indonesia
“Toko-toko UMKM di e-commerce didominasi di pulau Jawa, 92,7 persen. Jadi lagi-lagi Jawa sentris masih terjadi di sini karena internet harus memadai, logistik harus murah, perang harga dan lainnya, maka masih berputar di sekitar Jawa,” pungkasnya.
Omar menyoroti masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan agar produk UMKM benar-benar menjadi pemimpin pasar di marketplace, karena meskipun UMKM mendominasi e-commerce, produk-produk yang dijual mayoritas masih berkisar pada produk ternama maupun impor.
“Oleh karenanya, perlu kombinasi dari data yang tepat, rekomendasi, dan analisis dari para pakar, serta pengalaman dan pengetahuan para pembuat keputusan di Kementerian untuk tujuan bersama UMKM menjadi raja di marketplace lokal,” tutupnya.
