Kumparan Logo

Rumah di Atas Rp 2 Miliar Laku Keras, Orang Kaya Tak Goyah oleh Pandemi?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proyek properti Rancamaya Golf Estate, salah satu proyek di bawah PT Surya Mas Duta Makmur. Foto: Rancamaya
zoom-in-whitePerbesar
Proyek properti Rancamaya Golf Estate, salah satu proyek di bawah PT Surya Mas Duta Makmur. Foto: Rancamaya

Rumah dengan harga di atas Rp 2 miliar laku keras. Pada kuartal II 2021, rumah dengan segmen harga tersebut penjualannya melonjak sebesar 125 persen. Adakah hal ini mengindikasikan pandemi tak menggoyahkan ekonomi orang-orang kaya?

Apalagi pada saat yang sama, data Indonesia Property Watch menunjukkan, penjualan rumah berharga di bawah Rp 500 juta justru mengalami penurunan terbesar yakni 24 persen.

kumparan post embed

"Hal cukup mengejutkan adalah pertumbuhan penjualan rumah di segmen di atas Rp 2 miliar yang mengalami kenaikan tertinggi 125 persen. Demikian juga rumah di segmen harga Rp 500 juta-Rp 1 miliar penjualannya masih naik 26,2 persen," kata pengamat properti dan perumahan dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, Selasa (24/8).

Lonjakan penjualan rumah, khususnya di segmen harga Rp 2 miliar ke atas, terjadi saat pertumbuhan melesat positif 7,07 persen di kuartal II 2021. Ini merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara kuartalan, terhitung sejak 2004. Walaupun memang, pertumbuhan ekonomi setinggi itu diraih dari basis yang rendah (low base effect), yakni pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen.

Penjaga memasang banner bertuliskan rumah dijual di Perumahan Puri Brawijaya, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (17/5/2021). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Pertumbuhan penjualan rumah itu seiring kebijakan pemerintah menggratiskan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) untuk pembelian rumah dan apartemen hingga seharga Rp 5 miliar. Insentif pajak di masa pandemi itu diberlakukan hingga Desember 2021.

Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI mengungkapkan, masyarakat dari kalangan orang kaya punya banyak mekanisme untuk bertahan dari dampak pandemi.

kumparan post embed

"Mereka yang memiliki status ekonomi sosial yang lebih tinggi dan pendidikan tinggi, selain cenderung memilih untuk menarik uang, juga punya pilihan untuk bekerja lebih lama atau melakukan klaim asuransi sebagai mekanisme bertahan hidup," demikian disampaikan LPEM UI melalui keterangan resmi, Kamis (29/7).

Kesimpulan itu didapat dari studi yang dilakukan peneliti LPEM UI, Chairina Hanum Siregar dan Lovina Aisha, dalam judul “Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Pengeluaran Rumah Tangga, Pendapatan, dan Ketahanan: Temuan Empiris dari Indonesia”.

Dengan adanya mekanisme bertahan hidup yang lebih banyak, pandemi memang relatif tak berdampak ke ekonomi orang kaya. Sehingga tak mengherankan jika penjualan rumah di segmen harga di atas Rp 2 miliar justru melonjak tinggi.