Kumparan Logo

SBY Ungkap Alasan RI Keluar dari OPEC: Kita Kaya Minyak, Tapi Jangan Bergantung

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10/2025). Foto: Fariza/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10/2025). Foto: Fariza/kumparan

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan alasan Indonesia keluar dari keanggotaan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada 2008 silam yakni agar tidak selalu bergantung pada kekayaan minyak bumi.

SBY mengatakan, saat kepemimpinannya selama 1 dekade lalu, ia menekankan pembangunan berkelanjutan yang adil, termasuk terhadap komitmen transisi energi tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat.

Ia pun berharap, pemerintah saat ini tetap memiliki komitmen yang sama. Dia optimistis Indonesia bisa menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi masalah, dalam perjalanan transisi energi global. Ia lalu bernostalgia saat memutuskan Indonesia keluar dari OPEC.

"Dulu saya masih ingat, saya memang memutuskan Indonesia keluar dari OPEC. Why? Kalau mindset-nya itu, kita ini kan kaya minyak, bisa berbuat apa saja," kata SBY saat acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Senin (6/10).

SBY mengatakan, jika Indonesia tetap menjadi anggota OPEC ketika kondisi sudah menjadi net importir atau importir bersih karena penurunan produksi migas nasional, adalah keputusan yang keliru.

Ia pun membandingkan kinerja produksi minyak bumi nasional saat dirinya menjadi Menteri Energi dan Pertambangan di era pemerintahan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid dengan kondisi terkini.

"Mindset itu ketika kita menjadi net importir, pasti keliru. Padahal waktu saya Menteri Energi dulu, kita punya produksi minyak satu hari 1,5 million barrels per day. Sekarang tinggal 600 ribu," jelas SBY.

Dengan begitu, SBY juga menyarankan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada energi fosil ke depannya dan mulai menggencarkan energi baru terbarukan (EBT) agar kehidupan manusia di bumi bisa lebih baik.

"Jadi dibuang penuh pemikiran kita, kita kaya minyak tergantung ke minyak bumi dan sebagainya. Itu yang menghambat. Kita harus betul-betul go to, yang sifatnya betul-betul renewable," tegasnya.

Gedung OPEC. Foto: Wikimedia Commons

Indonesia, kata dia, harus pandai mengelola kekayaan alam dengan lebih optimal, namun tetap bijak memperhatikan kepentingan iklim. Semua hal tersebut bergantung pada kepemimpinan alias political will.

"Resources yang kita miliki ini sebagian besar yang belum optimal, bagaimana membuatnya menjadi optimal? What kind of strategy? What kind of policy? What kind of technology? What kind of partnership? Dan tentunya kepemimpinan seperti apa?" tutur SBY.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, SBY memutuskan Indonesia keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi alias OPEC pada 6 Mei 2008 lalu. Penandatanganan surat pengajuan dilakukan oleh Menteri ESDM pada saat itu, Purnomo Yusgiantoro.

Indonesia mulai bergabung dengan OPEC tahun 1962. Ketika itu, dengan produksi 1,6 juta barel per hari dan konsumsi kurang dari 1 juta barel, Indonesia termasuk negara pengekspor minyak yang cukup penting.

Sekarang, dengan produksi minyak mentah yang terus turun sementara konsumsi terus naik, Indonesia sudah menjadi net oil importir sejak tahun 2003.

instagram embed