Sritex Punya Utang Menggunung, Begini Rencana Perusahaan ke Depan
ยทwaktu baca 2 menit

Perusahaan tekstil terintegrasi PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang populer disebut Sritex, tengah dalam proses PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Dari proposal restrukturisasi yang diajukan Perseroan kepada para kreditur, diketahui utangnya menggunung hampir Rp 20 triliun.
Terkait kondisi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan manajemen Sritex soal rencana perusahaan untuk perbaikan kondisi, serta pemenuhan kewajiban kepada bursa.
Corporate Secretary Sritex, Welly Salam, dalam surat ke BEI dikutip Sabtu (27/11) menyatakan pihaknya akan memenuhi semua kewajiban serta mengatasi dampak dari PKPU.
"Perseroan akan memenuhi seluruh kewajiban dan konsekuensi dampak PKPU kepada Bursa Efek Indonesia sesuai peraturan yang berlaku," -Welly Salam, Corporate Secretary Sritex-
Menurutnya, langkah itu dilakukan mulai kuartal IV tahun 2021 ini. Sedangkan pada setiap kuartal di 2022, lanjut Welly, Sritex akan terus melaksanakan keputusan hasil PKPU kepada para kreditur dan kewajiban pelaporan kepada BEI sesuai peraturan yang berlaku.
Welly menambahkan, akibat dampak pandemi COVID-19 yang berlanjut, pada kuartal II 2021 Sritex mengalami arus kas (cashflow) negatif. Hal ini berdampak pada kendala pembayaran kewajiban kepada kreditur.
"Untuk mengatasi masalah tersebut, strategi Perseroan yakni dengan restrukturisasi pinjaman bank maupun lembaga keuangan lainnya," ujarnya.
Sementara itu dari salinan proposal restrukturisasi yang diajukan Sritex kepada para krediturnya, diketahui total utang perusahaan mencapai Rp 19,96 triliun. Utang itu terbagi dalam denominasi rupiah, dolar AS, maupun euro.
Krediturnya sendiri ada yang bersifat bilateral maupun sindikasi, dengan rincian utang sebagai berikut:
Utang bilateral rupiah: Rp 5,87 triliun
Utang bilateral dolar AS: USD 178,95 juta
Utang bilateral euro: 7,5 juta euro
Utang sindikasi dolar AS: USD 350,02 juta
Utang obligasi global: USD 375 juta
Adapun bank yang jadi kreditur Sritex terdiri dari bank nasional Indonesia, maupun bank asing atau terafiliasi asing. Daftar bank nasional yakni:
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 5 data
No. | Nama Bank |
|---|---|
1 | BPD Jateng |
2 | Bank DKI |
3 | Bank BJB |
4 | Bank BCA |
5 | Bank Muamalat Indonesia |
Sedangkan bank asing/terafiliasi asing yang menjadi kreditur Sritex, yakni:
Table Embed
Menampilkan 10 data dari 17 data
No. | Nama Bank | Asal Negara |
|---|---|---|
1 | Bank of China, Jakarta Branch | Hong Kong |
2 | Bank CTBC Indonesia | Taiwan |
3 | Taipei Fubon Commercial Bank | Taiwan |
4 | MUFG Bank, Jakarta Branch | Jepang |
5 | Bank Mizuho Indonesia | Jepang |
6 | Bank Danamon Indonesia | Jepang |
7 | Citibank Jakarta | Amerika Serikat |
8 | Bank DBS Indonesia | Singapura |
9 | Bank HSBC Indonesia | Inggris |
10 | Standard Chartered Indonesia | Inggris |
