Kumparan Logo

Suku Bunga Acuan BI Bulan Ini Diproyeksi Tetap 3,5 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) memberikan keterangan kepada pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2019, Kamis (20/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) memberikan keterangan kepada pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur BI bulan Februari 2019, Kamis (20/2). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur selama Juni 2021 pada Kamis (17/6). Nantinya, bank sentral juga akan mengumumkan kebijakan moneter terkait suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky memproyeksi BI masih akan menahan suku bunga acuan 3,5 persen di bulan ini.

Menurut dia, peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang semula cukup menjanjikan akan menjadi bersifat sementara. Meskipun beberapa indikator ekonomi utama dari sisi domestik maupun eksternal menunjukkan tanda pemulihan yang menjanjikan, kasus penularan COVID-19 di Tanah Air yang kembali melonjak menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang bersifat sementara.

“Dengan meningkatnya ketidakpastian domestik dari transmisi COVID-19 ditambah dengan perkiraan tekanan eksternal, kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50 persen pada bulan Juni 2021,” ujar Riefky dalam laporannya, Rabu (16/6).

kumparan post embed

Riefky menuturkan, lonjakan kasus baru harian terkait penularan virus corona menjadi peringatan bagi pemangku kebijakan untuk mengantisipasi potensi gangguan pada agenda pemulihan ekonomi. “Jika kondisi ini tidak terkendali dalam waktu singkat, pemulihan kepercayaan konsumen dan bisnis dapat memudar,” jelasnya.

Selain itu, munculnya kembali kasus COVID-19 dapat menahan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia dan menyebabkan arus modal balik. Di sisi lain, pasar menyadari sepenuhnya bahwa tekanan eksternal dari tapering off The Fed yang berpotensi lebih awal dari perkiraan masih berlanjut.

“Jika The Fed memulai taper off pada awal paruh kedua tahun ini, bank sentral negara-negara berkembang harus mempertimbangkan risiko dalam setiap pengukuran kebijakan yang mereka putuskan dalam waktu dekat,” ucap Riefky.

Selain itu, BI juga harus menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan sebagai langkah pre-emptive terhadap ketidakpastian global dari tapering off AS, meskipun basis moneter saat ini jauh lebih menguntungkan daripada menjelang taper tantrum 2013.

kumparan post embed

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah juga menyarankan BI untuk menahan suku bunga acuan. Risiko tapering off dari Bank Sentral AS perlu diantisipasi oleh BI.

“Saya perkirakan BI Masih akan menahan suku bunga. The Fed diyakini belum akan melakukan tapering. Memang ada kenaikan inflasi di US, tapi diperkirakan temporer, inflasi akan segera turun. Tapering baru akan dilakukan The Fed paling cepat tahun depan,” jelas Piter.

Tak hanya itu, perekonomian domestik yang belum seluruhnya pulih dari pandemi COVID-19, juga masih membutuhkan kebijakan BI yang longgar. Sehingga, menahan bunga acuan dinilai sebagai kebijakan terbaik saat ini

“BI saya yakini akan menahan suku bunga acuan tetap rendah selama mungkin. BI baru akan menaikkan suku bunga bila sudah ada tanda-tanda The Fed akan menaikkan suku bunga,” pungkasnya.