Tak Cuma Bombardir Bangunan, Israel Juga Siramkan Racun ke Pertanian Palestina

Serangan militer Israel yang gencar sejak bulan Ramadhan lalu, tak hanya menyasar bangunan di kawasan Palestina. Lahan pertanian yang merupakan penopang utama perekonomian negara itu, juga jadi sasaran perusakan.
Padahal bulan-bulan ini, para petani anggur tengah giat-giatnya merawat kebun mereka untuk menyongsong puncak musim panen pada Juli hingga September mendatang. Mengutip data Badan Pusat Statistik Palestina, di wilayah pendudukan Israel itu total ada 1,5 juta pohon anggur. Terbanyak yakni sekitar 1,25 juta pohon, ada di Tepi Barat.
Produksi anggur merupakan hasil pertanian kedua terbesar dari Palestina, setelah zaitun. Produksi buah jenis itu menyumbang 12 persen dari total produksi pertanian negara itu.
Mansour Mahmoud Shamallakh, warga Gaza, Palestina, merupakan salah seorang petani anggur. Kebunnya seluas 18 dunum, berada di wilayah Syekh Ajin. Satu dunum setara dengan 1.000 meter persegi. Sehingga ladang anggur milik Mansour luasnya mencapai 18.000 meter persegi atau hampir 2 hektare.
Di tengah gencarnya serangan militer Israel seperti saat ini, bekerja di kebun pun bisa jadi bertaruh nyawa. Bahkan dalam kondisi normal pun, tak mudah bagi para petani merawat tanaman mereka. “Tidak mudah mendapatkan pupuk atau obat-obat pembasmi hama, karena harus beli dari Israel. Jumlahnya dibatasi,” kata Mansour kepada Suara Palestina yang meliput untuk kumparan.
Dia mengungkapkan, yang lebih mengancam dari kelangkaan benih, pupuk, dan obat-obatan, sebenarnya adalah situasi perang. Benih yang baru disemai atau buah-buah ranum yang siap dipanen, bisa sirna seketika akibat hujan peluru dan mortir Israel.
Untuk melumpuhkan perekonomian, Israel ada kalanya menyemprotkan cairan kimia untuk menggagalkan panen petani Palestina. Pesawat terbang rendah dan wuzzzz.... racun pun menggagalkan harapan para petani untuk bisa memetik hasil panen.
Hal itu tutur Mansour, bisa terjadi akibat konflik yang memuncak dan pecah, atau karena memang Israel sedang melancarkan agresi untuk merusak perekonomian penduduk Palestina. Namun demi menjaga dapurnya tetap ngebul, Mansour terus bertani dengan sarana produksi yang ada, karena pertanian merupakan satu-satunya sumber pendapatan dia.
