Tarif Kargo Udara Mahal Picu Kenaikan Pengiriman Barang via Laut?

1 April 2019 15:06
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Pemeriksaan barang di kargo Bandar Udara Haluoleo, Kendari Foto:  Ema Fitriyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemeriksaan barang di kargo Bandar Udara Haluoleo, Kendari Foto: Ema Fitriyani/kumparan
ADVERTISEMENT
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengiriman barang melalui kapal laut mengalami kenaikan 0,76 persen, dari semula 23,15 juta ton di Januari 2019 menjadi 23,33 juta ton di Februari 2019.
ADVERTISEMENT
Peningkatan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, masing-masing sebesar 35,56 persen dan 6,8 persen.
Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono menyampaikan, secara tren biasanya pengiriman barang melalui jalur laut di Februari turun dibandingkan Januari.
"Biasanya tren bulan Februari untuk angkutan laut barang selalu turun," katanya kepada kumparan, Senin (1/4).
Konferensi pers BPS soal inflasi di Maret 2019. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers BPS soal inflasi di Maret 2019. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
Dia menyebut, terakhir kali kenaikan pengiriman barang di bulan Februari terjadi di tahun 2012 sebesar 3,21 persen. Namun BPS tak bisa memastikan hal itu terjadi karena biaya pengiriman via jalur udara mahal.
"Dari data tersebut belum dapat disimpulkan ada pengaruh kargo pesawat. Kenaikan 0,76 persen masih relatif kecil," ucap Anggoro.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budi Paryanto menjelaskan, karena tarif kargo pesawat naik, sebanyak 50 persen pengiriman yang semula melalui jalur udara kini beralih ke darat dan laut.
ADVERTISEMENT
"Yang kami alihkan ini yang layanan reguler. Tapi muncul masalah kalau di laut itu layanan 2 hari, tapi nunggu bongkar muat 3 hari. Jadi 5 hari. Kalau sampai 5 hari ini customer lari," jelasnya.