Tekan Kenaikan Harga Bahan Baku, Industri Mulai Digitalisasi Rantai Pasok

19 Juni 2024 10:29 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi produksi di pabrik Daihatsu Jepang. Foto: Nikkei
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi produksi di pabrik Daihatsu Jepang. Foto: Nikkei
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kenaikan harga bahan baku dinilai menjadi tantangan bagi pelaku industri, utamanya industri pengolahan nonmigas, di tahun ini. Meski demikian, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis industri tersebut mampu berkembang dengan adanya penggunaan rantai pasok hingga produk dalam negeri (P3DN) melalui pemanfaatan sertifikasi TKDN, pengendalian impor yang baik, serta peningkatan ekspor ke negara non-tradisional.
ADVERTISEMENT
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional Kemenperin Eko S.A. Cahyanto mengataan, penting bagi unit-unit pembina industri untuk memonitor subsektor secara terus-menerus agar bekerja positif.
“Pembinaan industri yang selama ini ditempuh melalui kebijakan dan upaya-upaya yang dilakukan tidak hanya menjaga sektor industri, tapi juga memperkuat struktur di sektor industrinya masing-masing,” ujar Eko dalam keterangannya, Rabu (19/6).
Manajemen rantai pasok atau supply chain management dinilai efektif bagi perusahaan untuk meningkatkan permintaan pasar secara cepat. Berdasarkan riset Mekari, 58 persen perusahaan di Indonesia sudah menggunakan teknologi, seperti solusi SCM berbasis awan untuk kegiatan rantai pasok.
Rantai pasok merupakan sistem untuk mengkoordinasi semua bagian dan aktivitas industri, mulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga logistik, untuk menghadirkan produk di pasar. Jansen Jumino, Chief Business Officer CBO Mekari, menyebut tren digitalisasi rantai pasok di tingkat global semakin luas, karena teknologi terbukti memperkuat kemampuan perusahaan untuk mengontrol dan mengamati proses di setiap titik rantai pasok.
ADVERTISEMENT
"Lebih spesifik, teknologi dalam bentuk solusi SCM berbasis awan meningkatkan otomasi, efisiensi, dan visibilitas rantai pasok sehingga perusahaan bisa merespons dengan cepat fluktuasi permintaan pasar,” jelasnya.
Jansen menambahkan bahwa perusahaan lebih tertarik pada solusi SCM berbasis awan dibanding on-premise karena manfaat yang dihadirkan. Solusi SCM berbasis awan membutuhkan biaya investasi dan bulanan yang lebih rendah, serta membebaskan perusahaan dari biaya pemeliharaan software dan infrastruktur milik sendiri.
“Skalabilitas yang ditawarkan solusi SCM berbasis awan menghilangkan salah satu hambatan utama pengadopsian teknologi, yaitu biaya implementasi yang tinggi. Sebab itu, solusi SCM berbasis awan mempercepat adopsi teknologi oleh perusahaan di lintas industri dan membantu mereka merespons permintaan pasar dengan lebih dinamis,” katanya.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya, riset Mekario juga menunjukkan bahwa manajemen rantai pasok mampu menekan kenaikan biaya produksi dan logistik hingga 43 persen, diikuti oleh mencegah dampak lingkungan dari aktivitas rantai pasok 37 persen, serta memitigasi dampak dari disrupsi eksternal seperti keterlambatan dan kekurangan pasokan 36 persen.
“Fluktuasi permintaan pelanggan, permintaan pasar yang rendah, dan terbatasnya visibilitas rantai pasok menjadi tiga tantangan lainnya yang dilaporkan oleh perusahaan di Indonesia,” katanya.
Saat ini, mayoritas perusahaan ada di tahap adopsi teknologi untuk mengotomatisasi proses utama di rantai pasok. Hanya 6 persen perusahaan yang sudah maju ke tahap adopsi teknologi berikutnya, yaitu menggunakan artificial intelligence atau AI untuk mengelola rantai pasok.
“Namun, 43 persen dari mereka berencana untuk mengadopsi teknologi tersebut dalam 23 tahun ke depan. Ini berarti bahwa potensi transformasi digital, baik di tahap otomatisasi dan di tahap mengimplementasikan AI, masih sangat luas,” tambahnya.
ADVERTISEMENT