Kumparan Logo

Tips Investasi untuk Pemula: Mulailah dari Jumlah Kecil dan Bertahap

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelayanan nasabah Bank OCBC NISP.  Foto: Dok. Bank OCBC NISP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelayanan nasabah Bank OCBC NISP. Foto: Dok. Bank OCBC NISP

Direktur Bank OCBC NISP, Ka Jit, memberikan tips bagi pemula yang baru mulai investasi. Dia mengatakan, sebaiknya pemula tidak langsung menggelontorkan semua dananya untuk investasi, namun mulailah dari jumlah kecil dulu.

Investasi besar tentu menjadi keberhasilan yang diinginkan banyak masyarakat. Hanya saja, untuk memiliki banyak investasi khususnya bagi anak muda atau pemula tidaklah gampang.

“Jadi kalau kita bilang untuk pemula bukan jenis investasinya apa. Jadi seperti kami sarankan lakukan cek, kemudian ikut kelas supaya ngerti, dan yang kita sarankan mulai kecil dulu,” kata Ka Jit saat konferensi pers secara virtual, Kamis (19/8).

kumparan post embed

Ka Jit tidak menampik ada pemula yang tergoda investasi seperti di saham dan kripto lalu menggelontorkan dana besar atau sampai berutang. Ia merasa kondisi tersebut kurang tepat apalagi kalau investasinya berujung merugi karena kurang perhitungan.

Ka Jit menganggap dengan mulai dari dana yang sedikit dulu maka bisa seiring waktu untuk mengevaluasi perkembangannya.

“Jadi paling gampang dengan small size. Nanti setelah beberapa waktu bisa dilihat lagi, dicek ulang lagi disesuaikan dengan kondisi finansial ini memberatkan atau eh sebenarnya setelah dicoba saya kok bisa nabung lebih banyak lagi dan bisa ditingkatkan. Saya rasa memang paling baik itu dijalankan secara bertahap,” ujar Ka Jit.

Mengenai produk investasinya, Ka Jit menyarankan untuk melihat dulu tujuan awal berinvestasi. Ia menyebutkan kalau memang mau digunakan dalam waktu dekat seharusnya memilih yang risikonya kecil.

“Kalau kita bilang produk apa tergantung tujuannya sih sama jangka waktunya. Kalau misalnya mau persiapan biaya anak sekolah yang 1, 2 tahun lagi ya pastinya kita enggak bisa invest ke produk yang agresif atau terlalu berisiko,” terang Ka Jit.

“Tapi kalau jangka waktunya panjang untuk persiapan pensiun atau di atas 5 tahun kita bisa masuk di instrumen lebih agresif,” tambahnya.

kumparan post embed