Utang Proyek Whoosh Jadi Ujian bagi Danantara, Persepsi Investor Bisa Negatif
·waktu baca 4 menit

Keberadaan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh dinilai bisa berpengaruh pada persepsi investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Meski demikian, dampaknya tidak terjadi secara langsung.
Pengamat BUMN dari Next Center Herry Gunawan menilai persepsi investor bisa negatif jika nantinya Danantara tak bisa mengatasi masalah utang tersebut.
“Namun, tidak secara langsung. Masalah persepsi negatif akan muncul ketika Danantara tidak mampu mengatasi masalah yang ada di BUMN. Mengingat BPI Danantara adalah badan publik yang langsung bertanggung jawab kepada presiden, persepsinya bisa menjadi kemampuan pemerintah mengatasi masalah BUMN kurang baik,” kata Herry kepada kumparan, Senin (27/10).
Proyek Whoosh memiliki nilai investasi sebesar USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) senilai USD 1,2 miliar atau Rp 19,8 triliun. Hal ini membuat PT KAI yang merupakan ketua konsorsium BUMN dalam proyek tersebut, memiliki beban utang Rp 6,9 triliun dari China Bank Development (CDB) untuk pembayaran pembengkakan biaya proyek Whoosh.
Meski demikian, dengan ditolaknya opsi pembayaran utang Whoosh dengan APBN oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Herry menilai utang tersebut tak akan mempengaruhi stabilitas makroekonomi Indonesia.
"Apalagi Menkeu sudah tegas tidak ingin melibatkan APBN dalam penyelesaian masalah Whoosh,” ujarnya.
Saat ini, Herry melihat beban PT KAI sudah sangat besar bukan hanya dari utang Whoosh melainkan juga operasional Whoosh karena PT KAI adalah pemimpin konsorsium. Dari situasi ini, menurutnya membuat PT KAI berpotensi meminta suntikan modal tambahan dari pemerintah.
“Secara regulasi ini sah (minta suntikan modal), apalagi proyeknya penugasan. Namun, Menteri Keuangan sudah tegas menolak ikut menanggung beban utang Whoosh. Menkeu menyerahkan ke Danantara untuk mengatasinya. Menurut saya ini sudah benar, sehingga tidak menjadi beban fiskal kita yang terbatas,” kata Herry.
Terkait pembengkakan biaya pada proyek Whoosh bahkan nilai investasinya melebihi proyek kereta cepat Saudi Land Bridge yang memiliki jarak lebih panjang yakni 1.500 km, Herry menilai hal ini bisa disebabkan perencanaan yang tak matang.
Panjang trayek Whoosh tercatat ada pada 142,3 km dari Jakarta hingga Bandung, sementara Saudi Land Bridge yang akan menghubungkan Laut Merah di Jeddah dengan Teluk Arab di Dammam melalui ibu kota Riyadh memiliki panjang hingga 1.500 km. Meski demikian, angka investasi untuk proyek Whoosh mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS). Angka itu lebih besar ketimbang nilai investasi Saudi Land Bridge yang senilai USD 7 miliar atau sekitar Rp 116,2 triliun (kurs Rp 16.602 per dolar AS).
“Kenaikan pembiayaan kereta cepat itu, terutama karena perencanaan yang tidak matang. Indikasi dari kasus ini misalnya, ada relokasi jalur fasilitas umum, maupun komponen konstruksi yang harganya naik. Kalau perencanaannya sudah baik di awal, tentu tidak akan ada pembengkakan biaya yang sangat besar saat konstruksi jalur kereta cepat jakarta bandung,” ujarnya.
Selain itu, alasan pembengkakan lain menurut dugaan Herry adalah adanya kenaikan biaya dalam komponen pembebasan lahan. Meski begitu, hal ini harusnya bisa diselidiki secara hukum.
Merespons pembengkakan biaya proyek Whoosh, Ketua Forum Pembiayaan Transportasi dari MTI, Muhammad Syaifullah menilai pembengkakan semacam itu sebenarnya sering terjadi pada proyek besar di dunia. amun mitigasi risiko seharusnya sudah dilakukan.
“Mitigasi risiko dilakukan salah satunya dengan melakukan survey dan kajian yang komprehensif. Biaya pembangunan proyek MRT/Subway di Amerika mengalami pembengkakan luar biasa sehingga penyelesaian proyek sangat terlambat,” ujar Syaifullah.
Saat ini, MTI tidak memiliki dokumen Feasibility Study (FS), Detail Engineering Design (DED) maupun As Built Drawing dari proyek Whoosh dan Saudi Land Bridge sehingga tidak bisa memberi analisis detail mengapa proyek Whoosh lebih mahal ketimbang Saudi Land Bridge.
Meski demikian, ia memberikan sedikit gambaran bahwa proyek kereta cepat yang memiliki konstruksi membelah gunung biasanya akan memiliki biaya yang lebih tinggi.
“Konstruksi yang memiliki terowongan atau tunnel, baik membelah gunung ataupun underground akan memiliki biaya yang jauh lebih tinggi daripada struktur elevated. Struktur elevated lebih mahal daripada yang at grade,” kata Syaifullah.
Selain itu, penambahan biaya juga bisa berasal dari adanya desain yang memperhitungkan potensi kebencanaan di daerah Jakarta dan Bandung.
“Sebagaimana diketahui kalau di daerah Jakarta Bandung itu berpotensi pergeseran lempeng bumi seperti terjadi di jalan tol yang mungkin berpengaruh di dalam perhitungan desain dan konstruksi,” ujarnya.
Syaifullah juga menduga pembengkakan bunga pinjaman juga turut berpengaruh dalam naiknya biaya proyek Whoosh karena biaya bunga pinjaman proyek ini lebih mahal dari pinjaman lainnya, tetapi memberikan struktur dan pola pengembalian yang lebih lunak. "Hal ini perlu dicek dan dipastikan kebenarannya,” kata Syaifullah.
