kumparan
28 Juni 2017 19:49

3 Mantan Kepala Kepolisian Dituntut Pidana atas Tragedi Hillsborough

Keluarga korban tragedi Hillsborough (Foto: Reuters/Andy Yates)
Tragedi Hillsborough merupakan salah satu tragedi terburuk yang pernah menimpa dunia sepak bola Inggris. 15 April 1989 di Stadion Hillsborough, 96 orang yang didominasi oleh fan Liverpool tewas setelah jatuh, terinjak-injak, dan berdesak-desakkan di tribune Lepping Lane.
ADVERTISEMENT
Di tribune itu, ribuan suporter Liverpool dijejalkan oleh pihak kepolisian agar semua bisa masuk ke dalam stadion untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding melawan Nottingham Forest. Tak hanya itu, di luar masih ada suporter yang juga dibiarkan masuk ke dalam tribune tersebut.
Akibatnya penonton melebih kapasitas tribune itu dan kaos pun terjadi, pagar pembatas tribune roboh, orang-orang berhamburan ke lapangan. Sementara beberapa orang jatuh dari tribune bagian atas ke tribune bagian bawah. Banyak yang terinjak-injak seiring paniknya massa. Juga mereka yang berdesak-desakkan menunggu masuk ke tribune yang juga telah penuh itu. Hasilnya, 96 orang kemudian meninggal dunia.
Setelah tragedi itu terjadi, polisi pada awalnya menyalahkan para suporter. Pihak kepolisian menyebut para suporter mabuk dan tak bisa diatur. Tapi setelah dilakukan pengusutan, pada tahun 2016, Pengadilan Inggris mengungkapkan apabila sebenarnya pihak kepolisian yang bersalah. Terlebih karena mereka yang membiarkan suporter Liverpool memenuhi tribune itu.
ADVERTISEMENT
Kini, pada Rabu (28/6), jaksa kembali mengumumkan tuntutan pidana terhadap enam orang yang didakwa bersalah atas Tragedi Hillsborough ini. Terdakwa yang paling terkenal adalah mantan kepala polisi kepala David Duckenfield, yang bertanggung jawab atas operasi polisi di Hillsborough pada hari bencana tersebut. Dia didakwa atas kasus pembunuhan tidak disengaja.
David Duckenfield (Foto: Reuters/Phil Noble)
Duckenfield didakwa melakukan kelalaian yang menyebabkan 95 orang tewas, termasuk wanita dan anak-anak. Dia tidak didakwa untuk satu korban meninggal lain karena korban tersebut meninggal empat tahun setelah tragedi terjadi dan itu sudah di luar batas waktu hukuman yang diterima Duckenfield.
"Saya telah memutuskan bahwa ada cukup bukti untuk membebankan enam orang dengan tindak pidana," kata Sue Hemming, Kepala Divisi Kejahatan Khusus dan Kontra-Terorisme di Crown Prosecution Service dalam sebuah pernyataannya seperti dilansir dari Reuters.
ADVERTISEMENT
"Kami akan menuntut bahwa kegagalan David Duckenfield untuk melepaskan tanggung jawab pribadinya sangat buruk dan berkontribusi secara substansial terhadap kematian masing-masing dari 96 orang dengan sangat tragis dan tidak perlu kehilangan nyawa mereka," tambah keterangan itu.
Selain itu, mereka yang terkena tuntutan juga termasuk dua mantan kepala kepolisian lainnya, Donald Denton dan Alan Foster, yang dianggap tidak bersaksi dengan benar selama masa penyelidikan awal. Serta seorang pengacara yang bekerja untuk kedua polisi tersebut. Sang pengacara bernama Peter Metcalf.
Selain itu ada juga Graham Mackrell yang merupakan sekretaris perusahaan dan petugas keamanan Sheffield Wednesday --klub pemilik stadion--. Dia bersalah karena pada saat tragedi tersebut dituduh melanggar peraturan keselamatan dan gagal mematuhi perawatan kesehatan dan keselamatan orang lain.
ADVERTISEMENT
Di luar itu, salah satu korban yang selamat dari tragedi tersebut, Barry Devonside, tampak emosional dengan keluarnya keputusan ini. Terlebih saat itu Devonside kehilangan putranya, Christopher, yang berusia 18 tahun. Dia mengaku sudah kerap dikecewakan dengan keputusan-keputusan dari pengadilan dan dia berharap kali ini benar-benar berbeda.
Keluarga korban tragedi Hillsborough (Foto: Reuters/Andy Yates)
"Saya takut, benar-benar ketakutan bahwa kami akan dikecewakan lagi. Sangat sulit memperjuangkan keadilan selama beberapa lama, tapi kami harus menghadapinya," ujar Devonside.
Sementara keluarga dari para korban lainnya juga saling berpelukan, mengungkapkan rasa haru dengan penuh emosional setelah keputusan itu diumumkan. Mereka selama 28 tahun ini memang sudah menunggu datangnya keadilan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan