Kumparan Logo

Adnan Januzaj dan Talenta-talenta Hebat Lain yang Meredup

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain sepak bola Adnan Januzaj (Foto: Twitter/@RealSociedad)
zoom-in-whitePerbesar
Pemain sepak bola Adnan Januzaj (Foto: Twitter/@RealSociedad)

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Adnan Januzaj sebenarnya. Ketika pertama kali muncul dulu, dia adalah salah satu pesepak bola paling menjanjikan, tak hanya di Britania, tetapi di dunia.

Kala itu pada musim 2013/14, dengan kostum no. 44, Januzaj diberi kesempatan melakukan debut untuk Manchester United oleh David Moyes. Gocekannya yang merangsang menjadi andalan utama pemain berpaspor Belgia itu.

Namun, kiprah Januzaj di United praktis berhenti di musim itu. Setelah nyaris tak pernah bermain pada musim 2014/15, Januzaj dikirim Louis van Gaal ke Borussia Dortmund yang dikenal ramah terhadap pemain muda. Akan tetapi, di Dortmund dia gagal memikat dan dikembalikan pada pertengahan musim.

Setelahnya, Januzaj memutuskan untuk mengikuti Moyes ke Sunderland. Dia memang bermain 25 kali bersama The Black Cats namun gagal memberi kontribusi berarti. Akhirnya, kini Januzaj pun benar-benar dilego Manchester United ke Real Sociedad meski United punya opsi untuk membelinya kembali.

Ada banyak sekali penyebab mengapa seorang pemain berbakat seperti Januzaj bisa gagal bersinar. Salah satu sebabnya adalah etos kerja. Mantan manajer Swansea City, Michael Laudrup, setelah timnya diobrak-abrik Januzaj pada 2014 lalu pernah berkata, "Saya harap dia adalah pemain yang tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa terus berkembang, dan bukan pemain yang berpikir bahwa mentang-mentang sudah bermain di 10 laga Premier League lantas dia sudah jadi yang terbaik di dunia."

Kekhawatiran Laudrup itu akhirnya terbukti. Ketika sedang menjalani masa pinjaman di Dortmund, pelatih Die Borussen kala itu, Thomas Tuchel, mengatakan bahwa Januzaj gagal di Westfalenstadion karena dia selalu membandingkan segalanya dengan di Manchester. Dengan kata lain, Januzaj sudah merasa hebat dan tidak mau mengakui bahwa di usianya yang masih belia itu banyak hal yang mesti dia pelajari.

Selain etos kerja seperti dalam kasus Januzaj ini, tentunya ada hal-hal lain yang membuat seorang pemain berbakat gagal bersinar. Perkara cedera, misalnya, atau tingkah laku yang absurd. Di sini, kumparan mengajak Anda sekalian untuk melongok kembali beberapa kisah pemain muda berbakat yang gagal mengonversi bakat yang mereka miliki menjadi prestasi.

1) Nicklas Bendtner (Denmark)

Nicklas Bendtner di Rosenborg. (Foto: Instagram/Rosenborg)
zoom-in-whitePerbesar
Nicklas Bendtner di Rosenborg. (Foto: Instagram/Rosenborg)

Lord Bendtner. Itulah julukan yang diberikan publik sepak bola terhadap Nicklas Bendtner. Julukan itu tentu saja berbau sarkasme, mengingat Bendtner adalah salah satu pemain paling mengecewakan yang pernah berkiprah di sepak bola setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Mengawali karier profesional di Arsenal pada 2005, Bendtner saat itu diberi amanat untuk menjadi penyerang hebat Arsenal berikutnya. Amanat itu sebenarnya tak berlebihan mengingat pemain satu ini pada dasarnya memang punya bakat. Arsene Wenger ketika itu pernah menyebut bahwa Bendtner punya potensi menjadi penyerang yang tak terhentikan.

Secara teknis, pemain ini punya kemampuan komplet sebagai penyerang. Meski bertubuh tinggi besar, Bendtner punya kaki-kaki yang lentuk. Itulah yang membuatnya bisa bermain di semua posisi di lini depan.

Akan tetapi, semua berhenti di situ karena meski belum punya prestasi yang benar-benar bisa dibanggakan, dia sudah berpikir bahwa dia adalah pemain terbaik dunia. Alhasil, dia pun kemudian menjadi ogah-ogahan dan penampilannya pun menurun drastis.

Bendtner sendiri sampai pada tahun 2014 lalu masih berstatus pemain Arsenal. Namun, dia menghabiskan musim 2011/12 dan 2012/13 di pengasingan. Bendtner pun kemudian dilego ke Wolfsburg, gagal bersinar, dibuang ke Nottingham Forest, gagal bersinar lagi, dan kini, mencoba mengulang semuanya bersama Rosenborg di Norwegia.

2) Bojan Krkic (Spanyol)

Bojan (kiri) bersama Ronaldinho. (Foto: Instagram/Bojan Krkic)
zoom-in-whitePerbesar
Bojan (kiri) bersama Ronaldinho. (Foto: Instagram/Bojan Krkic)

Tidak akan ada yang bisa menjadi Lionel Messi berikutnya dan jika ada orang yang paling paham soal itu, dia adalah Bojan Krkic. Berusia tiga tahun lebih muda dari Messi, dia pun kemudian memecahkan rekor Messi sebagai debutan termuda Barcelona.

Bojan sendiri menghabiskan empat musim di tim utama Barcelona yakni antara 2007-2011. Dalam kurun waktu itu, dia bermain 104 kali dan mencetak 26 gol. Untuk ukuran pemain pelapis, hal itu sebenarnya tidak buruk.

Akan tetapi, Bojan kemudian memilih untuk mengembara di luar negeri demi mendapat menit bermain. Dia pun hijrah ke Roma yang kala itu ditangani Luis Enrique. Namun, di sinilah kemerosotan karier Bojan dimulai.

Bojan menghabiskan tahun 2011 s/d 2014 di tiga klub berbeda. Selain Roma, dia juga memperkuat Milan dan Ajax. Namun, meski dipercaya main sebanyak 76 kali, hanya 14 gol yang mampu dia ciptakan.

Akhirnya, Bojan pun terdampar di Stoke City dan di situ pun dia tidak jadi pilihan utama dan bahkan sempat dipinjamkan ke Mainz pada pertengahan musim lalu.

Lalu, apa yang salah dengan Bojan? Usut punya usut, Bojan ternyata sangat menderita secara psikologis. Kariernya yang menanjak terlalu cepat ternyata berdampak buruk untuk pemain satu ini. Ekspektasi yang dibebankan kepadanya menjadi bumerang dan akhirnya, meski sempat akan menjadi pemain terbaik dunia, Bojan hanya berakhir jadi pemain yang biasa-biasa saja.

3) Giuseppe Rossi (Italia)

Giuseppe Rossi di Celta Vigo. (Foto: Instagram/Giuseppe Rossi)
zoom-in-whitePerbesar
Giuseppe Rossi di Celta Vigo. (Foto: Instagram/Giuseppe Rossi)

Ah, Giuseppe Rossi yang malang. Pemain satu ini sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan tingkah laku, etos kerja, maupun kondisi psikologis. Hanya saja, pemain yang lahir dan besar di Amerika Serikat ini punya lutut yang terbuat dari kaca.

Rossi dididik di akademi dan sempat menjadi anggota skuat utama Manchester United. Namun, pria bertinggi 173 cm ini melejit bersama Villarreal di mana dia bermain 136 kali dan mencetak 54 gol. Sayang, pada musim 2011/12, ligamen lututnya sobek dan dia harus absen selama 557 hari. Setelah itu, dia pun berusaha untuk membangkitkan kariernya di Fiorentina.

Namun, di Firenze nasibnya tak membaik karena selama empat musim di sana, Rossi harus absen selama 402 hari akibat berbagai cedera, termasuk cedera ligamennya yang kambuh.

Musim lalu, Rossi menjalani masa pinjaman dari Fiorentina di Celta Vigo dan lagi-lagi, penyerang kidal ini harus mengalami cedera di ligamen lututnya itu. Rossi pun harus absen selama enam bulan dan akhirnya, kontraknya pun tidak diperpanjang oleh Fiorentina.

Hancurnya karier Rossi akibat cedera ini sangatlah disayangkan. Pasalnya, apabila tidak ada hal-hal seperti ini, dia bisa saja menjadi penyerang terbaik Italia mengingat talenta itu memang ada. Sebagai seconda punta khas Italia, caranya bermain kerap mengingatkan orang pada sosok Alessandro Del Piero. Namun, semua harapan itu sirna karena faktanya, Rossi lebih kerap "berkiprah" di meja operasi.

4) Adriano (Brasil)

Adriano seharusnya bisa jadi pemain terbaik dunia. (Foto: Twitter)
zoom-in-whitePerbesar
Adriano seharusnya bisa jadi pemain terbaik dunia. (Foto: Twitter)

Jika Adriano tidak pernah berhenti menjadi Adriano yang ada di Winning Eleven PlayStation 2, bukan mustahil satu gelar pemain terbaik dunia bakal jatuh ke tangannya. Bukan apa-apa. Adriano memang punya potensi sebesar itu. Dia memang (seharusnya bisa) sebagus itu.

Sebagai penyerang tengah, Adriano adalah purwarupa sempurna. Dia punya kekuatan, kecepatan, teknik olah bola yang bagus, serta tendangan yang (super) keras dan terarah. Zlatan Ibrahimovic muda tak ada apa-apanya dibanding Adriano muda.

Namun, Adriano kemudian berhenti jatuh cinta pada sepak bola. Penyebabnya adalah meninggalnya sang ayah pada 2004 silam. Meski masih sempat menjadi penyerang menakutkan di Serie A bersama Internazionale, pemain berjuluk "Sang Kaisar" ini perlahan jatuh ke pelukan depresi. Akhirnya, laku indisipliner pun jadi identik dengannya dan dengan demikian, kariernya pun praktis habis.

Beberapa klub seperti Sao Paulo, Flamengo, Roma, dan Corinthians sempat berusaha untuk membangkitkan kembali karier Adriano. Akan tetapi, sepak bola rupanya tak mampu mengisi lubang yang ditinggal sang ayah itu.

5) Javier Saviola (Argentina)

Saviola (kanan) di Piala Dunia U-20. (Foto: Twitter/FIFA)
zoom-in-whitePerbesar
Saviola (kanan) di Piala Dunia U-20. (Foto: Twitter/FIFA)

Adnan Januzaj gagal karena etos kerjanya buruk, Nicklas Bendtner gagal karena tingkah laku dan pola pikirnya yang absurd, Bojan Krkic gagal karena mentalnya tidak kuat untuk menahan beban ekspektasi, Giuseppe Rossi gagal karena cedera kambuhan, Adriano gagal karena kehilangan gairah bermain sepak bola, dan kini, saatnya kita bicara soal pemain yang gagal karena memang nasibnya saja yang sial: Javier Saviola.

Sudah ada cukup banyak pesepak bola yang disebut sebagai The Next Maradona dan Saviola adalah salah satunya. Penyebabnya, ketika masih memperkuat River Plate dulu, dia mampu memecahkan rekor Diego Maradona sebagai pencetak gol terbanyak paling muda di Argentina. Sejak itu pulalah nama Saviola dikait-kaitkan dengan klub-klub besar Eropa dan akhirnya, pemain bertubuh mungil ini hijrah ke Barcelona pada 2001 saat usianya masih 20 tahun.

Potensi Saviola memang luar biasa. Punya kecepatan dan kemampuan olah bola yang bagus serta ketajaman di depan gawang lawan, Saviola seharusnya menjadi jaminan mutu, baik bagi Barcelona maupun Tim Nasional Argentina. Pada 2004 lalu, Pele bahkan pernah memasukkan namanya ke dalam daftar 125 pemain terbaik sepanjang masa. Saviola jadi nama termuda ketika itu.

Namun, pada akhirnya semua orang tahu bahwa Saviola tidak pernah jadi Maradona berikutnya. Enam tahun di Barcelona, Saviola menghabiskan dua musim di pembuangan. Kemudian, setelah dilepas Blaugrana pada 2007, dia menjadi pemain pengembara dengan memperkuat enam klub berbeda sampai akhirnya pensiun di River tahun 2016 lalu.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi kepada Saviola? Well, selain ekspektasi berlebihan, tentunya, banyak pelatih yang salah memahami sifat dasar dari pemain satu ini. Meski punya giringan yang bagus, Saviola lebih sering dimainkan sebagai penyerang sayap. Alhasil, daya ledak Saviola yang diharap khalayak itu pun tak pernah benar-benar muncul.