kumparan
3 September 2018 20:04

Antara Cetak Biru Napoli, Sarri, dan Kesuksesan Chelsea

Chelsea
Pemain Chelsea merayakan kemenangan usai laga. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Chelsea berhasil membungkam Bournemouth 2-0 pada pentas Premier League pekan keempat. Kemenangan yang mengawetkan catatan kemenangan beruntun The Blues menjadi empat beruntun dan membuat mereka nangkring di posisi runner-up klasemen sementara dengan koleksi 12 angka, setara dengan Liverpool dan Watford.
ADVERTISEMENT
Sebuah langkah yang meyakinkan mengingat Chelsea sempat tenggelam musim lalu. Berstatus sebagai juara bertahan Premier League, Cesar Azpilicueta dan kawan-kawan cuma finis di peringkat lima edisi 2017/2018. Catatan negatif itulah yang memicu Chelsea untuk mengakhiri kerja samanya dengan Antonio Conte.
Maurizio Sarri yang ditunjuk jadi pengganti memang datang dengan bekal yang cukup mengenyangkan. Pria berusia 59 tahun itu sukses membawa Napoli finis di posisi ketiga dan runner-up dalam dua edisi Serie A termutakhir. Dari titel individu, Sarri pernah dilantik sebagai Pelatih Terbaik Serie A 2016/2017.
Namun, bukan berarti Sarri bersih dari keraguan. Premier League masih asing bagi mantan pelatih Empoli tersebut, belum lagi dengan format empat bek miliknya, artinya bakal mengubah pakem Chelsea yang sudah diusung dalam dua musim ke belakang.
ADVERTISEMENT
Terlebih, waktu Sarri tak genap sebulan untuk menyiapkan pasukannya mengarungi musim ini. Makin mengerucut pula setelah perlawanan Chelsea dikandaskan Manchester City di Community Shield Agustus lalu. Kendati begitu, semua anggapan itu berhasil dimentahkan Sarri. Caranya, ya, dengan kemenangan 100% yang berhasil dipersembahkannya untuk Chelsea.
Maurizio Sarri
Sarri berfoto di Stamford Bridge. (Foto: Reuters/John Sibley)
Sebenarnya, problem laten warisan Conte soal tumpulnya lini serang belum bisa teratasi. Olivier Giroud dan Alvaro Morata masih tak bertaji. Nama yang disebut belakangan cuma mampu mencetak satu gol, sedangkan Giroud masih alpa.
Di sisi lain, hal ini yang membedakan rezim Sarri dengan Conte: agresivitas. Toh, tumpulnya penyerang utama tak membuat Chelsea melempem. Sebagai perbandingan, hingga pekan keempat Chelsea sudah mengukir rata-rata 2,5 gol per laga, meningkat 0,5 dibanding torehan di musim lalu dalam durasi yang sama.
ADVERTISEMENT
Sarri adalah pelatih yang mafhum perihal produktivitas dan keberhasilannya membesut Napoli, adalah bukti yang sahih. Dalam tiga edisi Serie A ke belakang, Partenopei rata-rata mengukir 83,6 gol per musim. Unggul dari Juventus yang cuma mencatatkan rata-rata 79,3 dalam rentang waktu yang sama.
Bila Lorenzo Insigne yang jadi tumpuan Sarri bersama Napoli, di Chelsea dia punya Eden Hazard. Pemain yang secara kualitas sedikit lebih komplet ketimbang Insigne.Dengan kehadiran Hazard, sisi sayap yang jadi jalur serangan Sarri makin menjadi-jadi. Sumbangsih satu golnya ke gawang Bournemouth lalu jadi yang teraktual. Kini eks pemain Lille itu tak pernah absen berkontribusi langsung atas gol Chelsea di empat laga terakhir --2 gol dan 2 assist.
ADVERTISEMENT
Hazard tak sendirian, Pedro Rodriguez yang kembali menemukan permainan terbaiknya jadi alternatif Sarri di sisi kanan. Alumnus La Masia itu bahkan menjadi topksorer tim sementara dengan torehan 3 golnya.
Satu nama lagi yang tak bisa dijauhkan dari keberhasilan Chelsea, yakni Marcos Alonso. Peralihan posisi dari wing-back ke full-back nyatanya tak mengurangi ketajaman Alonso. Sedikit berbeda dengan Azpilicueta yang berada di tepi sebaliknya, Alonso diplot untuk intens merangsek ke kotak pertahanan lawan.
Skema tersebut juga dipengaruhi dengan Hazard yang rutin melakukan cutting-inside. Dengan begitu, Alonso bisa bergerak lebih ofensif untuk mengisi ruang kosong sepeninggal Hazard. Itulah mengapa pemain kelahiran Madrid itu menjadi yang paling aktif dalam melepaskan tembakan sebanyak tiga bila dirata-rata per laga. Agresivitas yang berbuah 1 gol dan 2 assist sejauh ini.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya trik semacam ini sebelas dua belas dengan yang diterapkan Sarri bersama Napoli. Kombinasi Alonso-Hazard adalah bentuk anyar dari Faouzi Ghoulam dan Insigne, dua pemain yang jadi motor serangan Sarri saat masih membesut klub asal Naples tersebut.
Morata, Alonso, dan Pedro Rayakan Gol Chelsea.
Chelsea raih kemenangan ketiga. (Foto: Reuters/John Sibley)
Tentu mengandalkan sisi tepi saja tak akan mampu memperpanjang eksistensi Sarri di Premier League. Itulah mengapa lini tengah Chelsea kini bertransformasi, dari sekadar pengatur distribusi bola dan pengikis serangan lawan menjadi alternatif untuk memecah kebuntuan.
Maka jangan heran bila Anda bakal lebih sering melihat N'Golo Kante wara-wiri di area pertahanan lawan ketimbang nangkring di garis tengah. Determinasi dan kemampuannya dalam membaca permainan jadi kombinasi ideal untuk membantu serangan.
ADVERTISEMENT
Agresivitas lini tengah ini juga yang membuat Chelsea sukses membungkam Arsenal di pekan kedua. Kante bersama Jorginho dan Ross Barkley berhasil memaksa Granit Xhaka untuk bermain lebih dalam --menemani Matteo Guendouzi yang ditugaskan melindungi back-four.
Secara keseluruhan, Sarri berhasil menjawab keraguan yang sempat bertebaran dengan apik. Cara paling simpel dan ternyata manjur adalah dengan mengopi cetak biru Napoli ke tubuh Chelsea. Langkah yang sejauh ini berhasil membawa The Blues melangkah mulus.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan