Apa Makna dari Sebuah Derby?

Sore itu, suasana Celtic Park begitu semarak. Puluhan ribu suporter tampak memadati stadion berkapasitas 60.832 tempat duduk tersebut. Teriakan-teriakan dari suporter begitu terdengar lebih menggema, dengan suara "Celtic, Celtic!” dikumandangkan di seantero stadion yang tersinari matahari. Merinding adalah sebuah keniscayaan jika Anda berada di situ.
Itulah suasana dari sebuah pertandingan derby. Khusus untuk penjelasan di atas, itu adalah suasana jelang Derby Old Firm, derby yang mempertemukan antara Celtic dan Rangers. Jika kedua tim asal kota Glasgow tersebut bertemu, baik itu di Celtic Park (kandang Celtic) maupun Ibrox Stadium (kandang Rangers), gemuruh itu akan terasa.
Namun, kita juga perlu tahu, apa sebenarnya makna dari derby itu sendiri. Apa ia sekadar pertandingan yang mempertemukan dua klub yang berasal dari satu kota yang sama? Atau apakah derby menyimpan makna yang lebih dalam daripada itu?
Asal Mula dari Kata “Derby” itu Sendiri
Jika membicarakan tentang derby, hal ini bukan hanya sekadar tentang pertemuan dua tim dalam satu kota saja. Secara etimologi, kata "derby" ini sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang, Kata "derby" muncul pertama kali dalam sebuah ajang balap kuda bernama The Derby, yang diselenggarakan pertama kali oleh Earl of Derby ke-12 pada 1780 silam.
Namun, memasuki 1840, kata "derby" ini tidak lagi hanya menjadi sebuah kata yang mengacu kepada sebuah ajang balap kuda semata. “Derby" berubah menjadi kata yang digunakan untuk merujuk kepada sebuah bentuk persaingan yang terjadi di dunia olahraga, termasuk di dalamnya adalah sepak bola.
Ya, kata yang awalnya lekat dengan persaingan kuda-kuda balap itu berkembang dan menjadi label persaingan kesebelasan-kesebelasan sepak bola —yang persaingannya acapkali diibaratkan seperti pacuan kuda.
Oleh karena itu, kata “derby” itu sendiri tidak bisa diartikan sebagai “persaingan antartim satu kota”. Maknanya luas. Ketika ada dua buah kesebelasan bersaing sengit —selayaknya dua kuda pacu yang berlomba— mereka bisa dikatakan sebagai sebuah “derby”.
Banyak derby yang kita kenal mempertemukan dua tim dari satu wilayah (atau kota) —ada Revierderby (Schalke vs Dortmund), Derby della Madonnina (AC Milan vs Inter Milan), maupun North London Derby (Arsenal vs Tottenham Hotspur). Tapi, seiring dengan berkembangnya zaman, secara pragmatik kata “derby" kini tidak hanya sekadar duel antartim satu kota; duel antar tim beda kota juga kerap disebut "derby", tergantung dari konteks dan situasi yang melingkupi duel tersebut.
Beberapa Derby Terkenal di Dunia Sepak Bola (Beserta Konteks di Dalamnya)
Jika berbicara mengenai sebuah pertandingan derby di sepak bola, ada beberapa yang bisa dianggap sebagai derby-derby terpanas di dunia. Di sini saya akan mengambil salah satu contoh di antaranya: Superclassico, derby yang mempertemukan antara River Plate dan Boca Juniors.
Kenapa pertandingan ini layak disebut sebagai sebuah derby? Jika mengacu kepada makna awal dari kata derby itu sendiri, pertandingan ini bisa disebut demikian karena menyajikan sebuah persaingan serta perseteruan yang cukup panas.

Namun, seperti yang diujarkan di atas, derby ini memiiki makna yang lebih luas dari sekadar pertandingan bertensi panas semata. Ada konteks, berupa gengsi dan harga diri yang dipertaruhkan. Gengsi dan persaingan antara masyarakat pelabuhan (kelas bawah) —yang mewakili Boca— dan masyarakat perkotaan (kelas atas) —yang mewakili River— menjadi bumbu yang menghiasi derby ini.
Lain Superclassico, lain hal pula dengan Derby Old Firm. Derby yang mempertemukan antara Celtic dan Rangers ini tidak hanya menyajikan sebuah persaingan yang ketat saja. Di dalamnya ada konteks yang disajikan, yaitu persaingan antara warga Katolik (Celtic) dan Protestan (Rangers), di mana yang satu (pendukung Rangers) menganggap yang lainnya (pendukung Celtic) hanya pendatang belaka. Dalam sejarah, pendukung Celtic kebanyakan memang berasal dari orang-orang keturunan Skotlandia-Irlandia.
Tentu saja, ada juga derby yang memang terjadi karena kedua tim merupakan rival satu kota, semisal Red Star dan Partizan (Beograd), Lazio dan AS Roma (Roma), Hamburg SV dan St. Pauli (Hamburg), serta Persita dan Persikota (Tangerang). Derby satu kota ini juga tidak kalah panas, beserta dengan konteks-konteks yang kerap ditambahkan pada derby tersebut.
Di samping derby-derby di atas, ada juga satu derby yang pada awalnya berawal dari persahabatan, tapi mengalami pergeseran konteks menjadi sebuah permusuhan. Derby dela Sole (Derby Matahari) yang mempertemukan AS Roma dan Napoli adalah contoh dari derby yang mengalami pergeseran konteks ini.
Derby ini pada awalnya adalah perwujudan maksud dari kedua tim untuk menjalin kekuatan bersama demi melawan kekuatan di Italia Utara. Tapi, karena sebuah percikan, termasuk penembakan yang dilakukan oleh Daniele de Santis (pentolan Ultras Roma) terhadap Ciro Esposito (suporter Napoli) membuat derby ini menjadi kental akan permusuhan.

Tapi, selain derby-derby yang memang menyajikan perseteruan sengit dan dibumbui oleh konteks-konteks berupa agama atau perbedaan kelas, ada derby yang hype-nya memang dibentuk oleh keramaian masyarakat atau media. Der Klassiker (Bayern lawan Dortmund) dan Derby Indonesia (Persib lawan Persija) adalah derby yang keramaiannya dibentuk oleh masyarakat dan media.
Derby, seiring dengan berkembangnya zaman, ternyata mengalami perkembangan dan perubahan makna yang cukup besar, tidak hanya soal persaingan antartim satu kota saja.
***
Seperti yang diujarkan oleh Ludwig Wittgenstein, filsuf asal Austria, bahwa realitas dibentuk oleh kata yang kita gunakan. Hal ini pula yang terjadi dalam kata "derby", yang mengalami banyak perubahan konteks sesuai dengan realita yang ditempelkan kepada kata tersebut.
Di masa depan, seiring dengan realita yang semakin berkembang, "derby" mungkin akan banyak mengalami perubahan makna, sesuai dengan konteks dan realita yang ditempelkan kepada dirinya. Tapi, pada dasarnya, "derby" adalah tentang sebuah persaingan dan bagaimana kita menyikapi persaingan tersebut sesuai konteks yang kita masukkan di dalamnya.
