Kumparan Logo

Diincar Real Madrid, Mane Pilih Fokus ke Final Liga Champions

kumparanBOLAverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sadio Mane memeragakan selebrasi setelah mencetak gol Liverpool ke gawang Wolverhampton Wanderers. Foto: Phil Noble/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Sadio Mane memeragakan selebrasi setelah mencetak gol Liverpool ke gawang Wolverhampton Wanderers. Foto: Phil Noble/Reuters

Real Madrid memang tidak ikut ambil bagian di final Liga Champions musim ini. Akan tetapi, nama mereka tiba-tiba saja muncul hanya beberapa hari sebelum partai puncak yang mempertemukan Liverpool dengan Tottenham Hotspur digelar. Munculnya nama Real ke permukaan ini ada sangkut pautnya dengan sosok Sadio Mane.

Mane mengakhiri musim 2018/19 di Premier League dengan gemilang. Bersama dua pemain Afrika lain, Mo Salah dan Pierre-Emerick Aubameyang, Mane sukses menggondol Sepatu Emas yang diperuntukkan bagi pencetak gol terbanyak. Kesuksesan Mane itu, konon, membuat Real Madrid kepincut.

Berkebalikan dengan Mane, Real menuntaskan musim 2018/19 dengan tangan hampa. Mereka gagal di semua kompetisi yang diikuti. Pelatih mereka, Zinedine Zidane, pun berniat melakukan perombakan skuat dan Mane disebut-sebut sebagai salah satu pemain idamannya.

embed from external kumparan

Namun, oleh Mane, kabar ketertarikan Real Madrid itu tidak dihiraukan. Pemain asal Senegal itu baru meneken kontrak baru bersama Liverpool dengan durasi lima tahun pada November silam dan dia mengaku bahagia menjadi bagian dari skuat The Reds.

"Bagiku, yang terpenting adalah Liverpool dan aku bahagia di sini. Sekarang aku tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi salah satu laga terbesar bagi klub ini serta para pemain dan fan. Fokusku hanya ada di laga ini dan bagaimana cara memenanginya," kata Mane dalam jumpa pers jelang laga.

"Spekulasi adalah bagian tak terpisahkan dari sepak bola dan kita semua harus menghadapinya. Adalah sebuah kehormatan dihubungkan dengan klub-klub besar seperti ini, tetapi jangan lupa pula bahwa Liverpool sanggup menundukkan tim-tim seperti itu," tambah pria 27 tahun tersebut.

Bagi Mane, final Liga Champions ini adalah kesempatan keduanya. Musim lalu dia sudah turun di partai puncak turnamen paling elite se-Eropa ini dan sukses mencetak satu gol. Namun, golnya ke gawang Real Madrid itu tak dapat menyelamatkan Liverpool dari kekalahan 1-3.

Real Madrid vs Liverpool Foto: Reuters/Phil Noble

Kekalahan musim lalu, ditambah kegagalan meraih gelar juara Premier League meski sudah mengumpulkan 97 poin, membuat Mane semakin termotivasi saja untuk mengalahkan Tottenham di final Liga Champions musim ini.

"Rasanya luar biasa bisa berada di partai final yang lain dan aku sangat yakin kami bisa menang. Sebelumnya kami punya dua target, yaitu menjuarai Premier League dan Liga Champions. Di liga kami gagal tetapi kami masih punya satu trofi lagi untuk diperebutkan. Kami akan mengerahkan segalanya untuk menang. Kegagalan menjadi juara liga memberi kami motivasi ekstra," kata mantan pemain Southampton tersebut.

"Kami juga banyak belajar dari final musim lalu. Kami punya pengalaman lebih dan kami akan manfaatkan itu. Semakin sering kamu bermain di pertandingan seperti ini, rasanya semakin mudah. Sekarang, kami lebih tahu caranya menghadapi situasi seperti ini," tutup Mane.