Kumparan Logo

Dua Dekade Sejak Romansa Tragis Inter dan Ronaldo Dimulai

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ronaldo dan Inter bak pasangan yang dikutuk. (Foto: Claudio Villa/Allsport)
zoom-in-whitePerbesar
Ronaldo dan Inter bak pasangan yang dikutuk. (Foto: Claudio Villa/Allsport)

Belakangan ini, nama Ronaldo tengah gencar diberitakan ingin hengkang dari Real Madrid. Berita kepindahan pemain satu ini memang kerap mendominasi headline berita olahraga di mana pun. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat dia merupakan satu dari dua pesepak bola terbaik di muka bumi.

Akan tetapi, jauh sebelum rumor kepindahan Ronaldo mulai viral, dua puluh tahun lalu bursa transfer sepak bola pun diramaikan oleh pemain dengan nama sama. Pemain yang dimaksud tentunya bukan Cristiano Ronaldo, melainkan Ronaldo Luiz Nazario de Lima alias Ronaldo "Sang Fenomena".

Di awal musim 1997/1998, Internazionale Milano resmi mengikat Ronaldo dari Bacelona. Tak tanggung-tanggung, I Nerazzurri berani membayar mahar sebesar 48 miliar lira atau setara dengan 19 juta poundsterling yang kemudian memecahkan rekor transfer saat itu. Ronaldo bergabung bersama Alvaro Recoba ,Diego Simeone, dan Taribo West yang dibeli di periode yang sama.

[Baca Juga: Malam di Mana Ronaldo Menari di Paris]

Inter sendiri saat itu sedang melakukan perombakan skuat setelah pada musim sebelumnya finis di peringkat ketiga. Sayangnya, tujuan utama mereka mendatangkan Ronaldo tak tercapai karena selama empat musim merumput di Giuseppe Meazza, pria yang kini berusia 40 tahun itu gagal mempersembahkan scudetto. Meski begitu, Ronaldo sebenarnya punya alasan kuat di balik kegagalan itu.

Ronaldo seharusnya bisa berbuat lebih banyak. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Ronaldo seharusnya bisa berbuat lebih banyak. (Foto: Getty Images)

Untuk menceritakan kisah ini, ada baiknya kita melongok dulu alasan Inter berani merogoh kocek dalam-dalam untuk memboyong Ronaldo. Kendati hanya semusim membela Barcelona, pemain kelahiran Rio de Janeiro itu mampu beradaptasi dengan cepat dan sukses meraih gelar El Pichichi lewat 34 gol yang disarangkannya.

Ronaldo memang gagal mempersembahkan gelar La Liga untuk Barcelona tetapi trofi Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan Piala Winners sukses diboyongnya ke Camp Nou. Dari total 49 penampilan di semua ajang, Ronaldo berhasil membukukan 47 gol. Tak heran jika torehan semacam itu kemudian diganjar dengan label pemain termahal dunia.

Sayangnya, nasib Inter tak semujur El Barca. Salah satu hari terburuk Ronaldo terjadi pada 21 November 1999 saat melakoni laga kontra Lecce. Dia mengalami cedera lutut dan harus dibawa ke meja operasi.

Lima bulan kemudian, Ronaldo telah kembali turun saat Inter berhadapan dengan Lazio di babak final Coppa Italia. Namun, cedera di area lutut kembali dialaminya sehingga dia harus kembali menepi dalam waktu yang cukup lama.

Apes nian nasib Ronaldo. Bayangkan saja, sejak musim panas 1999 hingga 2001, dia hanya bermain sebanyak delapan kali!

Ronaldo de Lima saat debut di Timnas Brasil (Foto: Al Belo)
zoom-in-whitePerbesar
Ronaldo de Lima saat debut di Timnas Brasil (Foto: Al Belo)

Situasi tersebut amat kontras dengan aksinya di musim perdana tatkala sukses mencetak 25 gol dan membawa Inter menjadi runner-up di bawah Juventus. Tak hanya itu, pencetak gol terbanyak Eredivisie periode 1994/1995 tersebut juga berhasil membantu pasukan Luigi Simoni meraih Piala UEFA dan menyumbangkan enam gol di ajang itu.

[Baca Juga: Ronaldo: Antara Legenda dan Obesitas]

Setelah sembuh dari cedera, Ronaldo sempat bangkit dengan torehan empat gol yang membawa Inter hanya tinggal selangkah lagi merengkuh scudetto setelah penantian lebih dari satu dekade. Nahas, Cupid memang tak merestui kisah Ronaldo dan Il Biscione.

Di laga pemungkas musim 2001/02, Inter malah takluk 2-4 dari Lazio dan mesti mengubur dalam-dalam hasrat untuk menjadi juara. Laga itu sendiri akhirnya menjadi laga perpisahan Ronaldo dengan Inter. Pada musim berikutnya, Ronaldo memilih untuk hengkang ke Real Madrid.

Secara keseluruhan, Ronaldo bermain sebanyak 99 kali dan sukses menceploskan 59 gol bagi Inter. Rasio yang tak buruk sebenarnya. Namun, bayangkan jika Ronaldo tidak harus mengalami cedera parah itu. Romansa antara dirinya dengan Inter pun pasti bakal berakhir dengan bahagia.