Kisah Riyad Mahrez: Yatim di Umur 15 Tahun, Kini Juara Liga Inggris

Puasa, Bertanding, dan Juara. Itulah yang dilakukan Riyad Mahrez pada Ramadhan tahun ini. Meski sudah sukses, karier sang pemain ternyata tak lepas dari pasang-surut.
Riyad Karim Mahrez lahir di Sarcelles, sebuah kawasan di pinggiran utara Kota Paris, Prancis, pada 21 Februari 1991. Kedua orang tuanya berkebangsaan Aljazair.
Mahrez juga memiliki darah Maroko dari sang ibu, Halima. Meskipun lahir di Prancis, kecintaannya terhadap Aljazair tidak pernah hilang. Ia buktikan hal itu dengan memilih memperkuat tim nasional tanah air leluhurnya tersebut.
Mahrez menjadi perhatian besar sejak membawa Leicester City juara Liga Inggris pada 2015/16. Performa dan perannya untuk The Foxes yang ketika itu dilatih oleh Claudio Ranieri memang layak diacungi jempol. Ia berhasil mencetak 18 gol dan 10 assist dalam 39 laga.
Kini, pemain berusia 30 tahun tersebut menentukan sukses klubnya, Manchester City, ke final Liga Champions 2020/21. Final yang akan digelar pada 29 Mei nanti.
Dalam dua semifinal Liga Champions 2020/21, Riyad Mahrez mencetak gol di dua laga tersebut, satu gol di laga pertama dan dua gol di pertandingan kedua. Artinya, sepanjang Ramadhan dan saat berpuasa, ia mampu mencetak tiga gol.
Bersama Manchester City pula, Mahrez berhasil meraih trofi juara Liga Inggris musim ini. Dengan demikian, ia telah mengoleksi tiga gelar sejak bergabung dengan The Citizens pada tahun 2018 silam.
Man City dan Mahrez juga berpeluang besar untuk meraih treble di musim ini, setelah sebelumnya berhasil memenangi Piala Liga Inggris. Akan tetapi, perjalanan Mahrez menggapai semua itu tidaklah mudah.
Mahrez selalu berbakat secara teknis, tapi tubuhnya yang ramping menghalangi klub-klub meminangnya secara permanen.
Faktanya, sebelum secara resmi memulai kariernya dengan klub divisi empat Prancis, Quimper, Mahrez muda menghadiri uji coba di klub Skotlandia St Mirren pada 2009.
Dalam sebuah wawancara dengan L'Equipe, Mahrez membuka pengalamannya tentang betapa sangat dinginnya cuaca di Skotlandia saat itu.
“Seorang agen, Jean Evina, mengatakan kepada saya bahwa dia mendapat uji coba untuk saya di Divisi Pertama Skotlandia St Mirren,” kata Mahrez, dikutip dari Sportbible.
"Dia membayar tiket saya dan saya pergi dengan pria lain dari (pinggiran kota Paris) Sarcelles, Dany Bekale,” ujar Mahrez.
"Itu berjalan dengan baik. Saya memainkan empat pertandingan persahabatan dan saya mencetak tujuh gol, saya seolah membunuh mereka. Dan, kemudian mereka membuat saya menunggu selama dua setengah bulan," kenangnya.
Mahrez mengakui sudah cukup menunggu selama berbulan-bulan, jadi dia meminjam sepeda untuk melarikan diri.
"Itu (situasi di Skotlandia) membuatku gila. Di sana dingin. Itu pelecehan. Saat itu turun salju dan segalanya. Saya sangat kedinginan, sehingga suatu hari saya memalsukan cedera untuk pergi ke ruang ganti," tuturnya.
"Kami harus berlatih di salju. Saya merasa bahwa saya bisa tinggal di sini lebih lama. Saya tidak diizinkan untuk pergi, jadi saya pergi secara rahasia,” kenangnya.
Beberapa hari kemudian setelah itu, agen Mahrez berkata: “Riyad, saya sudah mengirimkan tiket, kamu langsung naik bus, turun di Stasiun Glasgow dan kamu naik kereta ke bandara, lalu kamu naik pesawat ke Paris.”
"Saya tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Saya meninggalkan sepatu bot saya di tempat latihan. Saya meminjam sepeda dari seorang pria dari hotel, dan saya pergi tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan wanita itu di hotel. Saya pergi melalui tangga untuk menghindari keramaian," papar Mahrez.
Mahrez juga berbicara tentang situasinya dengan Unscriptd beberapa tahun kemudian.
"Saya sangat senang bisa kembali karena Skotlandia sangat sulit dan sangat dingin. Saya masih muda. Saya tidak pernah jauh dari keluargaku selama itu," ungkap Mahrez.
Terlepas dari semua hal negatif seputar petualangannya di St Mirren, Mahrez mengakui ada beberapa hal positif dari pengalaman itu.
"Dalam dua bulan ini di Skotlandia saya meningkat secara fisik. Saya bermain dengan semangat Inggris juga, itu sama dengan pola permainan Inggris,” tuturnya.
"Secara fisik sangat intens dan saya pikir dua bulan ini membantu saya. Ketika saya kembali ke Prancis, saya memiliki pergerakan yang lebih baik, hal-hal yang lebih baik dalam kualitas saya," tutupnya.
Mahrez juga tercatat menjadi pemain pertama dari Aljazair yang meraih gelar Liga Inggris. Karena itu, wajar pula jika kemudian namanya pun mendapatkan penghormatan dari publik Aljazair, khususnya di sebuah wilayah bernama Beni Snous.
Beni Snous merupakan bagian dari Provinsi Tlemcen, Aljazair. Mahrez sendiri tidak lahir di sana, tetapi dia tahu itulah tempat di mana ayahnya lahir dan besar.
Ayahnya, Ahmed Mahrez, merupakan figur yang sangat berpengaruh dalam masa kecil Riyad Mahrez. Dari ayahnya pula, Mahrez mulai mengenal sepak bola. Hal tersebut karena sang ayah memang pemain sepak bola di negerinya.
Karena kedekatan itu pula yang membuat Mahrez sempat terguncang ketika kehilangan ayahnya, yang wafat karena serangan jantung ketika sang pemain masih berusia 15 tahun.
"Ketika itu saya sempat tidak tahu apa keinginan saya. Namun, ayah telah memberikan bekal kepada saya, dua hal yaitu keyakinan saya (Islam) dan sepak bola," ucap Riyad Mahrez, dikutip dari Telegraph.
Karena pegangan Islam yang kuat itu pula, Riyad Mahrez tidak mau berputus asa. Ketika itu, statusnya memang sudah menjadi bagian klub junior kota kelahirannya, AAS Sarcelles.
Riyad Mahrez masuk ke akademi klub itu sejak 2004 atau dua tahun sebelum kepergian ayahnya. Sebaliknya, dia pun bertekad untuk membuat almarhum ayahnya bangga.
"Dia memberi saya dukungan. Dia (ayahnya) bermain di tim-tim kecil di Aljazair dan Prancis," ujar Riyad Mahrez yang saat duka tersebut.
Wissam Ben Yedder, yang merupakan temannya sejak kecil, mengakui melihat perubahan dalam diri Riyad Mahrez.
"Dia tidak hanya rajin berlatih sepak bola melainkan juga rajin berdoa bersama (salat berjamaah di masjid) dan membaca Al-Quran," tutur Ben Yedder, yang kini bermain di Monaco.
Menurut catatan Transfermarkt, Mahrez telah mencetak 98 gol dan 85 assist dari 386 pertandingan di level klub sejauh ini. Adapun bersama Timnas Aljazair, ia sudah menorehkan 19 gol dari 62 caps.
****
