Kisah Striker Tira-Persikabo, Silvio Escobar, Belajar Memahami Bahasa Indonesia

Silvio Escobar bukanlah pemain baru di Liga Indonesia. Tercatat, ia sudah bermain di sini sejak 2014.
Mengawali karier bersama Persepam Madura United, sekarang sudah sekitar enam tahun Escobar berkarier di Indonesia. Berbagai klub sudah ia bela, mulai dari PSM, Bali United, Perseru, Persija, hingga PSIS.
Dengan banyaknya klub yang sudah ia bela ini--musim 2020 ia membela PS Tira-Persikabo--, tentu Escobar sudah makan asam garam soal kondisi sepak bola Indonesia. Ia bahkan menyebut Indonesia adalah rumah kedua baginya.
Kepada kumparanBOLA di Sentul City, Kamis (12/3/2020) siang WIB, Escobar bercerita soal pengalamannya selama enam tahun bermain di Indonesia, serta soal pengalamannya belajar bahasa Indonesia, yang terbilang unik.
****
Mengenakan topi dan kaus berwarna hitam, Escobar terlihat cukup kalem siang itu. Ya, pengalamannya main enam tahun di Indonesia, tentu membuatnya tahu apa yang harus dilakukan dalam sebuah sesi wawancara bersama wartawan Indonesia.
Perlahan, Escobar memulainya dengan bercerita tentang perkembangan kompetisi sepak bola Indonesia. Ia ingat, pertama kali datang ke Indonesia, kompetisi sepak bola Indonesia masih berformat Liga Super Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, disertai pula dengan proses pembekuan plus masa-masa Indonesia Soccer Championship, Escobar melihat ada perkembangan yang ditunjukkan oleh kompetisi sepak bola Indonesia.
"Waktu saya pertama datang, regulasinya jauh beda. Sekarang, karena ada perubahan regulasi, saya melihat Liga Indonesia lebih maju dibandingkan empat atau lima tahun lalu. Semoga ke depan jadi lebih baik," ujar Escobar.
Selain soal regulasi kompetisi yang perlahan membaik, Escobar juga melihat jika ada satu hal yang tetap tidak berubah dari pertama ia datang sampai sekarang: Animo suporter. Sampai kini, animo itu tetap terasa kuat.
Ada satu pengalaman yang mengena di hati Escobar soal suporter. Pada laga penutup Liga 1 2017, sosok asal Paraguay itu jadi bagian dari tim Perseru yang bertandang ke Stadion Si Jalak Harupat melawan Persib.
Saat itu, situasi Perseru sedang sulit. Jika kalah, mereka terdegradasi. Mereka harus memenangi laga, di tengah dukungan suporter Persib yang memenuhi stadion. Alih-alih membuat takut, dukungan suporter Persib justru membuat mereka makin semangat.
"Saya ingat waktu 2017 ga salah. Waktu itu lawan Persib. Saat itu pertandingan terakhir, kalau kalah kami terdegradasi. Waktu itu kita menikmati (atmosfernya)," ujar Escobar.
"Saat kami cetak gol, itu bikin motivasi kami lebih semangat. Kami memang harus menang. Tapi, ya, untuk suporter, ada juga Persija, PSS, Persebaya, jadi pengaruh dalam pertandingan ya suporter itu," tambahnya.
Selain suporter, ada satu pengalaman unik lain yang dialami Escobar, yakni ketika ia belajar bahasa Indonesia. Ini terjadi pada 2014 lalu, tahun pertamanya di Indonesia. Kala itu, ia berusaha keras belajar bahasa Indonesia.
Ada logika unik yang digunakan oleh Escobar saat ia belajar bahasa Indonesia. Ia sadar tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Maka, daripada belajar bahasa Inggris, ia memutuskan untuk langsung belajar bahasa Indonesia.
"Kalau untuk belajar bahasa Indonesia mungkin, selama tiga bulan, saya sudah bisa. Saya banyak tanya sama rekan setim saya soal bahasa Indonesia, dan dari situ saya mulai bisa berbahasa Indonesia, seperti 'ayo makan', 'ayo minum', 'ayo ke Indomaret'," ujar Escobar.
"Selama tiga bulan, saya jadi paham harus seperti ini, seperti ini. Intinya, saya memang harus bisa bahasa Indonesia karena saya main di Indonesia. Saya pribadi mulai paham bahasa Indonesia waktu main di Madura (Persepam)," tambahnya.
Sekarang, Escobar sudah lancar berbahasa Indonesia. Per 2018 kemarin, ia sudah menjalani proses untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ia memang memiliki istri orang Indonesia bernama Merry Marsita Escobar.
Akhirnya, pada awal 2020, Escobar resmi menyandang status sebagai WNI. Dukungan dari keluarga dan istri, ditambah rasa terima kasihnya kepada Indonesia, mendorongnya untuk melakukan ini.
"Ya, saya menikah dengan orang Indonesia, akhirnya saya memutuskan jadi WNI. Keluarga juga mendukung. Saya juga harus berterima kasih kepada Indonesia, karena Indonesia sudah memberikan banyak hal buat saya," ujar Escobar.
***
Berstatus sebagai pemain naturalisasi, Escobar nyatanya tidak pelit berbagi ilmu dengan pemain asing. Ia mengaku banyak membantu pemain asing Tira-Persikabo yang lain untuk memahami kondisi dan atmosfer sepak bola Indonesia.
"Memang ada hal-hal yang perlu mereka tahu soal Indonesia, dan saya ajarkan kepada mereka soal itu. Saya juga mengajarkan sesuatu yang dasar Indonesia sama mereka, apalagi saya memang sudah tahu kondisi Indonesia," ujar Escobar.
"Jadi kalau mereka tanya, saya tak segan membantu mereka. Itu agar mereka lebih mudah berteman dengan rekan setim. Sedikit-sedikit lah saya ajarkan kepada mereka juga (soal berbahasa Indonesia)," lanjutnya.
Tantangan berat sudah menanti Escobar di depan. Setelah catatan yang buruk bersama Persija dan PSIS, ia diharapkan dapat mengangkat performa Tira-Persikabo di Liga 1 2020. Semestinya, dengan pengalamannya, ia bisa melakukan itu.
