Kumparan Logo

Melihat Aremania Dulu dan Kini bersama Yosep El Kepet

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yosep El Kepet, suporter senior Arema FC. Foto: Dok. Shopee
zoom-in-whitePerbesar
Yosep El Kepet, suporter senior Arema FC. Foto: Dok. Shopee

“Saya belum mendengarkan teriakan seperti di stadion. Jadi Aremania jangan loyo! Ayo!”

Yosep El Kepet berdiri di atas panggung dan memimpin Aremania untuk menyanyikan yel-yel untuk Arema. Kali ini jumlahnya bukan ribuan, tetapi hanya puluhan. Kali ini tak harus melawan panas terik (dan kadang bau badan menyegat) di stadion, tetapi di tempat nyaman seperti Kedai Andika Eiskaffe.

Yosep sendiri diperkenalkan Shopee di acara Nongkrong Bareng Aremania pada Rabu (6/11/2019) malam WIB sebagai eks dirigen Aremania. Dengan hadirnya kata eks, ini artinya hari-hari Yosep menebar kegilaan dan mimpi buruk untuk lawan-lawan Arema di stadion sudah lama berlalu.

Meski begitu, bagi Aremania, kata-katanya tetap memiliki sihir. Setelah Yosep bersabda, para Aremania lupa bahwa tak ada tuntutan di acara tersebut untuk menunjukkan bahwa mereka adalah Aremania sejati. Seketika, rasa malu hilang, para Aremania berdiri, dan terdengar sangat keras dan jelas ragam yel-yel Arema. Salah satu yang dinyanyikan mereka ialah ‘Kami Selalu Ada’, karya milik d’Kross.

Sehari berselang, kumparanBOLA dan sejumlah pewarta bertemu Yosep. Lagi-lagi bukan di stadion. Pertemuan kali ini terjadi di Javanine, sebuah restoran mewah dengan konsep Jawa Timur – yang anehnya memutar lagu-lagu pop barat. Dalam agenda makan siang yang santai itu, mendadak terbesit pertanyaan seperti ini: Sebenarnya, Yosep rindu tidak, sih, menjadi dirigen Aremania?

“Sebaik-baiknya menonton bola itu di televisi, Golnya kelihatan semua. Entah sudah berapa banyak gol yang saya lewatkan waktu saya menjadi dirigen. Lha, gimana, kan saya selama ini selalu lihat ke arah suporter?” jelas Yosep.

Jadi, tidak mau nonton laga Jumat (8/11/2019) nanti di stadion, nih? ‘Kan itu Derbi Jawa Timur. Arema melawan Madura United di Kanjuruhan.

"Saya nonton, tetapi di televisi, lah. Sekarang status saya hanya ultras layar kaca sajalah," jawabnya.

Yosep sudah merasa cukup menjadi pemimpin di stadion, dan itu sangat dimaklumi. Arema berdiri pada 1987, dan separuh hidupnya dihabiskan untuk mendukung tim berjuluk ‘Singo Edan’ itu. Namun, berita baiknya untuk para pewarta termasuk kumparanBOLA, dia memiliki banyak cerita yang bisa dibagi.

kumparan post embed

Yosep sendiri tentu sudah merasakan fase transisi dari fanatisme barbar Aremania ke yel-yel kreatif. Kata Yosep, sebenarnya orang-orang Malang sudah sejak lama memiliki kegilaan dengan musik. Dulu, sekitar pada masa 80-an, Stadion Gajayana dan GOR Pulosari sering menjadi venue konser. Setiap acara konser bakal ramai didatangi orang-orang Malang, dan, tentu saja, mereka bakal menyanyi.

“Kalau ada penyanyi salah lirik, habislah dia. Bisa dipukuli, karena orang-orang Malang tahu lagu yang benarnya seperti apa. Saat muncul Arema, kultur ini pelan-pelan digeser ke sepak bola. Butuh waktu, baru pada 1997 atau 1998 ini menjadi budaya,” jelas Yosep.

***

Zaman dulu, kan, mencari musik dan lirik tak semudah sekarang. Terus, gimana caranya bikin yel-yel?

"Lagu-lagu awal Arema itu inspirasinya dari Piala Dunia 1986. Eh, itu yang edisi Meksiko, kan? Lagu diputar dari kaset bekas, suara udah gak karuan, lah, jelas. Kemudian kata per kata dicatat di kertas. Terus setelah itu baru cari terjemahan ke Bahasa Indonesia. Setelahnya, baru disebar."

Sebegitunya, ya, dengan klub kesayangannya?

"Hahaha. Eh, tapi, jangan kira dulu menjadi pemain Arema itu mudah, lho. Dulu, kalau manajemen tak memenuhi hak pemain, kami memang maju membela. Tetapi, kalau ada pemain yang bikin salah, bisa jadi satu atau dua hari enggak berani keluar rumah."

Itu gara-gara tekanan dari Aremania?

"Bukan cuma itu. Dulu, pagi-pagi itu, ibu-ibu pada gosip tentang Arema. Terus dikata-katain itu pemain Arema yang tampil jeblok. Di jalan, kalau ada pemain Arema yang mainnya jelek, sudah, habis dikata-katain. Kalau sekarang lebih enak pemain-pemain Arema diajak foto saat lagi di luar."

"Tapi, Aremania sama pemain-pemain Arema itu dekat banget. Enggak kayak sekarang. Mungkin, karena berpikir sudah profesional, jadi harus bikin schedule dulu."

Dekatnya gimana?

"Jadi, dulu itu biasa Aremania dengan pemain Arema itu ngobrol-ngobrol. Bisa bicara apa saja, tuh. Ada yang curhat gajinya belum dibayar. Besok, manajemen diteror Aremania diminta lunasin gajinya. Kalau udah gitu, mau gak mau itu manajemen."

***

Sebagai seorang mantan dirigen, ingatan Yosep sudah banyak merekam banyak kekonyolan tingkah pola Aremania. Paling pertama diingatnya, ialah cara Aremania mengerjai calo tiket yang berada di sekitar Stadion Kanjuruhan. Terutama di laga besar seperti melawan Persebaya.

“Jangan salah, calo itu sudah sering rugi, lho, gara-gara suporter. Jadi, pernah dulu pas lawan Persebaya, suporter pada bilang, ‘Tiket habis, tiket habis.’ Padahal, calo lagi pegang banyak tiket. Jadinya tidak ada yang beli tiket dari calo,” ucap Yosep.

kumparan post embed

Pengecualian untuk pertandingan melawan Persija Jakarta. Fans Persija dan Arema sendiri merupakan sahabat, dan inilah yang membikin Aremania memiliki hasrat besar untuk menyaksikan ketika dua tim berduel. Imbasnya, muncul lahan basah untuk para calo meraup keuntungan sebesar-besarnya.

“Harga aslinya untuk tiket VVIP ‘kan 150 ribu sampe 200 ribu, tetapi bisa dijual sejuta kalau lawan Persija. Ngomel-ngomel tuh, tetapi tetap ujung-ujungnya dibeli,” kelakar Yosep.

Soal pertemanan Arema dan Persija, Yosep merupakan salah satu yang merajutnya. Menariknya, kisah awal pertemanan ini tak ada sangkut pautnya dengan tim berjuluk ‘Macan Kemayoran’ itu.

“Waktu itu Pelita Jaya masih ada, begitu juga The Commandos. Perkiraan saya, 1997 dan 1998, kami tur tiga bis. Kami bertemu Bung Ferry dan Gugun. Mereka juga datang ke mari membangun komunikasi. Puncak pertemanan itu pada tahun 2000. Pertemanan itu bertahan sampai sekarang,” jelas Yosep.

***

Lah, terus gimana bisa nyambung ke Persija?

"Orang-orang Malang ini kan banyak merantau di Jakarta. Lagipula, pertemanan itu bisa dibangun dengan banyak cara. Minum bareng, misallnya, atau jalan bareng ke Classic. (Bagi orang luar Jakarta, Classic itu adalah salah satu tempat hiburan dewasa di Jakarta). Tetapi, anak-anak Persija itu kurang ajar."

Lho?

"Iya, Anak-anak Persija itu kurang ajar. Saya bilang ke Bung Ferry, saya ingin bikin ajukan peraturan. Orang-orang Jakarta datang ke sini, pulang-pulang bawa cewek Malang. Saya ingin larang!"

Ah, Sialan. Saya kira tadi serius.

"Kalau Persija dan Arema itu jelas temanan, tetapi suka saling mengerjai. Setiap anak-anak Persija ke sini, sudah siapkan jamuan. Bagaimana caranya, mereka tidak nonton. Kami tuangin. Minuuuum. Minuuuum. Tak temani ke stadion, tetapi mereka sudah tak sadar. Tapi, kami ke sana mereka juga gituin kami."

Yosep El Kepet, suporter senior Arema FC. Foto: Dok. Shopee

Memang boleh ke stadion dengan keadaan minum?

"Zaman saya dulu gitu, biar memanaskan suasana. Ini minum dulu sebelum main. Kadang pertandingannya sudah selesai, tetapi tak tahu apa-apa gara-gara mabuk. Setelah itu, baru nanya skornya berapa siapa yang nyekor, biar tahu jawabannya waktu pulang ke rumah."

"Sering, lho, ada yang jatuh. Saya ketawa saja, mabuk dia. Stadion itu tempat berkumpulnya para peminum. Rata-rata, di Indonesia sama, kok."

Jadi, Arema dan Persija benar bersahabat, 'kan?

"Bagi saya, persahabatan dua suporter di Indonesia tidak ada yang seperti Arema dengan Persija. Tak gila gimana? Bayangkan, di GBK, kandang Persija, Persija dihajar 1-5 waktu Arema pesta juara pada 2010. Tetapi suporternya biasa saja. 'Meski kalah, mereka teman saya,' mungkin gitu kata mereka."

"Ini 'kan artinya fans Persija penyayang dan pemaaf. Hahaha."

***

Sebenarnya, Bandung dan Malang memiliki banyak kemiripan. Malang memiliki Jalan Veteran, dan suasananya tak jauh beda dengan Jalan Ir. Juanda yang berada di Bandung. Kedua kota ini sama-sama dekat dengan gunung, dan memiliki suasana tenang yang khas setelah hujan turun.

Meski memiliki banyak kemiripan, tetapi Yosep merasa Aremania terasa jauh dengan Persib Bandung. Sampai saat ini, dia belum menemukan jawaban pasti terkait ini. “Yang sampai sekarang saya bingung, fans Persib sama Aremania itu ada masalah apa, ya? Waktu itu, yang acara Indosiar, saya di situ. ‘Oh, oh, kok pukul-pukulan gitu?’ Mungkin, gara-gara solidaritas,” ucap Yosep.

Acara Indosiar yang dimaksud Yosep adalah Kuis ‘Siapa Berani’ dan insiden tersebut terjadi pada 2003. Kejadian tersebut sering disebut-sebut sebagai cikal bakal memanasnya rivalitas Persib dan Persija. Soal solidaritas, Persib sendiri bersahabat dengan Persebaya – yang notabene rival Arema.

Pendukung Arema FC melakukan gerakan koreografi saat melawan Persija Jakarta dalam pertandingan lanjutan Liga 1 2019 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

“Sayang sekali, sebenarnya. Padahal, kalau dulu tur di Bandung itu enak banget. Dulu, kalau ke sana, saya pasti bakal ke pondok pesantren. Tinggal bilang tukang taksi, pasti paham,” kelakar Yosep. Soal pesantren yang dimaksud Yosep itu tentu saja Saritem. Psst… jangan bilang mamamu kami beri tahu tempat ini!

***

Sekarang Yosep sudah mengurangi aktivitasnya di dunia suporter. Dengan begitu, dia pun sering mengamati perubahan kultur fans dulu dan sekarang. Baginya, kemajuan zaman membikin Aremania masa kini lebih beruntung daripada pada masa-masanya menjadi dirigen suporter dulu.

“Yang menarik di Malang itu begini. Dulu, paling jauh merchandise Arema itu datangnya dari Bandung. Kemarin saya lihat syal. Saya tanya, ‘Dari mana?’ Produk syal bukan datang dari China, tetapi Jerman. Jerman, loh, gila,” jelas Yosep.

“Zamannya enak sekarang. Tak perlu datang capek-capek, tinggal pesan merchandise klub di Shopee. Gratis ongkir, 'kan. Kesadaran fans juga sudah terbentuk bahwa dukungan untuk tim kesayangantak hanya dari datang ke stadion, tetapi beli merchandise,” imbuhnya.

Dari amatan Yosep, Aremania masa kini lebih melek soal fesyen. Tetapi, yang bikin dia geleng-geleng adalah munculnya kultur casual, yang biasanya mengenakan jaket tracktop, celana jins atau sweatpants, sepatu yang enak digunakan lari seperti Adidas Beckenbauer, dan syal untuk menutup mulut.

“Dulu, 'kan, ada saja yang pakai sandal jepit dan kami suruh pulang. Saya bilang, ‘Kalau kamu ingin bersama saya di bawah skor, kamu pakai sepatu. Terserah, mau bolong apa gimana, harus dipakai’,” kenang Yosep.

“Tetapi, sekarang beda. Arek Malang ini kan gengsinya tinggi. Kultur casual itu keren, tetapi kadang saya ingin ketawa. Iki orang gendeng, opo? Malang ini panaaaas. Pakai jaket, syal menutup mulut. Gendeeeng, gendeeeeng. Tetapi, mungkin itu trennya dukung tim dengan gaya casual,” imbuhnya.

Kultur casual sendiri jelas datang dari Eropa, dan ini bukan satu-satunya yang diadopsi kultur fans Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang. Hal lain yang paling mencolok, adalah munculnya tifo – spanduk besar berisikan gambar pemain yang dibentangkan fans di satu sisi stadion.

Tentu, Yosep tahu zaman bakal terus berubah. Akan tetapi, dia tak ingin kultur fans Indonesia, apalagi Arema, terus digerus habis dengan hasrat meniru apa yang ditunjukkan fans-fans tim di nun jauh di Eropa sana. Karena Indonesia pun memiliki gaya sendiri, yang tentu saja, terlalu sayang jika itu punah.

“Dulu, kami tidak tahu ultras dan casual. Satu-satunya yang bisa kami tiru itu dari Serie A, yang [pada era 90-an] tayang di RCTI. Tetapi, sekarang gaya dan tradisi suporter luar tuh diadopsi habis. Sayang sekali. Padahal, kita masih punya identitas kultur lokal,” ucap Yosep.

“Kalau saya, sebenarnya ingin melihat kami bertarung kreativitas. Coba kombinasikan kultur luar dan lokal, lah. Karena di mata saya, kalah, lho, kreativitas Arema dengan klub-klub yang lain,” pungkasnya.