Menerka Starting XI Ideal Timnas Indonesia vs Yordania

Ada perubahan cukup mencolok yang dibawa pelatih Simon McMenemy ke Timnas Indonesia. Saat pertama kali ditunjuk sebagai pelatih, ia setidaknya membawa sembilan nama baru yang di masa kepelatihan Luis Milla tak pernah disertakan.
Nama-nama itu adalah Novri Setiawan, Ruben Sanadi, Yustinus Pae, Yanto Basna, Arthur Bonai, Rizky Pellu, Manahati Lestusen, Wahyu Subo Seto, dan Greg Nwokolo.
Lebih dari itu, McMenemy juga membawa skema yang juga terbilang anyar. Jika bersama Milla Timnas Indonesia kerap bermain dengan skema 4-2-3-1 dan 4-3-3, di bawah arahan pelatih asal Skotlandia itu, Evan Dimas dan kawan-kawan turun dalam skema dasar 3-4-3.
Laga melawan Myanmar pada 25 Maret 2019 lalu menjadi ujian pertama berbagai perubahan yang terjadi ini. Saat itu, hasil yang didapat cukup positif. Timnas Indonesia tampil apik dan mampu memenangi laga dengan skor 2-0.
Berbekal catatan positif tersebut, besar kemungkinan saat menghadapi Yordania pada laga uji tanding, Selasa (11/6/2019), Timnas Indonesia akan turun dengan pendekatan serupa. Lagi pula, McMenemy selepas laga menghadapi Myanmar sudah menegaskan bahwa skuatnya akan akrab dengan skema tersebut.
Meski begitu, akan ada sejumlah perubahan soal siapa saja yang diturunkan nanti. Hal itu terjadi lantaran nama-nama seperti Wahyu Subo Seto, Greg Nwokolo, dan Manahati Lestusen tak kembali disertakan ke dalam skuat.
McMenemy hanya membawa total 21 pemain untuk uji tanding melawan Yordania dengan 19 nama di antaranya merupakan pemain-pemain yang sudah dipanggil sejak melawan Myanmar. Sementara, dua sisanya, yakni Achmad Jufriyanto dan Ramdani Lestaluhu, baru saja dipanggil untuk laga kali ini.
Lantas, siapa saja yang akan diturunkan? kumparanBOLA coba menganalisisnya.
Penjaga Gawang
Kendati sempat dicerca lantaran kegagalannya menepis satu pun sepakan penalti Uni Emirat Arab (UEA) di Asian Games 2018 lalu, Andritany tetaplah penjaga gawang terbaik Indonesia saat ini. Penempatan posisi dan pengambilan keputusannya acapkali tepat. Refleksnya juga terbilang bagus.
Selain itu, ia juga merupakan salah satu pemain paling senior dan berpengalaman di antara para pemain lain di lini belakang Timnas Indonesia saat ini. Untuk itulah ia tetap akan menjadi pilihan utama McMenemy di bawah mistar gawang.
Musim lalu, tempatnya bersama Persija Jakarta juga tak tergantikan. Ia tercatat bermain sebanyak 19 kali, sisanya absen karena cedera kala memperkuat Timnas U-23. Di musim ini, Andritany semakin menegaskan peran pentingnya untuk tim Ibu Kota.
Pemain asli Jakarta ini didaulat menjadi kapten tim. Ia pun tercatat telah tampil sebanyak delapan kali dengan lima laga di AFC Cup dan tiga pertandingan Liga 1.
Lini Belakang
Saat menghadapi Myanmar, tiga posisi di lini belakang Timnas Indonesia ditempati oleh Yanto Basna, Hansamu Yama, dan Manahati Lestusen. Namun, nama terakhir yang disebut tak kembali disertakan sang pelatih. Hal ini kemudian menyisakan satu posisi lowong di barisan bek tengah.
Dari nama-nama yang dipanggil, ada dua yang memiliki kapabilitas untuk mengisi posisi tersebut. Mereka adalah Achmad Jufriyanto dan Ricky Fajrin.
Dua pemain itu masing-masing merupakan pemain dengan kemampuan bertahan yang baik. Hanya, bila dibandingkan sekilas, Jufriyanto tampak unggul dari Fajrin.
Pengalaman bermainnya lebih banyak, fisiknya terbilang baik (182 cm, Fajrin 176 cm), kemampuan sebagai seorang bek tengah pun tak usah diragukan lagi.
Meski begitu, berdasarkan laga melawan Myanmar, McMenemy tampaknya condong untuk menurunkan setidaknya satu bek tengah yang memiliki kecepatan. Ini terlihat dari diturunkannya Manahati Lestusen untuk mengisi posisi tersebut.
Saat menghadapi Myanmar, keberadaan Lestusen, yang tingginya hanya 168 cm, sangat berguna dalam situasi serangan balik lawan. Ia menjadi penyeimbang Basna dan Hansamu yang unggul bola-bola atas namun tak begitu menonjol dalam hal kecepatan. Terlebih, ia juga memiliki agresivitas yang tinggi dan berani berduel dengan lawan.
Kemampuan yang dimiliki Lestusen ini sendiri cukup serupa dengan Ricky Fajrin. Pemain Bali United itu juga memiliki kecepatan. Agresivitasnya saat bertahan pun tak berbeda jauh dengan Lestusen. Toh, posisi asli pemain Bali United tersebut adalah bek sayap kiri, posisi yang memang menuntut hal-hal demikian. Belakangan, ia mulai fasih bermain sebagai bek tengah setelah dicoba sejak zaman kepelatihan Luis Milla di SEA Games 2017.
Nah, dengan catatan seperti itu, ketimbang Jufriyanto, Ricky Fajrin tampak lebih sesuai dengan skema yang diinginkan McMenemy untuk menemani Yanto Basna dan Hansamu Yama di jantung pertahanan.
Lini Tengah
Seperti lini belakang, kami menilai tak akan ada perubahan mengenai para pemain yang diturunkan di lini tengah. Yustinus Pae dan Ruben Sanadi yang memiliki kecepatan dan agresivitas tinggi akan tetap mengisi posisi sayap kanan dan kiri. Hal tersebut sangat menopang tugas mereka sebagai pemain yang berkewajiban aktif saat bertahan mau pun menyerang.
Tatkala melawan Myanmar, dua pemain ini amat menonjol. Di lini sayap, mereka seakan ada di mana-mana. Keberadaan keduanya pun juga kerap kali memberi banyak opsi bagi pemain lain untuk melepaskan operan. Selain itu, kemampuan crossing Tinus Pae dan Ruben Sanadi terbilang akurat, kendati intensitasnya tak begitu tinggi.
Sementara, dua posisi di lini tengah dipegang oleh duet Evan Dimas dan Rizky Pellu. Evan, lewat akurasi umpan dan kemampuannya dalam memainkan tempo, seperti biasa akan menjadi sosok utama di lini tengah Timnas Indonesia.
Penggawa Barito Putera itu akan memegang peranan kapan Timnas Indonesia akan melancarkan serangan, lewat arah mana dan bagaimana serangan akan dilakukan. Selain itu, ketenangan yang dimiliki Evan juga akan menjadi kunci Timnas Indonesia dalam menguasai pertandingan.
Adapun Rizky Pellu, kemampuan yang ia miliki tak berbeda jauh dengan Evan. Hanya saja, ia lebih mobile dan agresif. Berbagai kemampuan ini sangat berguna dalam situasi bertahan.
Satu hal lagi, Pellu juga kerap melakukan sepakan-sepakan jarak jauh. Saat Timnas Indonesia dalam keadaan buntu, hal semacam ini akan sangat dibutuhkan. Penampilan Pellu musim ini juga semakin matang seiring menjadi pilihan utama di PSM Makassar.
Sebetulnya, masih ada Zulfiandi yang di era Milla lebih sering menjadi pendamping Evan di lini tengah. Namun, pergerakan pemain Madura United itu tak se-mobile dan seagresif Pellu sehingga mungkin tak begitu cocok dengan skema yang diinginkan McMenemy. Pada laga melawan Myanmar saja, misalnya, ia baru dimainkan di babak kedua.
Lini Depan
Saat menghadapi Myanmar, Simon McMenemy tak menurunkan satu pun penyerang murni. Stefano Lilipaly ia tempatkan di posisi penyerang tengah dengan peran false nine, diapit oleh Greg Nwokolo dan Riko Simanjuntak di sisi kiri dan kanan.
Pendekatan demikian cukup efektif. Terbukti, ada banyak peluang yang dihasilkan Lilipaly, terutama lewat pergerakannya yang kerap tak tertebak.
Namun, yang jadi masalah adalah efektifitas dalam memanfaatkan peluang-peluang tersebut. Lilipaly kerap gagal memanfaatkan peluang yang ia dapat menjadi gol, bahkan ketika sudah berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang. Momen yang terjadi pada menit ke-28 adalah sedikit di antaranya.
Greg, di sisi lain, juga demikian. Adapun Riko Simanjuntak, ia lebih banyak menggiring bola dan melepaskan crossing ketimbang menyepak ke arah gawang.
Mengenai hal ini, McMenemy saat itu tampaknya sadar. Atas dasar itulah ia memasukkan Ilija Spasojevic, seorang penyerang tengah murni, pada awal babak kedua.
Berkaca pada pertandingan tersebut, besar kemungkinan saat menghadapi Yordania nanti McMenemy akan memainkan setidaknya satu penyerang murni. Terlebih, Lilipaly yang sebelumnya ditempatkan dengan peran tersebut tak kembali dipanggil ke skuat.
Pertanyaannya, siapa yang akan diturunkan?
Dari dua nama yang dipanggil, Alberto Goncalves tampaknya yang akan mengisi peran tersebut. Kemampuannya sebagai penyerang tengah tak perlu diragukan lagi. Ia tajam, kuat, dan juga cepat.
Beto--sapaan akrabnya--sudah membuktikan kapabilitasnya sebagai seorang penyerang di Liga 1 musim ini. Dari tiga laga yang sudah dijalani, mantan pemain Sriwijaya FC itu total sudah mencetak tiga gol. Catatan yang membuatnya menjadi pemain berkewarganegaraan Indonesia dengan gol terbanyak.
Untuk menemani Beto di lini depan, dua pemain yang masing-masing memiliki kecepatan dan mobilitas tinggi akan diturunkan. Mereka adalah Andik Vermansah dan Riko Simanjuntak.
Andik mengisi sisi kiri. Dari posisi tersebut, tugas utamanya adalah penyuplai bola untuk Beto, sebagaimana yang biasa ia lakukan di Madura United musim ini. Namun, bila memungkinkan, ia juga tak segan untuk melakukan tusukan dan menciptakan peluang mencetak gol bagi dirinya sendiri. Begitu pula dengan Riko yang berada di sisi kanan.
