Misi Alderweireld Menghapus Luka Lima Tahun Silam

Tottenham Hotspur memang baru pertama kali berlaga di final Liga Champions akhir pekan ini. Sepanjang sejarah, inilah pencapaian tertinggi mereka di turnamen antarklub paling elite se-Eropa itu. Namun, di antara pemain-pemain Tottenham, terselip satu nama yang sebelumnya sudah pernah merasakan partai puncak Liga Champions. Dia adalah Toby Alderweireld.
Tahunnya adalah 2014 dan kala itu Alderweireld masih berkostum Atletico Madrid. Turun di menit ke-83, Alderweireld diharapkan jadi salah satu sosok yang mampu membawa Atletico mengunci kemenangan atas Real Madrid. Semenjak Diego Godin mencetak gol pada menit ke-36, Real tak kunjung bisa membalas. Masuknya Alderweireld menggantikan Filipe Luis itu dimaksudkan agar status quo bertahan.
Namun, nasib berkata lain. Pada masa injury time, persis sepuluh menit setelah Alderweireld masuk, Sergio Ramos mencetak gol penyama kedudukan via sundulan kepala. Laga pun dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu dan di akhir cerita Atletico kalah telak 1-4.
Lima tahun berselang, Alderweireld kembali mendapat kesempatan merebut trofi Liga Champions. Yang menarik, pertandingan menghadapi Liverpool nanti bakal diselenggarakan di stadion milik mantan klub Alderweireld, Estadio Metropolitano. Pria Belgia itu pun bertolak ke Madrid dengan satu misi: menghapus kenangan buruk 2014.
"Kami sudah sangat dekat dengan kemenangan. Ramos mencetak gol di menit ke-90 sehingga bagiku rasanya luar biasa menyakitkan. Perasaan ini akan kubawa di laga final (melawan Liverpool) nanti dan aku akan menunjukkan bahwa akulah orang yang paling ingin memenangi gelar tersebut," kata Alderweireld kepada The Guardian.
Ketika kalah dari Real Madrid pada 2014, usia Alderweireld sudah tak lagi bisa dibilang muda untuk ukuran pesepak bola. Dia sudah 25 tahun kala itu dan, di sepak bola, usia tersebut sudah mendekati umur keemasan. Itulah yang membuatnya ketika itu khawatir tidak akan mendapat kesempatan lain untuk memperebutkan gelar Liga Champions.
"Malam itu, setelah pertandingan, aku langsung terbang ke Belgia untuk bergabung ke pemusatan latihan jelang Piala Dunia. Tidak ada waktu untuk meratapi hasil. Tetapi, setelah Piala Dunia berakhir, ketika aku sudah memiliki waktu untuk berpikir, aku sempat khawatir tidak akan mendapat kesempatan seperti itu lagi," kenang Alderweireld.
"Saat ini semua orang bilang rasanya aneh melihat Spurs di final, tetapi kami tidak senang hanya dengan bermain di final. Kami ingin memenanginya. Itulah mentalitas yang kami perlukan," tambah mantan penggawa Ajax tersebut.
Untuk memburu gelar tersebut, Alderweireld dan rekan-rekannya di Tottenham pun sudah menggelar persiapan serius. "Dalam dua pekan terakhir kami benar-benar kerja keras bagai kuda," tuturnya.
"Kami mencoba untuk memberikan yang terbaik setiap hari karena hanya dengan begitulah kami bakalan siap berlaga di final. Semua orang ingin terlibat di sana dan bagi kami pertandingan final tidak dimulai Sabtu (Minggu dini hari) nanti, melainkan dua minggu lalu," sambung Alderweireld.
Kini, di usianya yang ke-30, dengan makin tingginya jam terbang, Alderweireld pun merasa semakin matang sebagai pemain. Satu hal yang paling membuat eks pemain Southampton itu optimistis adalah banyaknya pertandingan bertekanan tinggi yang dia jalani dalam beberapa waktu terakhir.
"Banyak pemain yang sudah berpengalaman bermain di laga-laga besar seperti Piala Dunia sehingga kami tahu apa yang harus dilakukan. Tekanan jelas ada, tetapi itu bukan masalah bagi kami. Yang penting kami harus percaya pada permainan kami sendiri. Kami tak boleh terlalu memikirkan tim lawan," tegasnya.
=====
*Final Liga Champions antara Tottenham Hotspur dan Liverpool akan diselenggarakan pada Minggu (2/6/2019) dini hari pukul 02:00 WIB di Estadio Metropolitano, Madrid.
