Phil Foden: 'Akamsi' yang Menjadi Harapan Baru City

Phil Foden baru berusia 11 tahun ketika Sergio Aguero mencetak gol pertamanya untuk Manchester City. Dan baru-baru ini, Foden yang sekarang berusia 18 tahun terlibat secara langsung dalam proses terciptanya gol ke-200 Aguero untuk The Citizens.
Tapi, jangan kira bahwa aksi tersebut dilakukan Foden melawan tim yang bisa dipandang remeh. Malah, aksi tersebut tercipta ketika timnya berhadapan dengan Chelsea -- yang merupakan salah satu raksasa sepak bola Inggris -- di Wembley dalam ajang Community Shield, Minggu (5/8/2018) malam WIB.
Ketika laga berjalan 13 menit, Foden melakukan aksi dribel dari tengah lapangan ke kotak penalti Chelsea. Dalam prosesnya, gelandang binaan akademi City itu melewati lima pemain Chelsea sekaligus, termasuk duo bek tengah Antonio Ruediger dan David Luiz.
Menyadari para penggawa Chelsea sangat fokus dengannya, Foden menahan bola sebentar sebelum mengumpan kepada Aguero. Karena tak terkawal, mudah saja bagi mantan penyerang Atletico Madrid itu menciptakan gol. Usai gol itu tercipta, Foden, yang memang merupakan suporter City, berlari untuk memeluk erat Aguero.
Assist untuk Aguero bukan satu-satunya pertanda bahwa Foden berpendar dalam laga tersebut. Squawka mencatat, 'akamsi' (anak kampung sini, red) kelahiran Stockport itu menjadi paling kreatif dalam urusan penciptaan peluang City dalam laga itu karena sanggup melancarkan 3 umpan kunci. Dalam urusan bertahan, Foden sudah melancarkan dua tekel bersih yang, sedikit-banyaknya, menjadi faktor penentu kemenangan 2-0 City atas Chelsea.
Karena itulah Foden mendapatkan standing ovation dari suporter City saat ditarik keluar pada menit ke-76. Dan karena itu juga Pep Guardiola mengatakan sesuatu yang membuat hari bahagia Foden lengkap sudah.
"Musim lalu, dia (Foden) sudah terlihat siap. Tapi, tahun ini, dia sudah lebih matang. Dia merupakan suporter Manchester City, 'akamsi' pula, dan inilah kenapa hadirnya Foden adalah berita baik bagi City," kata manajer City kelahiran Santpedor itu usai laga.
"Karena dia adalah pemain inti, maka dia akan mendapatkan kesempatan yang sama seperti Kevin de Bruyne, David Silva, Ilkay Guendogan, dan gelandang-gelandang lainnya," lanjut Guardiola.

Tentu, Foden tak langsung bisa berpendar tanpa usaha yang keras. Ikhtiar tanpa hentinya merupakan alasan Tim Nasional (Timnas) Inggris U-17 bisa menjadi kampiun Piala Dunia U-17 2017. Dari laga penyisihan hingga final, Foden selalu tampil dan dari situlah datang 3 gol dan 1 assist. Kerja kerasnya itu juga menjadi penyebab kenapa dia pada akhirnya mendapatkan Golden Ball dari FIFA.
Di Piala Eropa U-17, Foden juga melakukan hal serupa untuk The Young Lions. Tapi, meski Foden berhasil masuk dalam tim terbaik versi UEFA, Inggris U-17 cuma finis sebagai runner-up. Setelah kerja kerasnya mendapatkan pengakuan, Foden harusnya tidak berhenti berjuang. Karena ini baru awal dari kisahnya untuk menjadi harapan baru City di masa depan.
