Ranieri: Dari Tinkerman Kembali ke Tinkerman

Menjelang musim berakhir, Leicester City harus berjuang lolos dari degradasi. Penyebabnya ada pada manajer mereka.
Claudio Ranieri, ya, Claudio Ranieri…
Manajer Italia berambut putih itu tidak punya sejarah yang mentereng ketika menukangi klub. Tiga puluh tahun membesut 16 tim berbeda dan baru satu gelar juara liga ia dapatkan —bersama Leicester. Tolong jangan dibandingkan dengan pencapaian Pep Guardiola bersama Barcelona.
Ranieri terkenal untuk satu hal: ia kerap menyusahkan dirinya sendiri dengan berpikir terlalu njlimet. Tak jarang ia mengotak-atik susunan pemainnya, merotasi tim, dan itu dilakukannya berulang-ulang hingga kemudian dijuluki “The Tinkerman”.
Tapi, julukan itu tidak mewujud pada Leicester-nya pada musim 2015/2016.
Sepanjang musim lalu, susunan starting XI Leicester nyaris tidak pernah berubah. Kasper Schmeichel di bawah mistar gawang, Wes Morgan-Robert Huth sebagai palang pintu, Danny Simpson sebagai bek kanan, dan Christian Fuchs sebagai bek kiri.
Di tengah, komposisi terbaik milik Ranieri adalah N’Golo Kante dan Danny Drinkwater di tengah, lalu Riyad Mahrez dan Marc Albrighton sebagai sayap. Di depan, duet Jamie Vardy dan Shinji Okazaki selalu jadi andalan.
Gaya main Leicester yang sederhana, tidak neko-neko, tanpa basa-basi, dan begitu direct akhirnya mampu melibas Premier League.
Tidak jarang The Foxes memukul lawan lewat serangan balik atau umpan-umpan panjang langsung ke depan. Asalkan bola sudah diarahkan ke sepertiga akhir lapangan, Mahrez ataupun Vardy sudah siap untuk mengejarnya.
Bukan hanya itu saja, Leicester juga memiliki skuat yang gigih. Dalam bahasa Ranieri sendiri, timnya tidak diizinkan untuk berhenti berlari. Leicester, siapapun itu yang dimainkan, harus terus berlari.
Filosofi “terus berlari” itu diaplikasikan dengan baik oleh Vardy dan Okazaki di lini depan. Kendati tugas mereka, sejatinya, adalah mencetak gol, namun tidak jarang keduanya menjadi pemain bertahan pertama tim.
Dalam banyak kesempatan, Vardy dan Okazaki dengan gigih mengejar bola yang tengah berada dalam penguasaan bek lawan. Tidak jarang juga mereka berhasil merebutnya dan mengubahnya menjadi peluang untuk Leicester.
Leicester sukses menjadi juara dengan gaya seperti itu, tapi justru di situlah awal mimpi buruk mereka.

Dimulai dengan perginya Kante ke Chelsea, Leicester kehilangan sosok gelandang bertahan mumpuni. Di luar itu, Mahrez dan Vardy tidak se-oke musim lalu. Ranieri? Ia mendadak kembali menjadi Tinkerman.
(Baca: Mimpi Indah Semalam Sudah Selesai, Leicester)
Dalam berbagai kesempatan musim ini, pelatih asal Italia tersebut amat sering mengubah formasi timnya. Di luar itu, susunan pemain pun seringkali berubah. Bahwa orang Italia mengubah susunan formasi timnya dan berpikir terlalu rumit soal taktik di atas lapangan, itu adalah hal yang lumrah. Tengok bagaimana Antonio Conte mencari formula terbaik untuk Chelsea musim ini.
Conte sempat menggunakan 4-2-4 di awal musim, sebelum akhirnya bertahan dengan 3-4-3. Kerumitan cara bepikir ala Italia —yang berdasar pada keinginan mereka untuk sebisa mungkin meraih kemenangan— semestinya juga ada pada Ranieri.
Masalahnya buat Ranieri, timnya tidak siap.
Kala wajah skuatnya mengalami sedikit perubahan dibandingkan musim lalu, ia mulai overthinking. Dan seperti kata majalah-majalah dan tulisan-tulisan self-help cantik di internet, ”overthinking ruins you.” Inilah yang menjangkiti Ranieri.
Tidak ada lagi permainan Leicester yang sederhana dan tidak neko-neko itu. Formasi 4-4-2 yang selalu digunakan musim lalu diubahnya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan lawan.
“Saya mengubah bentuk normal formasi tim saya ketika menghadapi Chelsea dengan menggunakan tiga bek di belakang. Hari ini (ketika menghadapi Southampton, Minggu, 22 Januari 2017, red) saya menggunakan formasi diamond. Ini membuat pemain kebingungan,” aku Ranieri seperti dilansir ESPNFC.
Terlihat jelas bahwa Ranieri berusaha melakukan mirroring —meniru formasi lawan. Ia menggunakan tiga bek untuk menghadapi Chelsea yang biasa bermain dengan 3-4-3, atau 4-4-2 berlian untuk Southampton yang biasa menerapkan formasi yang sama.
“Pemain-pemain saya terbiasa dengan formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1. Jadi, untuk yang satu ini, saya melakukan kesalahan.”
Leicester kini duduk di posisi 15 klasemen dengan nilai 21. Mereka hanya berjarak lima poin dari zona degradasi. Perjuangan (agar tidak turun level) pun dimulai dari sekarang.
