Kumparan Logo

Romelu Lukaku: Kata Ronaldo, Serie A Liga Tersulit di Dunia

kumparanBOLAverified-green

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Romelu Lukaku, penyerang Inter Milan, merayakan gol. Foto:  REUTERS/Daniele Mascolo
zoom-in-whitePerbesar
Romelu Lukaku, penyerang Inter Milan, merayakan gol. Foto: REUTERS/Daniele Mascolo

Romelu Lukaku menjadi bintang di Italia. Keputusan untuk menerima pinangan Inter Milan ternyata berujung mujur, setidaknya hingga pekan 17 Serie A 2019/20.

Bersama Inter, Lukaku tampil sebagai predator lini serang. Striker asal Belgia itu sudah membukukan 14 gol dan tiga assist dalam 22 laga di seluruh kompetisi musim ini.

Produktivitas ini membuat Lukaku sebagai anomali. Lukaku adalah orang asing bagi calcio. Dalam artian, ini menjadi pertama kalinya Lukaku berlaga bersama tim Italia.

Pemahaman dan adaptasi menjadi kunci bagi siapa pun yang datang sebagai orang baru di tanah ini. Tentu saja ada banyak orang yang memperkenalkan Lukaku dengan sepak bola Italia, mulai dari teman-teman setimnya, pelatihnya, hingga manajemen Inter.

Ekspresi penyerang Juventus, Cristiano Ronaldo, usai golnya ke gawang Roma dianulir VAR Foto: REUTERS/Alberto Lingria

Namun, di antara sekian banyak orang, barangkali yang menjadi orang pertama adalah Cristiano Ronaldo. Penyerang Juventus ini sendiri yang menjelaskan seperti apa karakter sepak bola Italia kepada Romelu Lukaku.

“Dia [Ronaldo] berkata kepada saya bahwa Serie A adalah liga defensif tersulit di dunia. Ia berkata kepada saya bahwa ia sudah mencetak gol di mana saja," kata Lukaku, dikutip dari Football Italia.

"Sejauh ini ia paling kesulitan mencetak gol di sini. Kalau Cristiano Ronaldo saja bilang itu sulit, ya, berarti memang begitu. Sepak bola Italia lebih sulit daripada Inggris. Sepak bola di Inggris memang lebih intens. Namun, Italia lebih mengutamakan pola permainan," jelas Lukaku.

Romelu Lukaku merayakan gol ke gawang Lecce dalam laga debutnya bersama Internazionale. Foto: AFP/Miguel Medina

Sistem permainan Inter di bawah asuhan Antonio Conte menjadi pangkal mengapa Lukaku tampil moncer di Serie A yang katanya sangat defensif.

Conte sering menunjuk Lautaro Martinez sebagai tandemnya di garda terdepan. Pergerakannya bisa lebih cair karena ia tidak ditugaskan sebagai muara serangan satu-satunya.

Posisi seperti ini memberi ruang bagi Lukaku untuk menginisiasi serangan. Artinya, ia bisa merancang serangan yang bukan tak mungkin ditutupnya sendiri.

Lukaku tidak harus selalu 'menuruti' skema serangan rekan-rekan setimnya. Ia bahkan tidak jarang bergerak dari sisi sayap untuk memberikan umpan.

Situasi demikian tidak ditemukan di Manchester United. Ketika itu, orang-orang hanya mengenal bahwa pemain bernama Romelu Lukaku adalah seorang target man yang ironisnya, tidak cukup unggul dalam first touch dan penyelesaian akhir.