Sengaja Injak Perut Lawan, Sanksi Apa yang Pantas bagi Elisa Basna?

Tatapan matanya begitu tajam. Napasnya memburu. Tak ada pula senyum di wajahnya. Yang tersisa hanyalah rasa amarah yang berkecamuk di dalam dada.
Jadilah, ketika timnya, Persebaya Surabaya, kembali gagal menang di kandang, Elisa Basna seakan ikut terbawa rasa frustrasi. Emosinya pun memuncak manakala laga melawan PSIS Semarang dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Kamis (30/5/2019), memasuki pengujung.
Di sisi kanan pertahanan lawan, bola yang terlepas coba dikejar oleh Basna. Tetapi, di situ sudah ada bek Fredyan Wahyu mengadang. Mencoba mengambil bola dengan menjatuhkan diri, sekonyong-konyong Basna menerjang Fredyan. Tanpa ampun, mantan penggawa Persipura Jayapura itu menginjak perut Fredyan yang langsung mengerang kesakitan.
Peristiwa itu direspon pemain PSIS lainnya dengan mengerubungi Basna. Bukannya meminta maaf, ia justru tampak malah semakin emosi. Sayangnya, aksi tak terpuji Basna itu direspon wasit dengan hanya mengeluarkan kartu kuning.
Atas kejadian itu, pihak PSIS mengajukan protes resmi atas kinerja wasit Adung yang memimpin laga. Selain pelanggaran terhadap Septian David Maulana di kotak penalti yang tak diindahkan, kubu 'Mahesa Jenar' juga meradang dengan kebijakan wasit dengan hanya memberikan kartu kuning terhadap pelanggaran Basna kepada Fredyan.
Pelanggaran brutal Basna kepada Fredyan kemudian menimbulkan kecaman. Di media sosial, Basna dinilai sengaja ingin mencederai lawannya. Apalagi, injakan kepada perut Fredyan mengingatkan kepada peristiwa nahas yang menimpa kepada Jumadi Abdi dan Akli Fairuz.
Ya, nyawa Jumadi dan Akli harus melayang menyusul tindakan serupa. Pada 7 Maret 2009, Jumadi yang kala itu berlaga untuk PKT Bontang, mengembuskan napas terakhir akibat mendapat tekel dari pemain Persela Lamongan, Denny Tarkas, di perut.
Jumadi dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan selama sembilan hari. Dari hasil analisis dokter, Jumadi meninggal dunia karena usus halusnya robek. Denny Tarkas kemudian dijatuhi hukuman larangan bermain selama empat bulan.
Kejadian serupa terulang pada 2014. Akli mengalami cedera parah setelah bagian perutnya ditendang oleh penjaga gawang PSAP, Agus Rohman. Akibatnya, penyerang Persiraja Banda Aceh itu langsung dilarikan ke rumah sakit.
Akli sempat menjalani operasi pada 12 Mei. Akan tetapi, selang empat hari, nyawanya tak tertolong karena luka di bagian perutnya dalam serta adanya kebocoran kantung kemih. Atas tindakannya itu, Agus akhirnya dihukum selama setahun dilarang berkecimpung di sepak bola nasional.
Kini, kembali ke perilaku minus Basna, hukuman apa yang pantas untuknya?
Meski hanya mendapatkan kartu kuning, bukan berarti Basna bisa bernapas lega. Pasalnya, tindakan tak terpuji yang dilakukannya, tergolong ke dalam pelanggaran berat yang diatur dalam Kode Disiplin PSSI yang diatur dalam pasal 48.
Sebagai tindak lanjutnya, hukuman Basna diatur dalam pasal 49 tentang tingkah laku buruk terhadap pemain lawan atau orang-orang selain dari perangkat pertandingan. Pelanggaran yang dilakukan Basna termaktub dalam ayat 1 (d) yang menyatakan bahwa pemain dihukum sekurang-kurangnya dua pertandingan karena melakukan penyerangan (seperti menyikut, memukul, menendang dan sebagainya) terhadap pemain lawan atau orang lain selain dari perangkat pertandingan. Tak hanya itu, Basna juga terancam sanksi denda minimal Rp 10 juta karena dianggap berperilaku buruk.
Hukuman larangan bermain sebanyak dua laga plus denda Rp 10 juta sejatinya telah diberikan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pada awal musim ini kepada pemain Persipura Jayapura, Boaz Solossa. Hal itu menyusul tindakan Boaz yang dinyatakan bersalah karena menendang pemain Persela saat berlaga di Stadion Surajaya pada Rabu (22/5) lalu.
Meski demikian, melihat brutalnya pelanggaran yang dilakukan Basna--sekaligus menghindari kejadian serupa terulang--bukan tak mungkin Komdis PSSI menjatuhkan hukuman lebih kejam. Jika Denny Tarkas dan Agus Rohman pernah merasakannya, apakah Basna juga layak mendapatkannya?
