Barbra Banda dan Bagaimana Ketidakseriusan FIFA Mengancam Pesepak Bola Wanita
·waktu baca 4 menit

Kapten Timnas Sepak Bola Wanita Zambia, Barbra Banda, dipastikan bakal membela negaranya di Piala Dunia Wanita 2023. Ini adalah momen comeback bagi Banda di pentas internasional usai dirinya gagal tampil di Piala Wanita Afrika tahun lalu.
Mengutip Associated Press, Banda sempat terlibat dalam kontroversi yang dibuat oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pada Piala Wanita Afrika di Maroko 2022 lalu. Kala itu, pemain 23 tahun itu sebenarnya masuk dalam rencana skuad Zambia di turnamen tersebut. Namun, Banda dipaksa mundur karena dinilai gagal tes verifikasi gender.
"Semua pemain harus menjalani verifikasi gender, persyaratan CAF, dan sayangnya dia tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh CAF," kata Presiden Federasi Sepak Bola Zambia (FAZ), Andrew Kamanga, kepada BBC Sport Africa, Juli 2022 lalu.
"Sangat disayangkan bahwa tim kami harus pergi ke turnamen tanpa pemain terbaik kami," lanjutnya.
Saat itu, Kamanga mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, pihaknya dipaksa melakukan tes tersebut oleh CAF.
"Kami federasi dipaksa untuk melakukan tes dan kemudian kami menyampaikan informasi ke CAF, dan CAF, sama-sama, menguji para pemain jika perlu di turnamen. Jadi tidak adil untuk berbalik dan mengatakan CAF bukan bagian tak terpisahkan dari apa pun yang telah terjadi," tambah Kamanga.
BBC Sport Africa melaporkan bahwa alasan Barbra Banda absen dari Piala Afrika Wanita 2022 adalah karena hasil tes yang dilakukan oleh CAF. Di situ, diketahui bahwa tingkat testosteronnya terlalu tinggi.
"Tentang absennya Barbra Banda di kompetisi saya tidak bisa memberikan alasan sebenarnya. Akan lebih baik jika Anda bertanya kepada CAF," kata pelatih Zambia, Bruce Mwape.
FIFA Gagal Lindungi Pesepak Bola Wanita Karena Aturan yang Tak Jelas
Terjegalnya langkah Banda menuju Piala Wanita Afrika memang dilakukan oleh CAF. Akan tetapi, CAF bukanlah satu-satunya pihak yang perlu dituding atas permasalahan tersebut.
Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Human Rights Watch menyebut kasus yang menerpa Banda sebenarnya adalah kesalahan yang disebabkan oleh FIFA. Komunitas tersebut menuding FIFA tidak memberikan panduan yang tepat terhadap organisasi di bawah naungannya dan membiarkan seorang pemain wanita gagal bermain dalam sebuah turnamen.
Adapun FIFA sempat menerbitkan aturan soal verifikasi gender pada 2011 silam. Dan anehnya, hingga saat ini peraturan tersebut belum diperbaharui. Sedangkan beberapa cabang olahraga lainnya seperti atletik dan renang cukup memberikan perhatian soal aturan mengenai verifikasi gender tersebut.
FIFA pun disebut tertinggal jauh dari olahraga lain soal peraturan tersebut. Padahal, sepak bola merupakan salah satu olahraga yang paling populer di dunia saat ini.
Associated Press menyebut bahwa induk federasi sepak bola dunia itu kabarnya tengah menggodok peraturan baru mengenai verifikasi gender. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada indikasi aturan tersebut telah rampung dan akan segera diterapkan di Piala Dunia Wanita 2023.
Sementara itu, seorang advokat yang fokus pada hak-hak atlet, Payoshni Mitra, menyayangkan lambatnya FIFA dalam memperbarui aturan yang ada, hingga mengorbankan mimpi pesepak bola wanita seperti Banda untuk berlaga di turnamen internasional.
"Ini memprihatinkan karena FIFA berkomitmen terhadap hak asasi manusia dan karena itu mereka harus melindungi atlet mereka dari kesewenang-wenangan dan aturan yang tidak perlu. Mereka harus menjaga pesepak bolanya dan itu harusnya menjadi prioritas utama. Itu adalah tugas FIFA," kata Mitra.
Sementara itu, laporan Associated Press menyebut bahwa FIFA tidak memiliki aturan yang baku untuk menetapkan batas kadar testosteron bagi pemain wanita. Hal tersebut cukup kontras sebab cabang olahraga lainnya cukup rinci soal aturan kadar testosteron dalam verifikasi gender.
Lebih lanjut, hingga saat ini juga belum ada badan sepak bola yang memberikan panduan secara jelas tentang bagaimana seorang pemain harus diverifikasi untuk menentukan gendernya. Jadi, selama ini tim dokterlah yang memberikan aturan tentang batas testosteron seorang pemain wanita.
"Saya bisa melihat betapa salah urusnya semua ini di tingkat nasional. Pejabat di federasi nasional tidak memiliki kesadaran tentang masalah ini," tutur Mitra.
Di lain sisi, Banda nampaknya punya ambisi yang tinggi menjelang Piala Dunia Wanita 2023. Ini akan menjadi comeback-nya di pentas internasional usai tampil begitu mengesankan di Olimpiade Tokyo 2021 dengan mencetak hattrick dalam beberapa pertandingan secara beruntun.
“Saya punya tekad yang tinggi dalam apa pun yang saya lakukan,” ucap Banda.
Barbra Banda bukan satu-satunya orang yang terjerat masalah tersebut. Kamanga memaparkan bahwa ada pemain lain juga yang harus dicoret dari skuad Zambia atas aturan CAF itu, tapi ia tidak merincinya.
