Mengenal British Ladies Football Club, Tim Sepak Bola Wanita Pertama di Dunia
·waktu baca 4 menit

Boleh dibilang, 23 Maret 1895 adalah tonggak sejarah bagi sepak bola wanita di dunia. Pada hari itu, untuk pertama kalinya diselenggarakan sebuah pertandingan sepak bola wanita secara resmi di hadapan orang banyak.
Tajuk "The First Ladies Football Match" terpampang jelas dalam selebaran iklan di Kota London, Inggris. Pertandingan tersebut mempertemukan "The North" atau tim Utara dan "The South" tim Selatan Inggris.
Adalah British Ladies Football Club (BLFC) yang menggagas pertandingan tersebut. Tim yang dipelopori oleh Nettie Honeyball sebagai kapten pertama dan Lady Florence Dixie sebagai patron itu menjadi klub sepak bola wanita pertama yang bermain di lapangan secara resmi.
Awal berdirinya tim ini bermula ketika Nettie Honeyball memasang iklan di surat kabar untuk merekrut pemain ke sebuah tim sepak bola wanita. Berdasar laporan Michelle Salter, sebanyak tiga puluh wanita tertarik bergabung berkat iklan tersebut dan terbentuklah BLFC. Tujuan awal dari pembentukan BLFC ini karena Honeyball ingin mengakomodir bakat-bakat sepak bola perempuan di seluruh Britania Raya.
Laga pertama yang berlangsung di Crouch End, London itu berlangsung meriah. Tercatat lebih dari 10.000 orang menyaksikan langsung pertandingan sepak bola wanita antara "The North" dan "The South"’.
Jumlah penonton tersebut terhitung banyak pada masanya. Menurut Unlocking The Hidden History, tingginya animo penonton dalam laga itu disebabkan banyak orang tertarik dan ingin tahu seperti apa sih pertandingan sepak bola wanita.
"Akan selalu ada keingintahuan untuk melihat wanita melakukan hal-hal yang tidak wajar, dan tidak mengherankan jika pertandingan tersebut dihadiri oleh ribuan orang, sangat sedikit dari mereka yang ingin saudara perempuan atau anak perempuan mereka sendiri tampil di lapangan sepak bola," tulis Jarrow Express, dikutip dari Unlocking The Hidden History.
Pada pertandingan tersebut, pemain tak lagi harus memakai korset dan sepatu hak tinggi saat bermain seperti pada tahun lalu. Akan tetapi, para pemain diperkenankan memakai sepatu bot pria standar.
Namun, mereka masih harus memakai topi. Permainan juga dihentikan jika ada wanita yang menyundul bola dan membuat topi atau jepit rambutnya lepas. Laga tersebut berakhir dengan skor 7-1 bagi kemenangan "The North".
Sayangnya, respons masyarakat terhadap laga sepak bola wanita kurang positif. Tak sedikit yang mengecam dan tidak suka karena sepak bola wanita dianggap tidak pantas bagi wanita. Namun, para pemain terus berjuang mempertahankan eksistensi sepak bola di tanah Britania Raya.
Sepak Bola Wanita Sebagai Alat Perjuangan
Kapten tim BLFC, Honeyball, memandang sepak bola wanita sebagai salah satu alat perjuangan dan penghapusan diskriminasi bagi wanita. Menurutnya, dengan bermain si Kulit Bundar, wanita bisa menunjukkan emansipasinya.
"Saya mendirikan asosiasi (klub sepak bola) akhir tahun lalu, dengan tekad tetap untuk membuktikan kepada dunia bahwa wanita bukanlah makhluk-makhluk 'hiasan dan tak berguna' yang telah digambarkan oleh pria. Saya harus mengakui keyakinan saya tentang semua hal, semuanya berada di sisi emansipasi, dan saya menantikan saat ketika wanita dapat duduk di parlemen dan memiliki suara," tutur Honeyball, dikutip dari Michelle Salter.
Hal senada juga diungkapkan oleh sang pemimpin klub, Lady Florence Dixie. Dirinya memandang sepak bola wanita sebagai cara untuk menentang aturan cara berpakaian Victoria yang ketat pada masa tersebut.
"Tidak ada alasan mengapa sepak bola tidak boleh dimainkan oleh wanita, dan dimainkan dengan baik juga, asalkan mereka berpakaian secara rasional," ungkap Dixie.
Meski mendapat cibiran dari berbagai pihak, Nettie dan kolega tak patah arang untuk mempertahankan klub sepak bola wanitanya. Pada 6 April 1895, British Ladies Football Club kembali menggelar pertandingan di Preston Park, Brighton.
Gelaran tersebut diselenggarakan untuk mengumpulkan dana bagi kebutuhan medis setempat. Dalam laga tersebut, "The North" menang lagi dengan skor 8-3 atas "The South".
Pertandingan berikutnya dimainkan di Bury, Manchester. Berdasar catatan Spartacus Educational, sebanyak 5.000 penonton hadir dalam laga tersebut, dan terkumpul dana sebesar 100 pounds yang digunakan untuk amal.
Vakumnya British Ladies Football Club
British Ladies Football Club sebenarnya memiliki keterbatasan baik dari segi dana maupun akomodasi pemain. Kendati demikian, mereka masih aktif bertanding dengan segala masalah yang ada.
Namun, BLFC akhirnya vakum saat Perang Dunia Pertama pada tahun 1914. Klub itu terpaksa menghentikan aktivitasnya di lapangan karena para perempuan harus bekerja di pabrik untuk menghadapi perang dunia.
Setelah BLFC berhenti bermain sepak bola, muncullah klub lain bernama Dick, Kerr’s Ladies FC yang berdiri pada 1917. Tim yang lahir di Preston, Lancashire itu bertanding untuk membantu korban perang sekaligus menjadi hiburan bagi mereka yang jenuh karena peperangan. Kala itu, pemain dibayar sebesar 10 shilling per laga.
