Penjadwalan Sepak Bola Wanita di Dunia Membunuh Para Atlet Mereka Sendiri

8 Februari 2024 16:27 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Pemain Sepak Bola Wanita Cedera. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pemain Sepak Bola Wanita Cedera. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Bagi pesepak bola, lumrahnya, bisa bermain secara rutin dalam pertandingan atau turnamen resmi tentu menjadi pencapaian tersendiri. Rasa senang dan bangga pasti menyelimuti perasaan pemain jika terus dipercaya berlaga.
ADVERTISEMENT
Namun, belum tentu begitu kasusnya di sepak bola wanita. Sebab, jika terus-terusan bermain, sementara support masih nol, imbasnya akan mencelakakan diri mereka sendiri. Mengapa demikian?
Hingga saat ini, sistem penjadwalan di sepak bola wanita bisa dibilang masih jauh dari kata ideal. Padatnya jadwal dari satu turnamen ke turnamen lainnya berimbas pada waktu istirahat yang relatif singkat.
Situasi ini memuncak sejak 2021 lalu. Pesepak bola wanita top dunia, dan Eropa khususnya, harus bermain di beberapa turnamen secara beruntun. Pada 2021, pemain berlaga di Olimpiade 2020, lalu berlanjut ke Euro 2022, setelahnya berlaga di Piala Dunia Wanita 2023 dan nanti mereka akan disambut oleh Olimpiade 2024 dan Euro 2025.
Semuanya digelar di musim panas, alias jadwal libur dan istirahat para pemain. Baru baca agendanya saja sudah kebayang capeknya bukan? Bagaimana dengan nasib para pemain.
Pemain Timnas Wanita Spanyol Olga Carmona saat melawan Timnas Wanita Inggris pada pertandingan final Piala Dunia Wanita 2023 di Stadion Australia, Sydney, Australia, Minggu (20/8/2023). Foto: Izhar KHAN / AFP
Di sepak bola wanita, kalender pemain menjadi lebih padat akibat dari keinginan FIFA dan UEFA yang berambisi untuk mengembangkan permainan ini secara global. Tujuannya utamanya, ya, tiada lain tiada bukan untuk meraup cuan lebih banyak.
ADVERTISEMENT
Kini, sepak bola wanita hampir memiliki jadwal yang sama padatnya dengan sepak bola pria. Liga dan piala domestik, turnamen antar negara, hingga yang terbaru wacana bergulirnya Piala Dunia Wanita Antarklub. Dari segi bisnis dan marketing, tentu ini adalah hal yang menggiurkan, namun bagi pemain hal semacam ini justru bisa saja mengancam keselamatan.
Permasalahannya adalah jumlah pertandingan yang hampir sama banyaknya ini tak mendapat perlakuan yang serupa dengan pria. Support system, jumlah pemain, hingga biaya yang dikeluarkan klub untuk pemain wanita jauh tak sebanding dengan tim pria. Belum lagi jika bicara gaji—bagaikan langit dan bumi.
Bicara soal gaji, kita bisa ambil contoh di Chelsea. Pemain wanita dengan gaji tertinggi di dunia Sam Kerr mendapat upah 357 ribu poundsterling atau sekitar Rp7,076 miliar per tahun. Sedangkan, di tim pria, pemegang gaji tertingginya adalah Raheem Sterling dengan nominal 325 ribu poundsterling atau sekitar Rp 6,4 miliar per pekan.
ADVERTISEMENT
Nominalnya memang tak jauh beda. Tapi yang satu permusim, sedangkan yang satu per pekan. Menangis.
Pemain Inggris Keira Walsh menerima perawatan medis setelah mengalami cedera pada pertandingan Piala Dunia Wanita 2023 di Stadion Sepak Bola Sydney, Sydney, Australia, Jumat (28/7/2023). Foto: Jaimi Joy/REUTERS

Jadwal Padat, Pemain Ngadat, Risiko Cedera Meningkat

Semakin padatnya jadwal sejatinya bukan hanya dialami oleh pesepak bola wanita. Para pemain pria pun dalam beberapa musim terakhir mengalami hal serupa. Jenderal lapangan tengah Man City, Kevin De Bruyne, mengeluhkan hal tersebut karena dampaknya kurang baik bagi pemain.
"Saya mengalami tiga kali cedera hamstring berturut-turut, namun kondisinya tidak sama. Saya punya banyak jaringan yang bisa robek kapan saja. Saya penginnya main di setiap laga, tapi saya tahu di benak saya bahwa saya harus menjaga diri sendiri," kata pemain asal Belgia itu dikutip dari ESPN.
Nada peringatan yang sama juga dituturkan oleh bintang PSG, Kylian Mbappe. Bomber Prancis itu memang nggak menentang gagasan untuk menambah jumlah pertandingan dalam satu kalender musim, tapi dia memperingatkan manajemen soal dampak buruk yang bisa diderita pemain.
ADVERTISEMENT
Pesepak bola pria yang gajinya ratusan ribu pounds per pekan dan punya tim medis serta fasilitas paling top saja bisa mengeluh jika jadwalnya terlalu padat. Lalu, gimana dengan nasib para pemain wanita yang, ibarat kata, BPJS kelas tiga?
Leah Williamson. Foto: Justin Tallis/AFP
Bak jatuh tertimpa tangga, kiranya itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan nasib pemain wanita saat ini. Dengan jumlah laga per musim yang hampir sama dengan pria, tapi upah mereka masih sangat jauh dari kata setara.
Penggawa Arsenal, Leah Williamson, menekankan soal ini. Baginya, pesepak bola wanita saat ini tengah diperas tenaganya tanpa dipedulikan bagaimana mereka mendapat istirahat yang cukup. Pemain Lionesses itu lalu mendesak pihak yang berwenang untuk segera menemukan solusinya.
"Saya pikir dengan cara memandang sepak bola wanita saat ini, Anda tidak akan dapat menaikkan harga tiket atau mendapatkan lebih banyak penonton di stadion karena tidak ada pemain untuk ditonton (imbas cedera)," kata Leah Williamson dikutip dari The Athletic.
ADVERTISEMENT
"Kami sedang berupaya untuk mewujudkannya, jadi solusi harus segera ditemukan," sambungnya.
Leah Williamson, yang mengalami cedera ACL selama 11 bulan, juga bercerita tentang keluhan rekan-rekannya yang begitu tersiksa karena jadwal yang padat. Ia pun meminta kepada klub atau timnas untuk tak mengganggu pemain saat memasuki masa liburnya dengan membiarkan mereka beristirahat.
"Saat memasuki bulan Oktober, para pemain sering bilang 'Saya capek', karena mereka membawa begitu banyak beban dari musim sebelumnya," kata Leah Williamson.
"Luangkan waktu ketika klub atau timnas tidak boleh menyentuh pemain dan biarkan mereka beristirahat," lanjutnya.
Sebenarnya, jadwal pertandingan yang padat bisa berdampak buruk pada sisi yang lain. Pemain jadi lebih rentan cedera ketika tubuh dan ototnya terus-menerus dipaksa bekerja.
Pemain OL Reign Megan Rapinoe saat cedera pada menit-menit awal babak pertama pertandingan final Liga Sepak Bola Wanita Nasional antara OL Reign dan Gotham FC di Stadion Snapdragon di San Diego, California. Foto: Robyn Beck / AFP
Periode 2022-2023 menjadi contoh bagaimana buruknya kalender kerja untuk pemain wanita. Pasalnya, puluhan pesepak bola wanita mengalami cedera dalam rentang waktu tersebut. Jenis cederanya beragam, namun mayoritas mengalami cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament).
ADVERTISEMENT
Dalam laporan Serikat Pemain Profesional (FIFPro), dari 139 pemain wanita di liga-liga top Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol, 58 di antaranya pernah alami cedera. Hal ini menggambarkan bahwa risiko cedera bisa meningkat saat pemain terus-terus bertanding baik bagi klub atau timnasnya.
"Meningkatnya beban kerja dan perjalanan serta kurang istirahat berkontribusi pada peningkatan risiko cedera, termasuk robeknya ACL di kalangan pemain profesional wanita," bunyi laporan FIFPro pada Desember 2023 lalu dikutip dari ESPN.
Dalam laporan tersebut, FIFPro juga merinci jenis cedera yang dialami pemain. Cedera yang paling sering terjadi adalah pada lutut (32%) dan paha (29%). Lalu, yang lainnya merupakan cedera ACL (14%) dan cedera hamstring (23%).
Puncak dari 'Wabah ACL' yang melanda sepak bola wanita terjadi jelang Piala Dunia Wanita 2023 di musim panas kemarin. Berdasarkan data Stuff, setidaknya ada 36 pemain dari 32 negara kontestan Piala Dunia yang harus absen karena cedera ACL.
ADVERTISEMENT
Lalu, mirisnya lagi, setelah pemain diperas habis tenaganya demi negara, mereka tak mendapat waktu istirahat yang layak pasca turnamen. Dalam surveinya, FIFPro mengungkap bahwa 60 persen pemain menyebut mereka tidak mendapat istirahat yang ideal pasca mentas di Piala Dunia Wanita.
Pemain Arsenal Wanita Beth Mead mengaami cedera saat pertandingan melawan Manchester United Emirates Stadium, Inggris, pada 19 November 2022. Foto: Andrew Boyers/REUTERS
Survei FIFPro menyebut 86 persen pemain memiliki waktu pemulihan kurang dari dua minggu. Setelah itu, mereka harus bergabung kembali dengan klubnya masing-masing.
"Banyak (pemain) yang berharap musim panas segera tiba karena itu adalah musim pembebasan untuk tubuh dan pikiran kita. Tapi ternyata tidak," tulis Ada Hegerberg di The Guardian.
"Ada banyak penyebab cedera yang berbeda-berda, namun jika kita adalah pemain yang bekerja terlalu keras, tidak diberi waktu istirahat dan pemulihan yang cukup, dan tidak diberi persiapan yang sesuai dengan tuntutan yang diberikan kepada pemain secara fisik dan mentalnya, maka risiko terhadap kesehatan pemain akan meningkat secara eksponensial," kritik Ada Hegerberg soal jadwal padat yang tak ramah bagi pesepak bola wanita.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT