Inovasi yang Tak Disengaja, Inilah Awal Mula Terciptanya Teh Celup

Budaya minum teh telah lama melekat di kalangan masyarakat, bahkan sebelum memasuki abad Masehi. Kemunculan minuman teh sendiri dimulai di China, dan menjadi minuman favorit para raja di zaman kekaisaran Negeri Tirai Bambu tersebut. Hingga akhirnya, teh mulai merambah ke negara lain seperti Tibet, India, bahkan Eropa.
Jejak penyebaran teh ini tak lain dan tak bukan adalah berkat para pedagang China yang melanglang buana ke berbagai belahan dunia. Selain itu, pada zaman dinasti Tang di tahun 618 - 907 Masehi, popularitas minuman teh di China semakin meroket. Saking identiknya, kala itu teh bahkan dikenal sebagai minuman nasional di China.
Tentu saja membicarakan seluk beluk dari minuman teh tak bisa lepas dari perkembangan tradisi menyesapnya. Ya, dari waktu ke waktu, cara untuk menikmati teh menjadi semakin beragam. Sekarang ini, teh celuplah yang menjadi andalan untuk menikmati secangkir teh nikmat nan praktis, meski masih banyak juga yang lebih memilih untuk menyeduh teh langsung dari daunnya.
Kepraktisan teh celup memang menjadi kelebihannya. Kita tak perlu lagi repot-repot menyaring seduhan daun teh terlebih dahulu. Cukup dengan mencampurnya bersama gula dan air panas, lalu diamkan selama beberapa saat, secangkir teh nikmat sudah siap disesap.
Bahkan waktu seduhannya sangatlah singkat, hanya butuh sekitar satu hingga dua menit saja.

Meski terlihat sangat inovatif dan modern, ternyata kantong teh celup ini sudah ada sejak satu abad lebih, lho. Menariknya, penemuan tersebut dilakukan tanpa adanya kesengajaan. Ya, menurut The Spruce Eats, teh celup pertama kali ditemukan pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1908.
Penemunya adalah seorang importir teh asal New York bernama Thomas Sullivan. Sebagai pebisnis, Sullivan kerap mengirimkan sampel daun teh kepada para pelanggannya yang dikemas dalam kaleng besi. Suatu hari, untuk memangkas biaya, ia mengganti kemasan kaleng tersebut dengan kantong kain sutra berukuran kecil.
Alih-alih menerima banyak protes, para pelanggannya justru lebih tertarik dan menyukai desain baru tersebut, karena mereka bisa langsung menyeduh teh pesanan mereka. Namun ketertarikan dengan teh celup kreasi Sullivan ini tak disadari hingga akhirnya salah satu klien pentingnya protes karena pesanan teh yang mereka beli tidak dibungkus di dalam kantong.
Akhirnya, karena harga kain sutera yang mahal (dan sepertinya memang terlalu berharga bila hanya digunakan untuk menyeduh teh), Sullivan pun menggantinya dengan kain kasa yang dibentuk layaknya kantong untuk menjual daun teh produksinya tersebut.

Selain kisah Thomas Sullivan dan teh celupnya tersebut, terdapat pula versi lain dari awal mula terciptanya teh celup. Menurut versi yang dikutip dari Time ini, produk teh celup sudah dipatenkan oleh dua orang bernama Roberta C. Lawson dan Mary Molaren dari Milwaukee. Teh celup ini didaftarkan dengan nama 'tempat daun teh'. Desain kantongnya pun hampir sama seperti buatan Sullivan, yakni sejenis kain jala yang memiliki banyak jaring.
Penggunaan kain jala tersebut juga dilakukan agar daun teh dapat menyerap air untuk diseduh.
Terlepas dari kisah mana yang benar, nyatanya penemuan kantong teh celup tersebut memberikan kemudahan yang begitu besar. Dalam satu penemuan sederhana ini, mereka mampu menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni bagaimana menyajikan minuman teh secara lebih praktis, serta bagaimana cara menyeduh teh tanpa harus repot-repot membersihkan teko yang kotor setelahnya.
