Kumparan Logo

Lembaga Transportasi London Larang Tayangan Iklan Makanan Cepat Saji

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makanan cepat saji Foto: Shutterstock

Larangan iklan makanan cepat saji yang disebarkan oleh Transport for London, telah berkontribusi pada penurunan 1.000 kalori dalam pembelian makanan tidak sehat itu setiap minggunya.

Mengutip The Guardian, efek terbesar terlihat pada tingkat konsumsi cokelat dan gula-gula dengan penurunan hampir 20 persen atau 317,9 kalori. Hal ini terlihat dalam rata-rata pembelian energi mingguan rumah tangga dari produk-produk ini.

Penurunannya mencapai sekitar 385 kalori per orang dalam satu minggu. Dalam penelitian, hal ini setara dengan setiap orang London yang membeli sekitar 1,5 batang cokelat susu dengan ukuran standar lebih sedikit setiap minggunya.

Para peneliti yang dipimpin oleh London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), membandingkan hampir dua juta pembelian bahan makanan mingguan untuk produk-produk tinggi lemak, garam, dan gula (HFSS) oleh rumah tangga di London dan bagian utara Inggris antara Juni 2018 dan Desember 2019.

Para peneliti menemukan bahwa kebijakan tersebut berkaitan dengan perkiraan penurunan 1.001 kalori (6,7 persen), dalam rata-rata pembelian mingguan rumah tangga dari produk HFSS tersebut, dibandingkan dengan apa yang akan terjadi tanpa kebijakan larangan iklan tersebut.

Ilustrasi makanan cepat saji Foto: dok.shutterstock

Dr Amy Yau, dari LSHTM mengatakan, “Banyak pemerintah dan otoritas lokal sedang mempertimbangkan pembatasan iklan untuk mengurangi konsumsi produk HFSS sebagai bagian dari strategi pencegahan obesitas.”

Namun, bukti efektivitas kebijakan tersebut, terutama yang jauh dari media penyiaran, sangatlah langka. “Studi kami membantu menutup kesenjangan pengetahuan itu, menunjukkan bahwa kebijakan TfL adalah tujuan potensial bagi para pembuat keputusan yang bertujuan untuk mengurangi penyakit terkait diet secara lebih luas.”

Tim juga menemukan beberapa indikasi terbatas, bahwa efek larangan lebih besar pada rumah tangga dengan individu yang mengalami obesitas. Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, "Saya senang melihat dampak positif dari langkah-langkah inovatif ini, yang mengarah pada pengurangan nyata dalam jumlah pembelian junk food."

Ilustrasi mengonsumsi junk food. Foto: Shutter Stock

Menurut laporan, Inggris merupakan salah satu negara di Eropa dengan tingkat obesitas tinggi. Dua dari tiga orang dewasa di sana mengalami kelebihan berat badan atau obesitas; dan United Kingdom National Health Service (NHS) menggelontorkan biaya 6 miliar Poundsterling atau kurang lebih setara Rp 117 triliun untuk mengobati penyakit tersebut.

Rencananya, pada Desember 2022 pemerintah Inggris juga akan melarang iklan berbayar online yang menayangkan makanan dan minuman tidak sehat. Ditambah pembatasan baru tentang promosi makanan dan minuman tidak sehat pada gerai ritel dan online.

Kendati demikian, pemerintah Inggris juga pesimis apabila tindakan besar tak segera diambil untuk mengatasi masalah obesitas ini. Sehingga mereka masih membutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak lainnya.

Penulis: Ade Naura Intania