Mengapa Orang Punya Selera Makan yang Berbeda-beda?

"Aduh, yang ini makanannya terlalu manis. Kalau yang ini kepedasan."
Pernahkah kamu bertanya, mengapa kita punya selera makan yang berbeda-beda? Padahal, kita sama-sama punya indera pengecap, menghirup udara yang sama, dan tinggal dalam satu rumah, misalnya.
Mengutip BBC, rupanya perbedaan selera makan ini diakibatkan oleh jumlah papila pada lidah manusia yang juga berbeda-beda. Papila adalah titik-titik pada lidah yang berfungsi sebagai reseptor rasa.
Rasa sendiri terbagi menjadi lima; yakni asam, asin, manis, pahit, dan umami (gurih). Jumlah papila yang berbeda pada setiap lidah, membuat kita memiliki reaksi yang berbeda pula terhadap suatu rasa. Meski sajian yang kita makan sama, tapi bisa jadi tak satu selera.
Tipe lidah pencicip pun terbagi dua; yakni supertaster dan subtaster. Supertaster adalah seseorang yang memiliki lidah super sensitif. Ia dapat dengan mudah mengenali berbagai rasa, misalnya asam atau pahit.
Sebaliknya, subtaster memiliki lidah yang tak terlalu sensitif terhadap suatu rasa. Biasanya ia sensitif terhadap rasa pedas. Sehingga, ketika menikmati makanan yang mengandung sedikit cabai saja sudah banjir keringat dan tak nafsu makan.
Nah, jika kamu tertarik menguji seberapa sensitif lidahmu, ada kok cara mudahnya. Coba saja oleskan sedikit pewarna makanan biru pada lidahmu. Jika warna lidahmu tak lantas membiru, maka artinya kamu punya jumlah papila yang banyak. Dengan kata lain, kamu termasuk supertaster, begitupun sebaliknya.
Selera makan yang berbeda-beda, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik. Misalnya, pada seseorang yang tak suka dengan sayuran, bisa disebabkan karena bawaan gen. Para ilmuwan di Amerika Serikat menemukan, orang tersebut mewarisi dua salinan 'gen rasa tidak enak,' sehingga selera indera perasanya sangat sensitif terhadap rasa sayuran.
Beda selera makan dipicu dari selera ibu
Alasan lain perbedaan selera makan ini juga bisa dipicu oleh kebiasaan makan seorang ibu hamil, lho. Pasalnya, selama di dalam rahim bayi cenderung makan yang sama dengan apa yang dimakan sang ibu.
Rasa dari makanan itu akan melewati cairan ketuban ke dalam rahim, dan juga melalui ASI setelah lahir. Itulah yang memengaruhi seberapa banyak daftar rasa makanan yang akhirnya teringat dalam memori otak kita.
Dalam penelitian lain, Dana Small seorang profesor psikiatri dan psikologi di Universitas Yale Amerika, mengatakan ketika dewasa kita pun dapat menilai sendiri mana rasa yang bisa diterima dan mana yang tidak.
"Ketika Anda menelan sesuatu, semua hormon ini dilepaskan. Glukosa darah Anda berubah, Anda memiliki semua efek metabolisme yang sangat penting untuk mengubah representasi rasa otak. Jika Anda merasakan rasa baru dan mengalami efek post-ingestive positif, maka pada saat Anda menelan rasa itu, Anda akan menerimanya dengan lebih baik, sehingga akan lebih mungkin untuk makan atau minum dalam porsi lebih banyak," tutupnya.
