Kumparan Logo

Cholil ERK Bawa Kisah Mambesak ke Madani Film Festival 2026

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sebagai Co-Programmer di Madani International Film Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sebagai Co-Programmer di Madani International Film Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Madani International Film Festival 2026 memasuki penyelenggaraan ke-9 dengan mengangkat tema “Rimpang”. Tahun ini, festival tersebut tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga memperluas program lewat diskusi, pertunjukan, workshop, hingga kolaborasi dengan berbagai komunitas.

Salah satu kolaborasi yang menarik datang dari Efek Rumah Kaca (ERK). Band yang digawangi Cholil Mahmud itu terlibat sebagai co-programmer dalam rangkaian program Rimpang.

Bagi Cholil, keterlibatan ERK di Madani menjadi pengalaman baru. Ia menyebut ini sebagai pertama kalinya mereka diajak terlibat dalam proses kurasi sebuah festival film.

Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca sebagai Co-Programmer di Madani International Film Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

“Sebenarnya ini pertama kali kami diajak oleh siapa pun untuk menjadi kurator film festival. Jadi sebuah kehormatan bagi kami, bagi Efek Rumah Kaca untuk bisa terlibat di Madani Fest kali ini,” ujar Cholil saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Kolaborasi tersebut juga terasa relevan karena tema Madani tahun ini memiliki kesamaan dengan album keempat ERK, Rimpang, yang dirilis pada 2023.

Dalam proses menyusun program, Cholil bersama ERK mencoba melihat berbagai bentuk kreativitas warga, terutama karya dan gerakan yang lahir dari upaya untuk bertahan hidup serta mencari cara baru untuk terus berkarya.

“Kami mencoba melihat ulang apa-apa saja gejala, upaya, geliatan warga dalam melakukan sesuatu hal yang berujung pada upaya bertahan hidup warga, perlawanan untuk bisa survive, perlawanan untuk bisa mengembangkan penemuan-penemuan baru bagi karya-karya mereka sendiri,” tambahnya.

Menurut Cholil, berbagai upaya tersebut seperti rimpang yang tumbuh dan menjalar. Meski berangkat dari gerakan-gerakan kecil, ia melihat ada kemungkinan untuk saling terhubung dan membentuk sesuatu yang lebih besar.

Cholil ERK Membawa Kisah Mambesak dari Papua

Salah satu program yang dipilih ERK adalah pemutaran film Muman Minggil, yang mengangkat kisah Mambesak, kolektif musik asal Papua yang tumbuh pada era 1980-an.

Mambesak dikenal sebagai kelompok yang berupaya menjaga bahasa daerah dan lagu-lagu Papua tetap hidup. Para anggotanya berasal dari berbagai daerah di Papua dan kemudian berkumpul untuk merekam lagu-lagu mereka serta menyebarkannya melalui radio.

Vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, hadir dalam acara panggung terbuka Seni Lawan Tirani-Jaga Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin (1/9/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Bagi Cholil, kisah tersebut menarik karena Mambesak memiliki tempat penting bagi masyarakat Papua, tetapi belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia di luar Papua.

“Sayangnya menurut kami, orang Indonesia di luar Papua kurang cukup mengenal Mambesak, bagaimana mereka begitu dicintai di Papua,” kata Cholil.

Oleh karena itu, rangkaian program tersebut juga akan menghadirkan teman-teman dari Sunrise West Papua. ERK bahkan berencana menggubah satu atau dua lagu Mambesak untuk dibawakan dalam rangkaian program pada 8 Oktober.

Dari Film Musisi hingga Musik Eksperimental

Program kolaborasi ERK dan Madani tidak berhenti pada kisah Mambesak. Pada 9 Oktober, mereka akan menghadirkan film tentang penampilan The Panturas di Sumedang yang mengangkat budaya Sunda.

Ada pula film A Distorted Individual, yang bercerita tentang musisi noise dengan obsesinya mendapatkan AMI Awards.

Karena film tersebut berkaitan dengan musik noise, program kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan para musisi. Sekitar enam musisi eksperimental akan tampil, disusul grup hip-hop eksperimental Sawah Penderitaan.

Konferensi pers Madani International Film Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Sementara pada hari terakhir, ERK menghadirkan sejumlah musisi lain, seperti Adrian Yunan, Bin Idris, dan Dialita. Ada pula pemutaran film Sekeping Kenangan yang mengangkat upaya pengarsipan lagu-lagu para tahanan politik di Bali.

Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan penampilan ERK yang akan membawakan album Rimpang secara utuh dalam special performance Madani International Film Festival.

Pada penyelenggaraan ke-9 ini, Madani menghadirkan 108 film dari 29 negara, 15 pertunjukan, 25 diskusi, dua masterclass, dan delapan workshop. Festival juga berkolaborasi dengan 22 komunitas serta tiga kampus.

Madani International Film Festival 2026 berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki, Plaza Teater Besar, dan Metropole XXI. Sementara rangkaian co-programming bersama Efek Rumah Kaca berlangsung pada 8–10 Oktober 2026.